Distraksi Digital dan Aktivisme Gen Z

distraksi digital dan aktivisme generasi z

Oleh: Firdayanti Solihat (Founder Kristal Bening)

Lensamedianews.com, Opini— Setiap generasi muslim adalah pejuang. Ia mewarisi DNA pejuang dari Rasulullah saw.. Namun, gempuran peradaban hari ini membuat potensi tersebut kian tergerus dan pupus. Media sosial adalah salah satu penyebabnya.

Era digital memang tidak terelakkan. Ia adalah sebuah keniscayaan dari perubahan zaman. Kehadirannya pun banyak memberikan kemudahan bagi para penggunanya dalam berbagai sektor. Di antaranya, penyebaran informasi menjadi lebih cepat sehingga siapa pun dapat mengaksesnya, komunikasi menjadi lebih mudah, kreativitas lebih terbangun, serta berbagai dampak positif lainnya. Namun, ada hal yang tidak bisa terelakkan pula, yakni dampak negatifnya.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi, mengatakan bahwa saat ini banyak anak yang mengalami gangguan mental karena efek media sosial, entah itu karena perundungan, ajakan untuk melakukan hal-hal yang tidak benar, dan lain sebagainya (kompas.com, 2-2-2025). Dalam artikelnya, National Institute of Mental Health (5-8-2023) melaporkan bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada remaja usia 18–25 tahun, perilaku melukai diri sendiri, serta kecenderungan bunuh diri. Hal ini salah satunya disebabkan kurang dipahaminya media sosial sebagai sumber kebijaksanaan. Selain itu, penggunaan dalam jumlah besar juga mengakibatkan gangguan tidur kronis yang berdampak negatif pada kemampuan kognitif, prestasi sekolah, dan fungsi sosial-emosional.

Dikutip dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 229 juta jiwa (survei 2025). Angka ini selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang seiring sejalan dengan berbagai macam dampak yang ditimbulkan.

Gen Z sebagai generasi muda produktif saat ini banyak terlibat dalam dunia digital. Bahkan, hampir seluruh waktunya terikat dengan dunia digital. Maka, sudah sewajarnya jika Gen Z menjadi pihak yang paling besar terkena dampaknya pula. Terlebih, ia dikenal sebagai digital native karena lahir dan tumbuh di era digital. Kemampuannya dalam memanfaatkan dunia digital cukup membuat Gen Z memperlihatkan kekuatannya dalam aktivisme global. Salah satunya terjadi beberapa bulan ke belakang, ketika Gen Z mampu melakukan gerakan yang mengakomodasi massa di berbagai negara dalam aksi besar memperjuangkan hak rakyat yang tertindas. Hanya saja, gerakan ini sering kali berhenti pada tuntutan yang belum menyelesaikan masalah dari akarnya.

Perlu disadari bahwa ruang digital bukanlah ruang netral yang bebas nilai. Ruang ini didominasi oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik sebagai ideologi besar yang menaunginya. Nilai-nilai inilah yang mengatur bagaimana media sosial melakukan hegemoninya.

Gen Z sebagai generasi muda memiliki potensi besar bagi perubahan besar. Akan tetapi, potensinya sering dibajak oleh algoritma media sosial yang menawarkan sesuatu yang bersifat individual dan melemahkan akal, seperti standar kebahagiaan materialistis, budaya hedonis, serta lemahnya pembinaan akhlak yang membuat generasi menjadi rapuh.

Dalam hal ini, perlu ada upaya untuk menyelamatkan generasi dari hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik. Di antaranya dengan beberapa cara berikut.
Pertama, mengubah paradigma berpikir sekuler menjadi paradigma berpikir Islam. Hal ini dapat dilakukan dengan mengkaji Islam secara menyeluruh (kaffah).
Kedua, setelah mengkaji, generasi akan memahami arah juang yang seharusnya dilakukan. Ia akan mampu berpikir ideologis berdasarkan paradigma Islam dan tidak mudah terpengaruh oleh algoritma media sosial yang cenderung melenakan.
Ketiga, dibutuhkan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara dalam misi penyelamatan ini sekaligus mengarahkan generasi pada gerakan yang sahih.

Generasi yang memiliki potensi besar perlu dibina dengan baik agar potensinya mengarah pada hal yang benar. Islam senantiasa menjadikan pemuda sebagai bagian dari perubahan besar dalam setiap masa. Maka, jika potensi Gen Z hari ini besar, tetapi belum terarah pada sesuatu yang besar, Islam adalah solusinya.

Wallahu a‘lam bishshawab. [LM/Ah]