Cakap Asal Para Pejabat Menyakiti Rakyat

Oleh: Nunik Soewarno
LenSaMediaNews.Com–Skandal salah kalimat di lingkungan pejabat bukan terjadi sekali dua kali tapi sangat sering. Bukan sekedar ‘slip tounge’ tapi bagi masyarakat yang mendengar justru terasa aura ketidakpekaan.
Tentu masih tinggal di ingatan ketika dengan enteng pejabat meminta masyarakat tanam cabai saat harganya mahal. Tidak kalah mengenaskan apa yang disampaikan salah seorang Menteri terkait IQ warga Indonesia yang kalah dibanding Malaysia dan Thailand, makanya pemerintah memberikan MBG.
Terkait bencana banjir di tiga propinsi Sumatra, miris ungkapan beberapa pejabat yang menyakiti hati rakyat terutama para korban. Mulai dari bencana yang disebut heboh hanya di medsos, bantuan pemerintah berupa helikopter untuk mencapai tempat terisolir yang ternyata sangat tidak memadai, listrik menyala 97 persen yang zonk dan banyak lagi.
Kasus terakhir penjelasan Bupati Bener Meriah, Tagore, terkait video warga berbondong-bondong berjalan kaki puluhan kilometer karena akses jalan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Tagore menyebut mereka adalah para pedagang. Netizen menyayangkan ungkapan Bupati sebagai tidak berempati pada warganya yang harus berjalan kaki jauh demi sembako bagi keluarganya (sijogja.com, 21-12-2025).
Dalam kondisi bencana semestinya pemerintah mengurus semua kebutuhan rakyat bukannya membiarkan mereka menanggung penderitaan sendiri. Umar bin Khattab, Amirul Mukminin memberikan teladan bagaimana seorang pemimpin dalam membuat keputusan dan bertindak. Saat terjadi kemarau panjang di Jazirah Arab. Saat itu tanah sampai menghitam dan tahun itu disebut Tahun Arang atau Tahun Abu. Upaya konkrit seperti pengadaan dan distribusi pangan juga diikuti upaya spiritual dengan memimpin shalat istisqa dilakukan oleh Amirul Mukminin.
Kenapa Pejabat Asal Cakap?
Heran dengan semua statement tersebut? Kenapa banyak pejabat bisa mengeluarkan statemen yang kadang terasa meremehkan masalah. Banyak sebab hingga keluar statemen ‘asal’ dari lisan pejabat. Bisa jadi ungkapan itu sebagai bentuk ketidakberdayaan atau bisa jadi kegagapan menghadapi permasalahan yang kemunculannya di luar ekspektasi.
Dalam sistem demokrasi seperti yang dijalankan di negeri ini, jabatan adalah tangga menuju berbagai kemudahan sehingga dikejar dengan sepenuh usaha. Butuh modal besar untuk mencapai puncak. Modal yang seringkali harus dibarter dengan berbagai privilege sebagai kompensasi, seringnya berupa peraturan, perijinan dan berbagai kemudahan lain.
Kenapa asal cakap? Bisa jadi karena jabatannya tidak didukung kemampuan. Saat ini syarat menjadi pejabat sudah tidak lagi harus memiliki kapasitas dan kapabilitas jabatan tapi lebih pada kapasitas sebagai penyangga penguasa. Rakyat berkali-kali dibuat ternganga melihat para pejabat baru yang dipilih presiden. Mulai pejabat lama yang sudah diberi tanda oleh netizen sebagai tidak paham aspirasi umat, asbun dan model influencer sampai para ketua kelompok pendukung.
Jaga Lisan Jaga Hati
Lisanmu harimaumu, adalah peribahasa yang paling tepat untuk mengingatkan agar tidak asal cakap. Bahwa lisan yang tidak dijaga bisa membahayakan minimal dari nyinyiran netizen Indonesia yang pedasnya tidak kalah dengan cabai Habanero. Sebab lisan juga menunjukkan kualitas diri, kualitas akhlak dan adab.
Berkaitan dengan lisan pejabat maka seharusnya apa yang disampaikan memberikan rasa aman, dan tenang bagi rakyat. Ketenangan hanya bisa diberikan ketika pemegang amanah tahu dan mampu menjalankan amanahnya.
Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (TQS Al-Ahzab:58). Sesungguhnya Allah sudah menunjukkan bagaimana seorang muslim bersikap sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR.Bukhari dari Abdullah bin Umar Ra).
Sungguh Islam sangat menjaga seorang mukmin terlebih bila dia mendapat amanah mengurus umat. Ketika dia meyakini diri sebagai seorang hamba yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diembannya maka dia akan berhati-hati, dia akan memantaskan diri mengemban amanahnya. Tidak perlu ada pejabat yang menghina rakyatnya karena sejatinya setiap hinaan yang keluar dari lisannya adalah bukti ketidakmampuannya mengemban amanah. Wallahu a’lam. [LM/ry].
