Aktivasi Generasi Digital untuk Kebangkitan Islam

AktivasiGenDigital-LenSaMediaNews

Oleh: Isyana

Aktivis RAGB Bandung

 

LenSaMediaNews.Com–Di tengah derasnya arus digitalisasi, smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dari komunikasi, pencarian informasi, hingga hiburan, semuanya dapat dilakukan dengan mudah dalam genggaman.

 

Tanpa disadari, ketergantungan ini membentuk pola hidup instan. Berbagai riset menunjukkan adanya penurunan kemampuan berpikir kritis dan fungsi kognitif pada generasi muda, khususnya Gen Z ( news.umc.ac.id, 14-1-2025).

 

Sebelum internet hadir, pencarian informasi menuntut proses dan kesabaran. Untuk menemukan satu jawaban, kita perlu menelusuri berbagai sumber; seperti membuka kamus tebal hanya untuk mencari arti satu kata. Proses yang terlihat melelahkan ini sejatinya melatih otak untuk berpikir, menganalisis, dan memahami secara mendalam. Sebaliknya, konsumsi konten instan saat ini cenderung melemahkan kemampuan berpikir reflektif dan sistematis yang dikenal dengan istilah brain root.

 

Banyak orang beranggapan bahwa solusi untuk menghindari brain root cukup dengan menjadi lebih bijak dalam memilih konten (kompas.com, 28-6-2025). Namun kenyataannya, persoalan ini tidak berhenti pada kedisiplinan individu semata. Ekosistem digital hari ini dibangun di bawah payung sistem kapitalisme sekuler.

 

Algoritma dirancang bukan untuk menanamkan pemahaman, melainkan untuk mempertahankan perhatian. Viralitas lebih diutamakan daripada validitas, kecepatan lebih dihargai daripada makna, dan hiburan lebih dicari dibandingkan tsaqofah Islam. Inilah sebabnya mengapa konten remeh jauh lebih sering viral dibandingkan konten edukatif.

 

Tanpa kita sadari, generasi muda diposisikan sebagai “objek” pasar, bukan “subjek” peradaban. Alih-alih dipersiapkan sebagai pelanjut peradaban Islam, generasi muda justru dimanjakan oleh hiburan-hiburan dangkal yang tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga merusak kualitas diri.

 

Apa yang disukai, dipikirkan, bahkan tujuan hidup perlahan dikendalikan oleh tren dan algoritma. Pola konsumsi semacam ini secara perlahan menumpulkan daya kritis dan menjauhkan generasi muda dari cara berpikir Islam.

 

Padahal, potensi terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah akal. Al-Quran berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir. Namun berpikir dalam Islam bukan sekadar “open-minded” terhadap ide-ide asing. “…Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal.” (TQS. Az-Zumar:9).

 

Jika pemikiran Barat menekankan berpikir kritis semata, Islam mengajarkan berpikir secara mendalam, terarah, dan bertujuan. Tanpa arah dan tujuan yang jelas, manusia akan mudah terseret arus tren dan algoritma yang bergerak begitu cepat.

 

Islam sejatinya tidak pernah menolak teknologi. Dalam sejarah peradaban Islam, lahir banyak ilmuwan besar yang berhasil menciptakan berbagai teknologi canggih pada masanya. Keberhasilan tersebut tidak muncul secara kebetulan, melainkan didorong oleh ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk berpikir, meneliti, dan memanfaatkan ilmu demi kemaslahatan.

 

Teknologi dalam peradaban Islam lahir berkat Islam dan digunakan untuk kepentingan umat serta agama. Islam pun menetapkan batasan syariat dalam pemanfaatan teknologi agar ia tetap menjadi alat yang dikendalikan manusia, bukan sebaliknya.

 

Namun hari ini, kondisi justru berbalik: manusia yang dikendalikan oleh teknologi. Perbedaan mendasar antara masa kejayaan Islam dan kondisi saat ini terletak pada ketiadaan bingkai ideologis yang sahih. Ketika teknologi dilepas tanpa batas syariat, ia tidak lagi berfungsi sebagai alat, melainkan berubah menjadi penguasa.

 

Karena itu, generasi muda dituntut mampu mengendalikan perangkat digital untuk kepentingan Islam dan umat, bukan justru tunduk pada kendalinya. Hal ini menuntut kedewasaan berpikir, visi hidup yang jelas, serta kesadaran ideologis yang kuat.

 

Upaya tersebut tidak dapat dibebankan kepada individu semata. Diperlukan pembinaan literasi ideologis yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan: dimulai dari keluarga, diperkuat di sekolah, dan dikembangkan di tengah masyarakat.

 

Pembinaan ini akan mencapai efektivitas maksimal apabila didukung oleh peran negara melalui seperangkat aturan dan kekuasaan yang dimilikinya. Tanpa dukungan sistemik dari negara, pembinaan individu akan selalu berhadapan dengan arus besar yang sulit dilawan, termasuk arus digital yang kian masif.

 

Lebih jauh lagi, kebangkitan berpikir saja tidak cukup apabila tidak berlandaskan pada ide yang sahih. Tanpa arah ideologis yang jelas dan terorganisir, kebangkitan tersebut berisiko kembali diserap oleh sistem yang sama. Di sinilah peran partai politik Islam ideologis menjadi relevan: tidak sekadar mengajak umat untuk berpikir, tetapi juga mengarahkan perubahan secara nyata dengan Islam sebagai asas perjuangan, bukan sekadar identitas simbolik. Wallahualam bissawab. [LM/ry].