Udkhulû Fis-Silmi Kâffah: Jalan Pulang Berbagai Krisis

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_ “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kâffah), dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”
(TQS al-Baqarah [2]: 208)
Ayat ini tidak ditujukan kepada orang yang belum beriman. Ia ditujukan kepada kita, orang-orang yang sudah beriman, yang berusaha taat semampunya. Seolah Allah sedang memanggil dengan penuh kasih sayang, “Wahai hamba-Ku, jangan setengah-setengah.”
Mungkin selama ini kita sudah berusaha menjalankan Islam dalam kehidupan pribadi. Kita shalat, berdoa, mendidik anak dengan sebaik yang kita bisa. Namun di saat yang sama, kita hidup di tengah kehidupan yang diatur oleh aturan-aturan yang jauh dari petunjuk Allah. Dan pelan-pelan, dampaknya kita rasakan dalam hidup sehari-hari.
Selama puluhan tahun negeri ini seperti tidak pernah benar-benar keluar dari masalah. Tahun demi tahun berlalu, persoalan demi persoalan datang silih berganti. Bencana alam terus berulang. Hingga tahun 2025 seolah ditutup dengan kabar banjir, longsor, dan kerusakan di berbagai daerah. Namun yang terluka bukan hanya alam. Kehidupan manusia pun ikut terasa berat.
Kerusakan itu terasa merata. Lingkungan yang rusak akibat eksploitasi berlebihan. Pendidikan yang kehilangan arah nilai. Moral yang diuji. Hukum yang sering kali terasa tidak adil. Ekonomi yang makin menekan rakyat kecil. Semua ini membuat hidup terasa sesak, seolah ada yang hilang dari cara kita menata kehidupan.
Bencana alam bukan sekadar peristiwa alam yang datang tanpa sebab. Ia sering kali merupakan akibat dari ulah manusia sendiri, ketika hutan ditebang tanpa rasa amanah, ketika alam diperas demi keuntungan segelintir orang, ketika kebijakan dibuat bukan untuk menjaga, tetapi untuk menguasai.
Allah ﷻ telah mengingatkan dengan sangat lembut:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(TQS ar-Rum: 41)
Perhatikanlah, Allah tidak berkata “agar mereka dihancurkan”, tetapi “agar mereka kembali”. Karena pada hakikatnya, semua peringatan Allah adalah bentuk kasih sayang.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan korupsi yang tak kunjung reda. Hukum yang terasa tajam kepada yang lemah, tetapi tumpul kepada yang kuat. Uang rakyat yang seharusnya menjadi penopang kesejahteraan justru berpindah ke tangan segelintir orang. Semua ini mengikis rasa keadilan dan melelahkan hati banyak orang.
Allah telah menggambarkan kondisi ini jauh hari:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
(TQS Thaha: 124)
Sempit bukan hanya soal harta, tetapi tentang kegelisahan hidup, kekacauan arah, dan hilangnya ketenangan dalam bermasyarakat.
Karena itulah Allah kembali mengingatkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Islam tidak hanya mengatur ibadah pribadi, tetapi juga mengatur bagaimana manusia memimpin, bagaimana hukum ditegakkan, bagaimana alam dijaga, dan bagaimana amanah kekuasaan dipikul dengan rasa takut kepada Allah.
Aturan Allah bukan untuk membatasi kehidupan, melainkan untuk melindunginya. Bukan untuk memberatkan manusia, tetapi untuk menjaga manusia dari kezaliman manusia lainnya, dan dari hawa nafsunya sendiri. Ketika manusia membuat hukum berdasarkan kepentingannya, benar dan salah mudah berubah. Tetapi ketika hukum Allah dijadikan pegangan, keadilan memiliki arah dan kehidupan memiliki tujuan.
Islam pernah diterapkan secara utuh, bukan sebagai dongeng, tetapi sebagai kenyataan sejarah. Rasulullah ﷺ dan generasi setelahnya menunjukkan bahwa kehidupan bisa ditata dengan adil ketika aturan Allah dijadikan dasar.
Mungkin hari ini, yang paling kita butuhkan bukan sekadar perbaikan kecil, tetapi keberanian untuk mengakui dengan jujur bahwa kita membutuhkan aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Kembali kepada-Nya bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar, bahwa tanpa petunjuk-Nya, manusia mudah tersesat.
Semoga Allah membimbing kita untuk benar-benar masuk ke dalam Islam secara kâffah, dengan hati yang tunduk dan penuh harap.
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.
