Depresiasi Animo Kuliah, Generasi Emas Hanyalah Ilusi

Sekolah swasta, LenSaMedia

Oleh : Ummu Rifazi, M.Si

 

LenSaMediaNews.Com–Calon mahasiswa baru (CMB) di sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) di Bogor menurun. Berdasarkan penuturan Rektor UNPAK Prof. Didik Notosudjono, dari 2.549 pendaftar, CMB yang melakukan registrasi ulang dan diterima hanya 883 orang. Beliau mencermati bahwa hanya 30 persen lulusan Sekolah Menegah Atas (SMA) di wilayah Bogor yang melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, sementara 70 persennya terkendala perekonomian keluarga ( Jawapos. com., 13-07-2025).

 

Kondisi serupa dialami Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dan hampir seluruh perguruan tinggi swasta di Jawa Barat. Tak hanya di Jawa Barat, tren serupa terjadi sekurangya di 100 PTS Yogyakarta maupun di wilayah lain di Indonesia selama beberapa tahun belakangan ini (tempo.co, 20-03- 2025).

 

Generasi Emas Mustahil Lahir dari Sistem Materialistis

 

Himpitan ekonomi sudah menjadi suatu keniscayaan dalam Sistem Kapitalisme Sekular akibat ketimpangan dan tidak meratanya distribusi lapangan kerja yang bisa diakses rakyatnya. Fakta di lapangan menunjukkan hal ini, dimana banyak sekali sarjana lulusan perguruan tinggi yang mendapatkan pekerjaan tidak sesuai dengan bidang keahlian yang diperolehnya dengan biaya tidak sedikit dan penuh perjuangan di perguruan tinggi.

 

Belakangan ini semakin banyak sarjana dan diploma yang banting setir menjadi asisten rumah tangga (ART), pengasuh anak (baby sitter), supir, satpam dan bahkan pramukantor (office boy). Rata-rata alasan mereka terpaksa melakoni pekerjaan tersebut adalah demi kelangsungan hidup di tengah minimnya lapangan kerja di sektor formal dan badai pemutusan hubungan kerja (PHK) (bbc.com, 30-04-2025).

 

Disamping itu, sistem ini pun mendorong adanya eksploitasi pekerja dengan upah kerja yang rendah, dengan tujuan menjaga agar biaya produksi tetap rendah. Laporan yang dirilis BPS pada periode Februari 2025 mengungkapkan bahwa buruh di Indonesia rata-rata mendapatkan upah Rp. 3,09 juta dan pendapatan mereka tersebut di bawah Upah Minimum Regional (UMR) (finance.detik.com, 26-06-2025).

 

Tak hanya himpitan perekonomian keluarga, paradigma materialistis dalam Sistem Kapitalisme Sekular pun mempunyai andil besar menurunkan penghargaan terhadap pendidikan tinggi. Orientasi materi menjadi landasan berpikir yang dibentuk dalam pendidikan Sistem Kapitalisme Sekular.

 

Seseorang yang sudah menyelesaikan sekolahnya difokuskan untuk bisa bekerja, agar mampu membiayai sendiri mahalnya biaya hidup dalam sistem batil materialistis ini. Biaya hidup dalam sistem batil ini memang mahal, karena segala hal dijalankan dengan konsep berbayar. Alhasil, ketimbang mengeluarkan biaya kuliah mahal dan ketidakpastian mendapatkan pekerjaan selepas kuliah, mayoritas lulusan SMA memilih untuk langsung bekerja agar bisa mendapatkan uang.

 

Sejatinya rendahnya animo melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ini merupakan ancaman serius terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.  Alih-alih Generasi Emas, generasi yang dilahirkan hanya akan menjadi manusia berorientasi materi, bodoh karena berpendidikan rendah dan niscaya bakal menjadi sasaran empuk penjajahan abadi negara Kapitalis. Pertanyaannya, sadarkah dan relakah kita berada dalam kehinaan hidup seperti ini?

 

Generasi Emas, Lahir dari Sistem Hidup Tuntunan Ilahi 

 

Sangat berbeda dengan paradigma sistem Kapitalisme sekular, Islam menempatkan ilmu dan pendidikan bukan dalam hal untuk pencapaian materi, melainkan untuk semakin mengenal Allah pemilik alam semesta. Oleh karenanya Islam mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum, sebagai jalan untuk meningkatkan derajat ketakwaan seorang hamba kepada Allah taalaa.

 

Ilmu agama adalah modal utama untuk menguatkan keimanan dan ketakwaan. Dengan bekal ilmu agama, maka ilmu pengetahuan umum dan teknologi yang dipelajari akan dimanfaatkan untuk membangun peradaban maju yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sehingga terwujud keberkahan hidup dalam keridaan Allah taalaa.

 

Tinta emas sejarah mencatat ketika kepemimpinan Islam menaungi dua pertiga dunia selama 1300 tahun lamanya, setiap muslim dengan penuh semangat berlomba-lomba untuk menempuh proses pendidikan setinggi-tingginya. Negara pun mendorong dan memfasilitasi aktivitas menuntut ilmu ini dengan penyelenggaraan pendidikan yang sangat baik sehingga melahirkan Generasi Emas yang prestasinya mendunia.

 

Semua itu hanya mampu terwujud ketika negara menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem ekonomi dan keuangan Islam. Berbagai sumber pemasukan negara yang berasal dari ghanimah, fai, kharaj, jizyah, harta kepemilikan umum maupun negara dikelola dalam kas negara (Baitul Mal) untuk membiayai pendidikan rakyat maupun berbagai keperluan rakyat lainnya. Warga muslim yang kaya pun didorong oleh negara untuk memberikan wakaf pendidikan dan berbagai riset. Wallahu alam bisshowab. [LM/ry].