Getirnya Nasib Bangsa, Bencana Serasa Candaan

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
LenSaMediaNews.Com–Menutup tahun 2025 lalu, standup komedi kawakan, Pandji Pragiwaksono, yang juga aktor dan penyiar radio, tampil dalam acara komedi spesialnya yang ke-10, bertajuk “ Mens Rea” di dalamnya ia mengulas budaya hukum Indonesia dan absurditas kehidupan sehari-hari dalam satire politik stand-up (kitaindonesiasatu.com, 2-1-2026).
Kehadirannya menjadi angin segar di tengah maraknya tayangan hiburan ringan, karena membawa komedi dengan muatan reflektif dan kritis sekaligus berani menurut beberapa pihak. Tampilannya kali ini menjadi akhir dari rangkaian tournya di berbagai kota di Indonesia sepanjang 2025.
Puncaknya digelar di Indonesia Arena, Jakarta, dengan jumlah penonton yang mencapai ribuan orang. Kesuksesan tur tersebut menjadi alasan kuat Mens Rea akhirnya dirilis secara global melalui Netflix, tanpa pemotongan materi apa pun.
Semiris itu negeri ini, bencana yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah, telah sukses menjadi bahan candaan. Memang isinya kritikan pedas, karena sang aktor standup komedi tak sekadar merosting nama namun juga kegiatannya, kebijakan fatalnya hingga ekspresi wajah. Menunjukkan betapa tulinya pemerintah kita ini.
Sebelumnya beberapa influenser yang memberitakan bencana Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang belum juga ada perkembangan, terlebih setelah ada banjir susulan, secara susul menyusul pun dikirim teror. Dari mulai paket ayam mati hingga telor busuk. Dimana gerangan jargon demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat? Dan bahwa suara rakyat sangat berharga?
Ah ya, itu hanya ada dalam pemilu. Suara rakyat bak emas, baik itu yang waras maupun yang gila, yang bebas maupun yang terpenjara, semua dikatakan punya hak suara yang sama untuk memiliki pemimpin. Namun manakala pemimpin itu telah ada, satupun suara rakyat justru terabaikan? Mengapa?
Sistem Demokrasi Batil
Mau dikata apa, kita yang mayoritas beragama Islam ternyata banyak yang tepedaya dalam Sistem Demokrasi hari ini. Banyak aktifis muslim yang masih meyakini bisa merubah Demokrasi dari arah dalam, parlemen atau kabinetnya. Berapa ratus yang sudah masuk, duduk, menjabat dan berapa pula yang terbukti menjadi pesakitan KPK? Atau malah sibuk memperkaya diri sendiri? Hukum yang berlaku tetap hukum manusia, dengan beragam kepentingan meski kepala sama hitam.
Keadilan tinggal jargon, hak asasi manusia tinggal slogan apalagi persamaan kedudukan di hadapan hukum. 11 orang masyarakat adat Maba Sangaji di Halmahera Timur, Maluku Utara, menjadi bukti nyata, mereka menjadi tersangka dan bahkan telah dijatuhi vonis hukuman penjara karena menolak aktivitas tambang nikel oleh PT Position di wilayah adat mereka. Padahal yang mereka bela bukan tanah negara, tanah mereka sendiri.
Salah satu cuplikan kalimat Pandji,”…kita berharap pada siapa kalau bukan kepada diri sendiri? Kepada polisi, polisinya pembunuh. Kepada TNI ya, TNInya berpolitik. Kepada presiden, presidennya memaafkan koruptor, wapres kita..Gibran!” sungguh menohok. Tapi fakta, inilah hasil dari Sistem Demokrasi, akan senantiasa terlahir sosok pemimpin yang dungu bahkan tak peka.
Tahun baru dirayakan di berbagai tempat dengan meriah, meski imbauan tidak menyalakan kembang api beredar di beberapa kota besar tapi tak mengurungkan niat masyarakat untuk berkumpul, bercampur baur, makan-makan dan menghitung mundur jarum jam tepat di angka 12, yang menandakan tahun telah berganti. Euforia itu benar-benar menjauhkan hakikat kita memaknai bergantinya tahun.
Resolusi Terbaik 2026, Terapkan Syariat Kâfah
Islam sudah memiliki tahun baru, yaitu 1 Muharram, namun masih saja kita latah merayakan tahun barunya Kaum Pagan, penyembah matahari, dan Januari adalah kelahiran Dewa Janus, dewa Bangsa Yunani yang memiliki dua muka, di depan simbol pengharapan, dan di belakang simbol sejarah.
Tak banyak yang menjadikan resolusi hakiki 2026, selain asyik masyuk dalam kegiatan haram. Padahal, jelas masalahnya masih akan sama jika Demokrasi ini masih menjadi landasan sistem yang mengatur kehidupan bangsa dan negara. Padahal sudah jelas terpampang di depan mata, apa dampaknya. Lantas, menunggu seburuk apa kemudian kita mau berpaling pada solusi yang sebenarnya?
Allah SWT. Berfirman yang artinya, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah:50). Dikatakan hukum jahiliyah karena lahir dari kebodohan manusia,yang akalnya terbatas, sehingga tidak bisa melihat maslahat yang sebenarnya jika tanpa diberi hidayah. Ilmu Allah seluas langit dan bumi, sedangkan manusia hanyalah setetes air dari jari yang dicelupkan di air laut.
Maka, tidakkah ini masuk akal, mengapa bencana datang bertubi-tubi? Nasib bangsa kian hari kian getir, hingga bencana menjadi bahan bercanda. Semua ini menunjukkan pemerintah yang anti kritik, dan mereka pikir kekuasaan akan langgeng? Di dunia mereka gagal, apalagi di akhirat.
Untuk itu, secepatnya kita cabut keyakinan Demokrasi adalah jawaban dari semua persoalan manusia, jelas itu ilusi! Yang benar adalah bersegera menuju ampunan Allah dengan menjadi hambaNya yang taat kafah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
