Islam Jalan Keselamatan dari Bala Dunia Akhirat

AgamaIslam-LenSaMediaNews

Oleh:Tri Sugiarti

Aktivis RAGB Bandung

 

LenSaMediaNews.Com–BNPB menyampaikan perkembangan terbaru mengenai banjir dan longsor yang melanda sejumlah daerah di Sumatera. Dalam laporan yang dikumpulkan sejak Rabu, 26 November hingga Kamis pagi 27 November,  tercatat ada 10 kabupaten/kota yang terdampak.

 

Sebagian besar berada di wilayah Aceh, sementara lainnya di Sumatera Utara. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah rawan. Ia menegaskan bahwa warga perlu segera mengevakuasi diri apabila situasi memburuk (detik.com, 27-11-2025).

 

Bencana Alam ini tak hanya terjadi di Sumatera tetapi di berbagai daerah lainnya seperti longsor di Cilacap, Jawa Tengah. Saat ini, bencana alam yang terjadi di Indonesia sudah menjadi langganan tahunan. Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu membuat warga merasa cemas apalagi warga yang berada di area yang sering tekenai banjir ketika musim penghujan tiba.

 

Telah menjadi rahasia umum, tata kelola ruang hidup dan lingkungan yang kacau menjadi penyebab terjadinya bencana alam. Tak sedikit ruang resapan air, kini dijadikan lahan pemukiman, perluasan perkebunan, serta ekploitasi pertambangan. Pembalakan bukan lagi disebut liar tapi kini menjadi legal dikarenakan tak sedikit yang dilindungi para pemangku kebijakan.

 

Tata kelola ruang ini menjadi hal penting karena berdampak hebat bagi kelangsungan hidup baik manusia maupun makhluk hidup lainnya. Jika sudah bala bencana siapa yang bertangung jawab?

 

Pemerintah sebagai penanggung jawab mengontrol tata kelola ruang hidup seolah menutup mata. Saat ini bukan lagi oknum karena akan banyak sekali yang bisa terlibat. Aturan yang dapat dipermainkan, disalahgunakan bahkan diperjualbelikan inilah sebagai bencana terbesar, pangkal dari segala masalah di bumi ini.

 

Panca indra, akal dan hati sudah terlanjur dipenuhi soal-soal keuntungan materi karena lupa akan kehidupan akhirat. Ditambah lagi, walau sudah terprediksi langganan bencana tetapi pemerintah dalam penanganannya pun telihat tidak serius dalam menyiapkan kebijakan preventif, kuratif dalam mitigasi bencana.

 

Untung rugi dalam hal mitigasi bencana tetap menjadi patokan pemangku kebijakan. Sehingga akhirnya terulang lagi, banyak yang tidak terselamatkan. Sekulerisme yang menguasai akal membuat jiwa-jiwa manusia rakus, terhasut hawa nafsu yang tak berujung karena tak terkontrol oleh petunjuk yang benar yakni Wahyu Allah Swt., pencipta manusia.

 

Islam hadir untuk menyelamatkan manusia, sebagai petunjuk yang benar karena datang dari Wahyu Sang Pencipta. Di dalam paradigma Islam, bencana memiliki dua dimensi (ruhiyah dan siyasiyah). Dimensi ruhiyah (akidah), memaknai bencana sebagai tanda kekuasaan Allah sehingga banyak hikmah atau pelajaran yang harus diambil. Dimensi siyasiyah (politik) terkait kebijakan tata kelola ruang dan mitigasi bencana.

 

Rasulullah SAW bersabda, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim). Hadis tersebut menegaskan bahwa peran penguasa dilandasi spirit pelayanan terhadap kepentingan rakyat.

 

Di sisi akidah Islam, terdapat ayat-ayat dan hadis yang memaparkan terkait bencana akibat ulah manusia, merusak alam itu dosa dan membahayakan kehidupan. Salah satu ayat tentang bencana, misalnya Q.S Ar-Rum Ayat 41 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”. Sehingga sisi kemanusiaan di dalam diri baik masyarakat maupun pemerintah senantiasa terjaga.

 

Di dalam Sistem Politik Islam, negara harus melakukan mitigasi bencana secara serius dan komprehensif dalam rangka menjaga keselamatan jiwa rakyatnya. Saat bencana terjadi, negara harus memastikan korban bencana mendapatkan bantuan yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya,  selain itu pendampingan pun akan diberikan sehingga para korban mampu menjalani kehidupannya seperti sedia kala.

 

Mitigasi bencana yang berhasil dapat terealisasi dengan asanya sistem negara dan tata kelola yang baik. Dimana pemerintahlah yang mampu melaksanakannya karena memiliki otoriras dan sumber daya.

 

Tatkala pemerintah diatur oleh investor, mitigasi bencana tidak akan sepenuhnya tercapai dan masyarakatlah yang justru menjadi korban. Merujuk pada syariat Islam, kerakusan investor akan sumber daya alam dapat dihentikan dan sumber daya sepenuhnya dikelola oleh negara untuk kemakmuran masyarakat.

 

Syariat dan Khilafah bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan mendesak bagi umat manusia hari ini. Sungguh, Islam adalah solusi seluruh problem kehidupan, sekaligus jalan keselamatan. Tidak hanya menyelamatkan mereka dari bencana di dunia, tetapi juga di akhirat. Wallahualam bissawab. [LM/ry].