Banjir Terus Berulang, Butuh Solusi Cemerlang

Oleh : Yayat Rohayati
LenSaMediaNews.com–Akhir-akhir ini berbagai bencana alam menyapa bumi tanpa mengenal waktu. Dari gempa, banjir, longsor, hingga angin putting beliung yang mengguncang dan menghancurkan pemukiman warga.
Belum reda bencana longsor di dua kota di Jawa Tengah, kini Pulau Sumatera berduka. Beberapa minggu yang lalu, warga pulau Sumatera kehilangan rumah, harta benda, keluarga dan juga harapan oleh air hujan yang berubah menjadi banjir bandang.
Di Sumatera Utara, dikabarkan sebanyak 11 kabupaten dan kota terdampak banjir bandang. Hingga kini tercatat sebanyak 222 orang korban, dengan 62 orang meninggal dunia, 95 orang luka-luka, dan 65 orang masih dalam pencarian.
Sementara itu tercatat sebanyak 12 ribu jiwa diantaranya 12 orang meninggal dunia, di Padang, Sumatera Barat. Kondisi serupa juga terjadi di Aceh. Warga Aceh yang terdampak banjir dan longsor sebanyak 97.384 orang. Wilayah yang mengalami kerusakan paling parah adalah Kabupaten Aceh Timur (detiknews.com, 28-11-2025).
Banyak korban belum terevakuasi akibat kendala komunikasi karena gangguan jaringan internet, akses jalan terputus, dan keterbatasan tim evakuasi. Sehingga distribusi bantuan pun mendesak disalurkan via laut dan udara.
Setiap memasuki musim penghujan, beberapa wilayah di negeri ini pasti dilanda banjir. Curah hujan tinggi atau cuaca ekstrem merupakan penyebab utama yang sering diutarakan. Jika melihat dari fenomena banjir yang terjadi, mungkinkah ada faktor lain yang memperparah kondisi tersebut?
Faktor itu datangnya dari tangan-tangan manusia yang diberi amanah menjaga lingkungan. Akan tetapi justru sebaliknya, mereka dengan mudah melakukan penebangan pohon di hutan-hutan secara masif dan liar. Hal ini menyebabkan beberapa fungsi dari pohon menjadi hilang, seperti; akar yang berfungi menyerap air, daun dan batang yang memperlambat jatuhnya air, dan pohon juga dapat menjaga struktur tanah.
Selain itu lemahnya mitigasi yang dilakukan negara semakin memperparah kondisi. Alih-alih menuntaskan masalah, negara malah memberikan ruang para pemilik modal untuk mengelola hutan. Alhasil, kerusakan yang terjadi.
Sebab, dalam pengelolaannya para kapital hanya memikirkan bagaimana mereka bisa mendapat keuntungan. Hal itu tidak heran terjadi dalam Sistem Kapitalisme sekuler, yang memiliki pandangan hidup, dan tolak ukur hidup, yaitu banyaknya materi. Mereka akan berusaha mencari materi sebanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan dampak yang terjadi dari perbuatan mereka.
Sebagai umat Islam kita paham bahwa air adalah Rahmat dari Allah, yang seharusnya menyuburkan tanah dan memberi ketenangan. Akan tetapi, hujan bisa berubah menjadi bencana apabila kita lalai terhadap amanah Allah, yakni tak bisa menjaga alam.
Allah SWT menegaskan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Rum : 41).
Oleh karena itu solusi problem banjir yang berulang adalah mengembalikan syariat-Nya ke tengah-tengah kehidupan. Karena, hanya dengan syariat Allah manusia akan paham kewajiban untuk menjaga amanah dan dengan IsIam pula hukuman tegas diterapkan.
Negara dalam Islam akan menjaga tata ruang lingkungan, melestarikan lingkungan, dan melindungi rakyat dari bencana, bukan tunduk pada kepentingan para korporat. Seandainya bencana tetap terjadi, negara akan mengevakuasi korban secepat mungkin. Posko kesehatan, dapur umum, pengungsian akan difasilitasi dengan layak.
Adapun pascabencana rakyat akan didampingi hingga pulih. Semua itu bukan sekadar program darurat, melainkan kewajiban negara sebagai raa’in (pengurus umat). Wallahu a’lam. [LM/ry].
