Islam: Kepemimpinan yang Membawa Rahmat

Oleh: Atik Hermawati
Lensamedianews.com, Opini — Saat ini, dunia tidak sedang baik-baik saja. Genosida, penjajahan, krisis kemanusiaan, kerusakan alam, dan ketidakadilan seolah menjadi berita harian yang tak lagi mengusik nurani para penguasa dunia. Tak bisa disangkal, dunia kini berada di bawah kendali Amerika Serikat dengan ideologi kapitalisme sekulernya.
Di bawah hegemoni ini, banyak negeri—terutama negeri-negeri muslim—hidup dalam kondisi lemah, terjajah, terpecah belah, dan dipaksa tunduk pada tatanan global yang penuh kezaliman. Kekayaan alam dirampas, kedaulatan dilumpuhkan, dan umat Islam didorong menjauh dari ajaran agamanya sendiri. Sekularisme dijadikan asas utama, sementara Islam dipersempit hanya menjadi urusan ibadah individu.
Ironisnya, sistem yang diagungkan sebagai pembawa “kemajuan” ini justru melahirkan kerusakan di berbagai lini kehidupan. Lalu kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan umat?
Kapitalisme Global Meniscayakan Kerusakan
Ideologi kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan manusia. Dalam sistem ini, keuntungan materi dan kekuasaan menjadi tujuan utama, sementara syariat Islam diabaikan. Akidah dilemahkan, muamalah dipenuhi riba dan penipuan, akhlak dirusak oleh budaya liberal, dan pendidikan diarahkan semata untuk kepentingan pasar, bukan pembentukan manusia yang bertakwa.
Kerusakan itu tidak berhenti pada manusia. Alam pun menjadi korban. Berbagai bencana ekologis yang melanda dunia hari ini seperti krisis iklim, pencemaran lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam yang berujung bencana, merupakan buah dari keserakahan kepemimpinan global berbasis kapitalisme. Alam diperlakukan sebagai komoditas ekonomi, bukan sebagai amanah yang harus dijaga sesuai titah Ilahi.
Penerapan kapitalisme-demokrasi telah nyata merusak kehidupan atas nama kebebasan. Allah SWT telah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Amerika Serikat sebagai agen kapitalisme global kian menunjukkan arogansinya. Serangan, ancaman, dan intervensi dilakukan ke berbagai negara demi mengamankan kepentingannya, termasuk untuk menguasai sumber daya alam. Belum lagi skema bantuan dan utang yang dijadikan alat politik untuk menancapkan hegemoni atas negeri-negeri muslim.
Islam: Mabda Kebangkitan dan Harapan Dunia
Di tengah hancurnya tatanan dunia hari ini, umat Islam sesungguhnya memiliki kekuatan besar untuk bangkit, yakni Islam sebagai mabda (ideologi). Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem kehidupan yang mengatur seluruh urusan manusia, dari akidah hingga politik, dari ibadah hingga kepemimpinan global.
Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT menegaskan:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat ini hanya akan terwujud dengan penerapan Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah. Rahmat yang menjaga manusia dan alam dari kezaliman. Khilafah hadir sebagai pelindung darah, harta, dan kehormatan manusia, tanpa membedakan agama dan suku. Semua itu telah terpatri jelas dalam sejarah peradaban Islam.
Khilafah menutup pintu penjajahan, menghentikan perampasan sumber daya, menjaga alam sebagai amanah, dan menegakkan hukum Allah yang Maha Adil dalam setiap sendi kehidupan. Inilah kepemimpinan yang dibangun di atas ketakwaan, bukan keserakahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Imam (khalifah) adalah perisai. Di belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung.” (HR. Muslim)
Dunia tidak membutuhkan sistem yang menjanjikan kemajuan namun meninggalkan kehancuran. Dunia hanya membutuhkan kepemimpinan global yang benar-benar membawa rahmat, kepemimpinan yang sahih. Dan kepemimpinan itu hanya ada dalam Islam.
Sudah saatnya umat Islam kembali menyadari jati dirinya, bangkit dengan mabda Islam, dan memperjuangkan tegaknya kepemimpinan Islam sebagai solusi hakiki atas krisis dunia hari ini. Bukan semata demi kejayaan umat, tetapi karena itulah kewajiban dari Sang Pengatur Kehidupan.
Wallāhu a‘lam bishshawāb. [LM/Ah]
