Harga Tiket Melambung, Rakyat Kian Bingung

TiketMelambung-LenSaMediaNews

Oleh: Evi Faouziah, S.Pd

Praktisi Pendidikan

 

LenSaMediaNews.Com–” Peluang bertemu keluarga terhalang harga tiket sungguh menyayat hati.”

Liburan Nataru menjadi salah satu momentum untuk bertemu keluarga selain Lebaran dan liburan anak sekolah. Namun momen ini tidak disambut baik oleh langka dan mahalnya harga tiket pesawat.

 

Kabar terbaru  untuk saat ini tiket pesawat kelas ekonomi dengan rute penerbangan Jakarta-Medan ludes terjual. Tiket yang tersisa malah harganya menembus Rp 11 Juta (Travel.detik.com, 24-12-2025). Harga yang fantastis yang diberikan oleh maskapai Garuda untuk tiket kelas bisnis. Hal Ini sangat mengejutkan masyarakat karena harga tiket diberikan 2 kali lipat dari harga normal (kompas.com,22-5-2025).

 

Hal ini dipengaruhi oleh berbagai hal seperti permintaan tiket yang tinggi ditambah terbatasnya maskapai dan kursi penumpang, disusul dengan tingginya harga bahan bakar pesawat yakni Avtur mencapai 28,30 persen, belum lagi faktor lemahnya mata uang dan sebagainya.

 

Kondisi ini menjadi peluang untuk meraup keuntungan dengan cara menaikkan harga tiket. Sehingga masyarakat mau tidak mau tetap membeli tiket dengan harga yang mahal. Begitulah Sistem Kapitalisme ini, tidak ada yang bisa dibiarkan begitu saja tanpa diambil peluang dan manfaatnya, walau masyarakat harus menderita.

 

Hal ini dikarenakan dalam Sistem Kapitalis yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat saat ini merupakan sistem yang berdiri atas pemisahan agama dari kehidupan yang menjadikan standar hidup adalah keuntungan tanpa melihat apakah masyarakat kesulitan atau tidak.

 

Negara hanya sebagai regulator kebijakan bagi para pemilik modal (kapital),  bukan pengurus urusan masyarakat. Oleh karena itu, persoalan transportasi termasuk harga tiket yang mahal ini hanya bisa diselesaikan dengan menerapkan sistem yang sahih yang akan mensejahterakan manusia yakni sistem Islam.

 

Transportasi dalam Islam

 

Dalam Sistem Islam untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik, negara akan menetapkan beberapa kebijakan yaitu satu, prinsip pengelolaan transportasi publik mengacu pada tiga poin utama, yaitu kesederhanaan aturan, kecepatan dalam pelayanan, dan individu pelaksana yang kapabel. Tiga prinsip inilah yang menjadi acuan dalam memberikan fasilitas dan layanan transportasi kepada rakyat.

 

Kedua, menyediakan transportasi umum yang aman, nyaman, murah, tepat waktu, serta memiliki fasilitas penunjang yang memadai. Aman berarti safety dan secure; nyaman maknanya bersih, tidak pengap, dan tidak berdesakan; tarif murah artinya mendepankan aspek pelayanan daripada keuntungan.

 

Ketiga, pengelolaan migas—sebagai bahan baku BBM—harus ditetapkan berdasarkan syariat Islam, yaitu kepemilikannya milik rakyat dan negara berkewajiban mengelolanya untuk dikembalikan hasilnya kepada rakyat.

 

Dengan demikian, mahalnya tiket pesawat bukan sekadar persoalan teknis atau musiman, melainkan buah dari sistem kapitalisme yang menempatkan transportasi sebagai ladang keuntungan. Solusi hakikinya hanya dapat terwujud dengan penerapan Sistem Islam yang menjadikan negara sebagai pelayan rakyat, mengelola sumber daya strategis untuk kepentingan umum, serta memastikan akses transportasi yang adil dan terjangkau bagi seluruh masyarakat. Wallahualam bissawab. [LM/ry].