Labirin Gelap Gen Z Menuju Resistensi

Oleh: Nur Saleha, S.Pd
(Pemerhati Kebijakan Publik)
Opini_LenSa Media News_Dunia gencar meniupkan optimisme masa depan pada Generasi Z. Di atas kertas, jutaan pemuda produktif ini diposisikan sebagai roda utama kemajuan peradaban. Namun, realitasnya roda tersebut tengah retak akibat epidemi senyap yang menyerang mental mereka. Lonjakan depresi dan kecemasan akut di kalangan pemuda bukan lagi jeritan sunyi, melainkan sirene bahaya bagi masa depan. Meskipun ada figur muda kritis seperti Tio dan Fatimah yang memberi harapan, bayang-bayang depresi massal terus mengintai generasi mereka. Potret kritis yang menolak tunduk pada tekanan sistemik ini sejalan dengan maraknya gelombang perlawanan mahasiswa di berbagai kampus.(Kompas.com, 22-05-2026).
Masih adakah Harapan bagi Gen Z dalam Perubahan Negeri?
Data menunjukkan gangguan kesehatan mental masif mendominasi usia produktif. Kegagalan mengelola ekspektasi hidup ini mengancam membalikkan bonus demografi menjadi malapetaka. Pemicu utamanya bukan sekadar genetik, melainkan paparan gaya hidup digital yang menuntut kesempurnaan semu dan hilangnya kompas hidup esensial di tengah modernisasi. (data.goodstats.id, 27-06-2026).
Bedah Kritis Krisis Mental
Rapuhnya mental Gen Z lahir dari rusaknya tata pergaulan sosial dan standar kemasyarakatan. Peradaban modern memuja kebebasan berekspresi tanpa batas moral. Lewat media digital, pencapaian materi, popularitas, dan hedonisme dipamerkan sebagai indikator kesuksesan hidup.
Dampaknya adalah lingkungan permisif yang memaksa tiap individu berkompetisi melampaui batas demi pengakuan semu. Tatkala pemuda tumbang karena kelelahan, masyarakat justru menghakimi mereka sebagai “generasi stroberi” tanpa upaya sistemik menghentikan racun pemikiran yang merusak logika mereka. Akar masalah ini tidak lain adalah sistem sekular-kapitalistik, sebuah ideologi yang mendepak aturan agama dari negara. Ketika materi dijadikan tuhan baru, ketenangan batin dikorbankan demi ekonomi.
Kebijakan otoritas menangani krisis ini selalu pragmatis di wilayah hilir, seperti menambah psikolog atau menyediakan nomor darurat bunuh diri. Langkah tersebut baik untuk mengobati gejala, tetapi sia-sia selama lingkaran setan kapitalisme yang memproduksi stres tetap dibiarkan. Ibarat mengepel lantai basah akibat atap bocor, tanpa pernah mau mengganti genting yang hancur.
Rekonstruksi Hakiki Masa Depan Emas
Peradaban ini membutuhkan jangkar penyelamat dari Allah Swt. Gen Z memiliki modal besar untuk mengubah keadaan, namun kapasitas mereka dieksploitasi oleh oligarki kapitalisme. Islam mampu mengarahkan potensi tersebut, terlebih mulai muncul gelombang perlawanan di kalangan mereka. Umat membutuhkan solusi fundamental dan visioner. Islam bukan sekadar pelipur lara spiritual, melainkan tatanan ideologi paripurna. Lewat implementasi syariat secara kaffah, Islam mempunyai mekanisme memuliakan manusia dan proteksi akal pikiran mereka (hifzhul ‘aql).
Islam memotong problematika kesehatan mental langsung dari hulu kehidupan lewat tiga pilar:
Pertama, menanamkan fondasi akidah kokoh sejak dini melalui sistem pendidikan keimanan. Ini melahirkan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) yang paham tujuan hidupnya, yaitu meraih rida Allah, sehingga tidak mudah goyah oleh standar materi.
Kedua, negara bertindak sebagai pemelihara rakyat (ri’ayah) dengan memblokir konten media yang memicu depresi, pornografi, dan budaya liberal.
Ketiga, sistem ekonomi Islam berkeadilan dijalankan untuk menggaransi kebutuhan pokok, menyediakan lapangan kerja, serta akses pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas. Beban hidup yang memicu stres ekonomi akan dieliminasi total.
Khatimah
Masa depan peradaban tidak ditentukan kuantitas pemuda produktif, melainkan kekuatan akidah, mentalitas, dan spiritual mereka. Menyelamatkan Gen Z dari jerat depresi tidak akan menemui titik terang selama tatanan sosial sekuler yang memuja kebebasan tetap dipelihara. Saatnya umat menanggalkan hukum buatan manusia yang cacat dan kembali pada syariat dari langit. Hanya dalam naungan sistem Islam yang bersih, potensi besar anak muda dapat diarahkan menjadi energi perubahan demi melahirkan kembali peradaban yang gemilang.
Allahu’lam Bishawab.
(LM/Sn)
