Dari Arafah Menuju Khilafah, Menyatukan Umat di Atas Syariat
Oleh: Nettyhera,
Pengamat Kebijakan Publik
LensaMediaNews.com, Opini_ Setiap tahun jutaan umat Islam dari berbagai belahan dunia memadati Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Di Padang Arafah, mereka berdiri dalam kesatuan yang luar biasa, tanpa mengenal perbedaan warna kulit, bahasa, suku, ataupun kebangsaan. Pakaian yang seragam, niat yang sama, dan tujuan yang satu menunjukkan sebuah potret keagungan Islam yang menyatukan seluruh umat di bawah naungan akidah.
Namun, pemandangan ini hanyalah sesaat. Setelah ibadah haji usai dan jamaah kembali ke negara masing-masing, realitas pahit kembali menyapa: umat Islam yang terpecah-pecah dalam sekat nasionalisme, berbenturan kepentingan politik, serta tunduk pada sistem sekuler yang menjauhkan mereka dari aturan Allah. Bahkan dalam penentuan hari raya Iduladha saja, kita kembali menyaksikan perbedaan yang memperlihatkan rapuhnya satu suara di antara kaum muslimin. Tahun ini, misalnya, perbedaan waktu wukuf dan Iduladha antara Arab Saudi, pemerintah Indonesia, dan beberapa ormas keagamaan kembali mencuat. Sungguh ironis, ketika ibadah yang semestinya menyatukan justru menampakkan perpecahan.
Kebesaran Ritual, Kerapuhan Politik
Haji adalah simbol kekuatan persatuan umat, tapi sayangnya tak memiliki kekuatan politik yang nyata dalam kehidupan umat sehari-hari. Sejatinya, haji bukan hanya ritual ibadah, tapi bagian dari sistem hidup Islam yang menyeluruh. Ketika Nabi Ibrahim as. diperintahkan untuk menyeru manusia agar menunaikan haji, seruan itu bukan sekadar panggilan spiritual, tapi panggilan peradaban. Haji menjadi titik temu umat Islam untuk menyadari siapa dirinya, dan apa tugas sucinya sebagai pengemban risalah.
Namun, hari ini umat Islam telah kehilangan pelita politik Islam yang menyatukan. Kita menyaksikan dunia Islam berada dalam keterpecahan yang dalam. Palestina masih dibantai, Kashmir di bawah penjajahan, Rohingya terlantar, Uighur dikekang, Yaman terpecah, dan banyak negeri Muslim lainnya dalam cengkeraman krisis, baik dari luar maupun dari dalam. Ironisnya, sebagian penguasa negeri Muslim justru sibuk menjalin diplomasi dengan penjajah umat, seperti Israel, yang masih membumihanguskan Gaza. Wacana normalisasi hubungan Indonesia-Israel dengan syarat “kemerdekaan Palestina” hanyalah bagian dari jebakan narasi dua negara yang didesain penjajah Barat untuk melemahkan perlawanan umat.
Sumber Masalah: Ketiadaan Institusi Pemersatu Umat
Penyebab utama kerapuhan umat Islam saat ini adalah hilangnya institusi global yang menyatukan mereka, yaitu Khilafah. Setelah keruntuhannya pada 1924, umat Islam tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara bangsa yang terpisah secara politik dan ideologi. Setiap negara muslim hari ini beroperasi dalam sistem sekuler demokrasi, yang tidak menjadikan Islam sebagai sumber hukum dan kebijakan. Akibatnya, sekalipun umat Islam menyatu secara spiritual dalam ibadah, mereka tetap tercerai secara politik dan kekuatan.
Padahal, Islam tidak memisahkan antara agama dan politik. Islam adalah ideologi sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari ibadah, sosial, ekonomi, hingga sistem pemerintahan. Sejarah mencatat, ketika Khilafah berdiri, kaum muslimin hidup dalam kekuatan dan persatuan. Seruan jihad bisa menggerakkan dunia Islam membela wilayah yang terancam. Keadilan ditegakkan dan penjajah tak pernah dibiarkan menguasai tanah kaum muslimin.
Solusi Islam: Kembali pada Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah
Persatuan umat yang sejati hanya bisa terwujud dalam institusi yang menyatukan akidah, syariah, dan kekuasaan, yaitu Khilafah. Khilafah adalah sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ setelah wafat, dan dilanjutkan oleh para khalifah seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sistem ini tidak mengenal batas nasionalisme, tetapi menyatukan umat Islam sebagai satu tubuh yang kuat.
Haji seharusnya menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran umat akan pentingnya persatuan yang hakiki. Bukan sekadar persatuan emosional saat ritual, tetapi persatuan ideologis dalam bingkai syariat. Kesatuan umat yang sejati akan terwujud ketika Islam ditegakkan secara kaffah melalui institusi Khilafah yang menjadi perisai umat, penjaga akidah, pelindung kehormatan dan penggerak jihad untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang terjajah.
Sudah saatnya umat Islam berhenti puas dengan seremonial dan simbol-simbol. Kekuatan spiritual dari Arafah harus diarahkan menuju perjuangan politik menegakkan Khilafah. Hanya dengan itulah umat Islam akan kembali mulia, berdaulat, dan disegani di dunia.
Penutup: Jangan Puas dengan Persatuan Semu
Umat ini terlalu besar untuk dikecilkan oleh sekat nasionalisme dan terlalu agung untuk terus dijajah secara ekonomi dan politik. Dari Arafah menuju Khilafah, itulah arah kebangkitan umat. Bukan dengan tunduk pada tatanan dunia sekuler, tapi dengan kembali pada jalan Rasulullah ﷺ menegakkan sistem Islam yang akan menyatukan dan mengangkat derajat umat seluruhnya.
