New Gaza, Potret Perdamaian Ala Penjajah

Oleh : Septa Anitawati, S.I.P.
Aktivis muslimah
LenSaMediaNews.Com–Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani piagam Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Davos, Swiss, Kamis, 22 Januari 2026). Menurutnya, keterlibatan Indonesia dalam badan ini “benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza” (BBC.com,23-1-2026).
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengunggah pernyataan bersama yang menyebutkan menteri luar negeri Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab akan ikut dalam Dewan Perdamaian Trump.
Negara-negara ini mendukung “upaya perdamaian” yang dipimpin Trump, terkait gencatan senjata permanen dan rekonstruksi Gaza, serta mendorong perdamaian yang adil dan berkelanjutan berdasarkan hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan kedaulatan negara sesuai dengan hukum internasional.
Benarkah New Gaza Untuk Gaza?
Faktanya, Israel menyerukan untuk menghancurkan seluruh Gaza dan mengusir paksa warganya. Sampai saat ini, yang seharusnya gencatan senjata berarti kedua belah pihak yakni Israel dan Palestina menahan diri untuk tidak melakukan penyerangan. Namun yang terjadi tidak sesuai kesepakatan. Israel tetap melakukan penyerangan. Pihak Gaza tetap menjadi korban kesewenang-wenangan. Adilkah?
Sementara Amerika Serikat sebagai pendiri sekaligus pemimpin Dewan Keamanan. Sudah menyiapkan pembangunan New Gaza. Yang dipresentasikan oleh menantunya dalam pertemuan di Davos. Tujuan AS membentuk Dewan Perdamaian Gaza adalah, untuk mengendalikan Gaza secara total. Alih-alih untuk menjaga perdamaian. Untuk menjaga keadilan pihak Gaza apalagi, sangat jauh.
Padahal darah saudara-saudara kita di Palestina belum kering. Penindasan, pembantaian, pemerkosaan, pembunuhan, pengusiran terhadap mereka juga tak kunjung usai. Yang ditindas, Gaza Palestina. Yang dibela Amerika bersama Israel, adilkah?
New Gaza Dalam Kendali AS Dan Israel
AS dan Israel memiliki ambisi kuat untuk menguasai Gaza. Menguburkan jejak genosida dengan membangun New Gaza di atas darah para mujahid yang belum mengering. Setelah terbukti, mereka tak mampu melawan ruh jihad fi sabilillah yang mencari mati syahid. Mencari surga tanpa hisab. Yang itu tidak ada pada mereka AS dan Israel.
Mereka tak mampu melawan opini dunia yang berpihak pada Palestina. Mereka akhirnya menggunakan cara baru, penjajahan gaya baru. Untuk memperkuat posisi kendali politik internasional, AS membentuk Dewan Perdamaian Gaza (DPG) dengan merangkul negeri-negeri muslim.
Semua itu dilakukan sebagai siasat untuk menguasai dan mengendalikan Gaza secara totalitas. Tatanan peradaban baru yang menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Utamanya perlawanan dengan jihad fi sabilillah.
Gaza Palestina Tanah Permanen Milik Umat IsIam
Wilayah Gaza Palestina sejatinya tanah milik umat Islam yang dirampas oleh Zionis Israel. Pada saat Palestina, Syam sebagai bagian Negara Khilafah selalu terlindungi. Musuh-musuh Islam tak berdaya untuk merampas apalagi menindas.
Allah Swt. melarang umat Islam untuk tunduk patuh dan memberikan loyalitas pada negara kafir. Larangan ini meliputi : menjadikan mereka sebagai pemimpin yang mengatur urusan umat IsIam, menggantungkan keamanan kepada mereka, atau menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan.
Sebagaimana dalam firman Allah Swt. yang artinya ,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (TQS Al-Maidah:51).
Jihad dan Khilafah Satu-Satunya Solusi Gaza
Umat IsIam dan pemerintah dunia Islam wajib melawan semua makar AS dan Israel dalam rangka menguasai Gaza. Karena AS dan Zionis tak akan pernah rela jika kepentingannya diusik. Baik kepentingan ideologi, politik maupun ekonominya. Makanya, rancangan New Gaza yang dipresentasikan oleh menantu Trump salat dengan politik ekonomi Demokrasi Kapitalisme.
Semua itu hanya mampu dilawan dengan jihad fi sabilillah. Dan persatuan kaum muslimin sedunia di bawah naungan Khilafah. Tentunya, untuk menyolusi persoalan ini tidak bisa sendiri-sendiri. Namun harus bersama partai politik IsIam Internasional yang ideologis. Hal ini untuk mewujudkan negara Khilafah. Satu-satunya negara independen yang mampu menyatukan umat sedunia. Sekaligus selevel aple to aple dengan musuh dunia.
Harapan kita bersama, Dunia segera nyaman dalam naungan IsIam. Karena Islam Rahmatan lil’alamin. Tidak hanya untuk para pemeluknya. Namun berlaku untuk seluruh manusia bahkan seluruh alam semesta. Wallahu a’lam bissawab. [LM/ry].
