Listrik Kebutuhan Penting Warga

Listrik

Oleh Nur illah Kiftiah Khaerani

(Guru di Bandung)

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Di tengah pembangunan energi di Kabupaten Bandung, masih terdapat sekitar 3.000 kepala keluarga (KK) yang belum tersentuh aliran listrik hingga pertengahan 2025. Warga di sejumlah desa terpencil terpaksa hidup dalam gelap gulita, mengandalkan penerangan seadanya di malam hari. Menurut Bupati Bandung, Dadang Supriatna, keterbatasan akses infrastruktur dan wilayah yang sulit dijangkau menjadi tantangan utama. “Bahwa situasi ini ironis mengingat Kabupaten Bandung memiliki potensi energi baru terbarukan, seperti panas bumi dan tenaga surya, yang terus dikembangkan,” ujar dia, Jumat (4/7). Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Bandung menggandeng PT Geo Dipa dan mendorong program keadilan energi melalui pemanfaatan dana CSR dan bonus panas bumi.

Selain itu, pihaknya juga berkomitmen mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya di desa-desa. (Radar Bandung, 4 Juli 2025)

 

Aliran Listrik Belum Merata

Melihat fakta di atas Listrik ternyata belum bisa dinikmati oleh setiap warga, khusus nya di Kabupaten Bandung yang wilayah desanya tertinggal sehingga dapat dipastikan rumah-rumah masyarakat di daerah tersebut tidak dapat merasakan aliran listrik. Permasalahan ini harusnya negara hadir di tengah-tengah umat, untuk menyediakan sarana terkait dengan pengadaan listrik di setiap wilayah negeri ini. Tidak ada perbedaan antara masyarakat yang hidup di pedesaan atau kota, karena memenuhi kebutuhan hidup umat adalah kewajiban bagi penguasa.

 

Namun sayang di saat masyarakat butuh akan aliran listrik, negara malah disibukkan dengan hal yang lain yang justru tidak jauh lebih penting dari pada mengalirkan listrik di setiap rumah warga. Padahal pengadaan listrik sesuatu yang harus disegerakan karena merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat yang harus dijamin negara.

 

Abainya Penguasa, Pengadaan Listrik

Listrik saat ini sangat dibutuhkan oleh seluruh warga termasuk di pedesaan. Namun hal ini sulit di dapat oleh masyarakat, akibat abainya penguasa dalam mengurusi urusan umat. Ini terjadi karena kapitalisme sekuler masih dijadikan asas dalam mengatur urusan umat. Sehingga penyediaannya dilakukan oleh korporasi yang menyebabkan harga listrik menjadi mahal. Negara lepas tangan menjamin pemenuhan kebutuhan yang penting bagi rakyatnya. Bahkan negara memalak rakyat melalui tata kelola listrik yang kapitalistik ini.

 

Solusi Islam, Pengadaan Listrik

Dalam Islam, listrik adalah milik umum yang harus dikelola oleh negara dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk listrik gratis atau harganya murah serta mudah dijangkau. Dengan adanya potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, maka negara tidak boleh ragu-ragu untuk menyalurkan dana dalam rangka membangun pangkalan listrik di wilayah-wilayah yang belum teralirkan listrik.

 

Islam menjelaskan bahwa pengelolaan listrik tidak boleh diserahkan pada perorangan atau swasta dalam hal ini asing. Negara bertanggung jawab memastikan setiap individu masyarakat terpenuhi kebutuhan listriknya, dengan harga listrik murah bahkan gratis. Dalam mengelola layanan listrik ini, negara menyediakan sarana prasarana terbaik sehingga memudahkan rakyat dalam mengaksesnya.

 

Segala bentuk pembiayaan atas hal tersebut diambil dari Baitul Mal negara yang merupakan kas pemasukan negara. Oleh karena itu hanya Islamlah yang mampu menjamin seluruh hajat hidup manusia termasuk kebutuhan listrik.
Wallahu’alam bi shawab.