Hubungan Sedarah dan Krisis Moral akibat Gagalnya Penjagaan Keluarga

Hubungan sedarah dan krisis moral

Oleh Mariatul Kiftiah

(Pegiat Pena Banua)

 

 

LensaMediaNews.com, Opini _ Di tengah gemerlap modernisasi dan kemajuan teknologi, dunia justru dihadapkan pada realita yang memilukan yaitu munculnya kasus hubungan sedarah atau inses yang merusak tatanan moral masyarakat. Fenomena ini bukan sekadar penyimpangan individu, tetapi menjadi potret buram dari sistem kehidupan sekuler yang menyingkirkan peran agama sebagai penuntun moral. Ketika keluarga sebagai benteng pertama penjaga akhlak kehilangan arah dalam sistem kapitalisme yang menuhankan materi dan kebebasan tanpa batas, maka kerusakan moral seperti ini tak terelakkan. Hubungan sedarah menjadi salah satu bukti konkret runtuhnya fungsi keluarga dalam sistem sekuler yang gagal membentuk manusia beradab dan bermartabat.

 

 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mendorong pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kasus grup Facebook bernama Fantasi Sedarah yang memuat konten bermuatan eksploitasi seksual dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Sekretaris Kemen PPPA, Titi Eko Rahayu, menegaskan bahwa apabila ditemukan unsur pelanggaran hukum, maka tindakan tegas perlu diambil guna memberikan efek jera serta menjaga keamanan masyarakat. Terlebih, konten menyimpang semacam ini berpotensi memicu dampak negatif yang serius. “Jika ada bukti pelanggaran, proses hukum harus ditegakkan demi memberi efek jera dan melindungi masyarakat, khususnya anak-anak dari dampak buruk konten menyimpang,” kata Titi (news.republika.co.id, 17/05/2025).

 

 

Sebelumnya juga ditemukan berita warga Kota Medan yang digemparkan oleh kasus tragis sepasang kakak beradik yang diduga mengirim jenazah bayi hasil hubungan inses ke sebuah masjid dekat area pemakaman menggunakan jasa ojek online, dengan harapan bayi tersebut akan dikuburkan oleh warga. Kasus serupa juga terjadi di Banyumas, ketika seorang pria ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pembunuhan tujuh bayi yang merupakan hasil hubungan inses dengan anak kandungnya, yang telah berlangsung sejak tahun 2012.

 

 

Munculnya berbagai kasus inses ini sejatinya hanya tampak di permukaan seperti fenomena gunung es. Bisa jadi masih banyak kasus lain yang tak terungkap, mencerminkan betapa parahnya kerusakan sistem kehidupan yang tengah dijalani masyarakat saat ini. Kondisi ini jelas tak bisa dibiarkan terus berlangsung.

 

 

Fenomena inses yang terjadi di tengah masyarakat sungguh mencengangkan dan mengerikan. Realita ini sangat bertolak belakang dengan klaim bahwa negeri ini menjunjung tinggi nilai-nilai religius. Kejadian-kejadian bejat semacam ini mencerminkan adanya pengabaian total terhadap tuntunan agama maupun norma sosial. Masyarakat seolah hidup tanpa batasan, mengejar kepuasan pribadi tanpa peduli halal-haram, bahkan menyerupai perilaku hewan yang tak memiliki akal dan nurani.

 

 

Lebih dari itu, kondisi ini menandakan betapa rusaknya institusi keluarga dalam sistem kehidupan saat ini. Struktur keluarga yang seharusnya menjadi benteng moral dan penjaga kehormatan justru telah hancur, bahkan pada diri seorang muslim sendiri. Ini bukan sekadar kegagalan individu, tapi juga merupakan bukti nyata dari runtuhnya sistem sosial yang tidak menjadikan agama sebagai landasan utama kehidupan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kerusakan moral akan semakin dalam dan meluas.

 

 

Inilah konsekuensi nyata dari diterapkannya sistem sekuler kapitalisme. Ketika agama disingkirkan dari kehidupan, maka yang mengambil alih adalah hawa nafsu dan akal manusia yang terbatas serta mudah tersesat. Akibatnya, kerusakan demi kerusakan pun tak terhindarkan. Kapitalisme yang mempromosikan liberalisme justru telah menghancurkan fondasi kehormatan dan martabat manusia.

 

 

Ironisnya, negara yang seharusnya menjadi pelindung justru turut andil dalam merusak institusi keluarga, melalui berbagai kebijakan yang tidak berpihak pada nilai-nilai moral dan agama. Negara lalai dalam menjalankan perannya untuk menjaga dan memperkuat pondasi kehidupan keluarga, sehingga kerusakan makin meluas dan tak terbendung.

 

 

Islam merupakan satu-satunya sistem hidup yang benar dan menyeluruh, mengatur setiap aspek kehidupan manusia dan menjadikan rakyat sebagai pelaksana hukum-hukum syariat. Islam menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh dalam mengatur urusan rakyat, termasuk menjaga keutuhan keluarga serta menegakkan norma-norma keluarga dalam tatanan sosial sesuai dengan syariat Islam.

 

 

Islam dengan tegas mengharamkan hubungan inses dan mewajibkan umat untuk menjauhinya. Negara dalam sistem Islam akan mengambil langkah-langkah pencegahan yang menyeluruh, mulai dari membangun keimanan dan ketakwaan di tengah masyarakat, hingga menutup segala jalan yang bisa mengarah pada kemaksiatan semacam ini. Mekanisme amar makruf nahi munkar juga menjadi tameng kedua dalam menjaga kemuliaan manusia.

 

 

Hubungan inses secara tegas diharamkan dalam Islam. Allah SWT berfirman:
Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu; anak-anak perempuanmu; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudaramu yang perempuan…(QS. An-Nisa: 23)

 

 

Selain itu, sistem sanksi dalam Islam ditegakkan dengan tegas bukan hanya sebagai bentuk hukuman, tetapi juga sebagai pelajaran bagi masyarakat luas dan bentuk penyucian bagi pelaku. Ketika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh, kesucian institusi keluarga akan terlindungi. Media pun tidak dibiarkan bebas menyebar konten yang merusak, melainkan dikendalikan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan mencegah lahirnya perilaku yang bertentangan dengan syariat.
Wallahu A’lam Bishshawab