Ada Apa dengan KBC?

Oleh : Sri Ratna Puri
LenSaMediaNews.Com–Depag melakukan gebrakan. Kali ini, madrasah yang jadi sasaran. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), digadang-gadang dapat memberikan solusi degradasi di negeri ini. Khususnya terkait produk pendidikan yang dirasa semakin meresahkan.
Tawuran, mental illness, kurangnya attitude dan turunnya semangat menjaga toleransi serta pencegahan munculnya terorisme, menjadi bahan pertimbangan kemunculan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Sebaliknya, dengan KBC, membawa wajah pendidikan yang humanis antar umat beragama, inklusif tanpa merasa agamanya paling benar dan warna spiritual.
Program KBS ini telah diresmikan langsung oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di Asrama Haji Sudiang, Makasar, 24 Juli 2025. Satu kutipan dari pesan yang disampaikan oleh Menag, “Jangan sampai kita mengajarkan agama tapi tanpa sadar menanamkan benih kebencian kepada yang berbeda….”. Maka dengan KBC, menjadikan cinta sebagai inti atau landasan dari pendidikan.
Melihat dari istilah “cinta” pada progam KBC ini, seperti menawarkan gagasan yang sangat manis dan menarik. Siapa yang tidak ingin dicintai. Sesama manusia, makhluk hidup dan lingkungan alam, memerlukan cinta untuk melestarikan kehidupan. Namun, benarkah program ini akan membawa kebaikan? Mari kita telusuri.
Memang benar, kita bisa menangkap adanya komplikasi permasalahan di bidang pendidikan (dan bidang lainnya), tetapi selama ada sekularisasi, mulai dari pemisahan antara madrasah dengan sekolah umum misalnya, ditambah ajaran agama yang dikerdilkan oleh kurikulum di madrasah itu sendiri, tidakkah ini terasa masygul? Malah, atmosfer deradikalisasi tercium sangat pekat. Dan lagi-lagi, ajaran Islam yang dikambinghitamkan.
Mencurigai, membuat gaduh sampai mempersekusi saudara seiman yang berlainan organisasi, pernah terjadi. Sementara bersikap lemah lembut, menghargai, menghormati, bahkan sampai menjaga keamanan di tempat ibadah agama lain, justru dihargai sebagai bentuk toleransi. Ini yang terjadi sebelum KBC ada. Tak terbayang, setelah KBC dijalankan akan seperti apa?
Tentu kita tidak menghendaki kekacauan sistem pendidikan terus berkelanjutan. Perlu ada pembenahan. Bukan dengan KBC yang seperti menihilkan peran agama, tapi dengan adanya langkah cepat dan tegas untuk mengembalikan visi misi pendidikan pada jalur yang benar. Yakni, menciptakan produk generasi yang matang dalam keimanan juga kepribadian karena tertancapnya akidah Islam.
Perlu kita ingat, bahwa kurikulum apa pun namanya (mau CBSA, KURTILAS, Merdeka, dan kurikulum cinta atau yang lainnya), siapapun yang menggagasnya, semua adalah produk akal manusia yang terbatas dan lemah. Cenderung pada kepentingan orang atau segelintir orang, sehingga memunculkan potensi munculnya permasalahan, sebab masing-masing kepala manusia isinya tak sama.
Berbeda dengan kurikulum pendidikan dalam sistem Islam, di mana akidah Islam dijadikan dasar. Mau kapan pun dan oleh siapa pun termasuk muslim dan non muslim, pasti sesuai. Karena akidah Islam berasal dari Zat Pencipta alam semesta beserta isinya, yang tahu kekurangan dan kelebihan makhluk yang diciptakan-Nya.
Dari sini, maka kehadiran negara yang menjadikan akidah Islam sebagai asas pendidikan dan asas di bidang-bidang kehidupan lainnya, sangat diperlukan. Karena selain sebuah kewajiban, akidah Islam akan melahirkan produk pendidikan yang kuat dan tahan banting, ketika menjalani halangan dan rintangan di masa depan.
Selain itu, keberhasilan visi misi pendidikan berbasis akidah Islam didapatkan di dunia, juga selepasnya berupa pahala dan surga. Ini yang kira harapkan. Jangan sampai tertinggal oleh bangsa-bangsa lain, seperti Jepang yang lebih islami, sementara umat Islam alergi dengan ajaran agamanya sendiri. Wallahualam. [LM/ry].
