Lilitan Utang Hari Raya, Rakyat Kian Sengsara

PayLater-LenSaMediaNews

Oleh: Yuke Octavianty

Forum Literasi Muslimah Bogor

 

LenSaMediaNews.com–Keadaan ekonomi semakin tidak bisa diharapkan. Bahkan kondisinya jauh lebih buruk daripada tahun-tahun sebelumnya.

 

Tingginya Utang, Pertanda Besarnya Beban

OJK (Otoritas Jasa Keuangan) memproyeksikan pinjaman online, multifinance, dan transaksi gadai terus meningkat sepanjang Ramadan dan Idul Fitri. Meningkatnya kebutuhan rakyat tidak sebanding dengan pemasukan yang ada. Masyarakat pun mencari alternatif “pemasukan” lain melalui utang dan pinjaman keuangan. Terlebih saat ini, begitu banyak platform non perbankan yang menawarkan pinjaman dengan persyaratan yang mudah.

 

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman menuturkan, periode ini menjadi momentum untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan di berbagai sektor jasa keuangan non-bank (kompas.com, 9-3-2026).

 

Agusman juga menyampaikan bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum meningkatkan penyaluran pembiayaan bersamaan dengan meningkatnya biaya pemenuhan kebutuhan rakyat dan meningkatnya kebutuhan modal UMKM. Pada Ramadan dan Idul Fitri tahun ini pun, utang pinjol masyarakat mencapai angka Rp 98,54 Trilyun, tumbuh 25,54 persen (kompas.com, 4-3-2026).

 

Utang keluarga terus naik karena daya tahan ekonomi yang terus melemah. Sementara itu, harga barang kebutuhan rumah tangga juga terus naik, biaya mobilitas bertambah, adanya tekanan kurs dalam ekonomi global dan bantuan pemerintah yang masih belum tepat sasaran. Belum lagi, gaya hidup yang terus “mempromosikan” standar kekinian yang terus diimpikan sebagian besar masyarakat. Faktor-faktor ini menjadi pemicu tingginya utang masyarakat.

 

Kapitalisasi momen Ramadan dan hari raya telah melahirkan beban sosial sekaligus beban ekonomi bagi sebagian besar keluarga. Baju baru, hidangan mahal dan gaya hidup serba “wah”, semakin membebani kehidupan masyarakat.

 

Di tengah rapuhnya daya beli keluarga, era digitalisasi menawarkan solusi palsu yang semakin menekan ekonomi keluarga. Alih-alih membantu keuangan, pinjol dan instrumennya telah membuka jurang ekonomi yang semakin membahayakan keluarga. Perputaran roda ekonomi rakyat justru difasilitasi utang di tengah anjloknya pertumbuhan upah.

 

Sejatinya, keadaan ini semakin merusak ekonomi rakyat. Karena beban rakyat kian berat. Tak hanya itu, kondisi demikian juga semakin memberikan harapan palsu pada ekonomi keluarga. Segalanya digantungkan pada utang ribawi yang terus diandalkan untuk memenuhi kebutuhan harian dan lifestyle masyarakat. Inilah strategi yang keliru ala sistem rusak. Sistem yang menyandarkan kehidupan pada keuntungan materi dan melalaikan aturan agama dalam penerapannya.

 

Solusi Islam

Keluarga membutuhkan sistem ekonomi yang mampu menyangga kebutuhan keluarga. Tak hanya itu, sistem ini juga harus mampu melahirkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat tanpa mengorbankan kepentingan umat. Bukan sekedar narasi ekonomi inklusif yang hanya menyajikan solusi parsial. Sistem ekonomi yang stabil mutlak dibutuhkan. Mulai dari nilai mata uang, kestabilan harga barang hingga paradigma yang benar tentang kebutuhan dan keinginan.

 

Secara fitrahnya, manusia membutuhkan sistem ekonomi yang kuat dan mampu menyediakan pekerjaan layak bukan pekerjaan yang memfasilitasi utang. Satu-satunya harapan hanya pada sistem ekonomi Islam. Satu-satunya sistem ekonomi yang mampu sejalan dengan sistem politik Islam. Sistem ekonomi ini juga menjadi satu sistem yang mampu melepaskan belenggu ketergantungan negara dari globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Hanya dengannya pula, sistem ekonomi Islam menjadi sistem yang mampu mensejahterahkan seluruh lapisan masyarakat.

 

Terpenting, sistem ekonomi Islam merupakan satu-satunya sistem yang mampu menempatkan Ramadan dan Idul Fitri sebagai sarana meneguhkan iman dan takwa demi kehidupan pribadi, masyarakat dan negara yang lebih kuat, tangguh dan berdaulat. Hanya dengannya pula, pemahaman umat mampu diedukasi dan diarahkan sehingga melahirkan ketaatan yang utuh pada syariat Islam yang menyeluruh. Wallahu alam bisshawwab. [LM/ry].