Akibat Luka Ekonomi Kapitalisme, Generasi Muda Takut Menikah

Oleh Syifa Khoerunnisa
LensaMediaNews.com, Surat Pembaca_ Akhir-akhir ini banyak sekali anak muda yang berpendapat lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Hal ini menunjukkan bahwasanya finansial sebagai prioritas utama, karena kestabilan ekonomi lebih penting daripada segera menikah. Salah satu ketakutan mereka saat sudah menikah adalah tuntutan ekonomi yang semakin besar dan akan menjadi beban bagi kehidupan mereka.
Hidup pada era kapitalisme ini menjadikan anak muda takut miskin, segala macam kebutuhan tidak terjangkau. Belum lagi biaya untuk hunian yang amat sulit didapat, sementara upah yang diterima rendah. Persaingan kerja sangat ketat dengan lapangan pekerjaan yang hanya sedikit, hal ini memberikan kecemasan akan kemiskinan yang sangat nyata.
Narasi marriage is scary memperkuat ketakutan anak muda untuk menikah, dengan adanya pengaruh media sosial yang liberal dan pendidikan yang sekuler yaitu memisahkan agama dari kehidupan menjadikan anak muda terpengaruh akan gaya hidup materialis dan hedonis, sehingga segala macam pencapaian tidak akan cukup bagi mereka. Belum lagi dengan banyaknya pemberitaan fenomena kekerasan dalam rumah tangga akibat perselingkuhan, ekonomi, gaya hidup dan lain sebagainya, yang membuat anak muda semakin setuju pada narasi marriage is scary.
Sementara itu negara pada sistem kapitalis ini cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan masyarakat, sehingga masyarakat menanggung beban hidupnya sendiri. Fakta saat ini banyak sekali anak muda yang menjadi tulang punggung keluarga sehingga mereka terfokuskan pada kewajiban tersebut daripada pernikahan yang dipandang beban bukan dipandang sebagai ladang kebaikan serta jalan melanjutkan keturunan.
Dalam sistem Islam, negara akan menjamin kebutuhan dasar rakyat karena negara bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Dimulai dari sandang, pangan, papan, pendidikan serta kesehatan. Melalui sistem ekonomi Islam, sumber daya yang ada dalam negara tidak akan sampai pada tangan asing maupun swasta tetapi akan dikelola oleh negara untuk kemaslahatan masyarakat. Salah-satunya yaitu peluang bagi luasnya lapangan pekerjaan sehingga masyarakat akan sejahtera dan mampu menekan biaya hidup.
Selain itu dalam Islam, pendidikan Islam secara kaffah yang berbasis akidah akan membentuk generasi berkarakter yang tidak akan terjebak pada kehidupan hedonis dan materialis, generasi akan memiliki iman dan takwa pada diri mereka, kehidupan yang mereka jalani akan sesuai dengan tuntunan syariat Islam sehingga akan senantiasa menjadi penyelamat bagi umat. Selain itu dalam Islam pun tentunya adanya penguatan institusi keluarga dengan mendorong pernikahan itu sebagai ibadah dan sebagai penjagaan keturunan.
Maka dari itu segala macam persoalan kehidupan hanya akan terselesaikan ketika kita memegang syariat dan kembali kepada kehidupan Islam kaffah tersebut.
