Makna Isra’ Mikraj : Tegakkan Spiritual dan Politik

Oleh : Punky Purboyowati, S. S
LenSaMediaNews.Com–Umat Islam di seluruh dunia memperingati momen bersejarah yaitu Isra Mikraj. Isra Mikraj jatuh pada Jumat, 16 januari 2026 atau bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriyah. Isra Mikraj bukan sekedar sejarah namun menggali pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Isra Mikraj mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan duniawi dan ukhrawi serta mampu hadapi tantangan di era modern (liputan6.com,10-10-2026).
Makna Spiritual dan Politik
Sejarah Isra Mikraj merupakan perjalanan Rasulullah saw dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerussalem. Kemudian berlanjut hingga ke langit tujuh dan sidratul muntaha. Perjalanan itu dilaksanakan saat malam dan berakhir sebelum terbit fajar yaitu pada malam 27 Rajab Nabi Muhammad sudah kembali lagi ke Mekkah.
Perjalanan itu menempuh waktu sekitar 1.239 kilometer hanya dalam hitungan jam menggunakan Buraq. Dalam peristiwa itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya untuk menunaikan salat lima waktu dalam sehari. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain aku. Maka sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku”. (TQS Thaha:14).
Perintah salat lima waktu merupakan pesan inti spiritual dalam Isra Mikraj yaitu untuk menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Perintah secara langsung disampaikan pada Rasulullah saw di Sidratul Muntaha. Shalat memiliki kedudukan tinggi sebab pondasi dasar tegaknya kepribadian manusia yang bertakwa mampu memikul amanah besar sebagai Khalifah fil ardh.
Rasulullah saw, mengabarkan bahwa salat merupakan amal pertama yang dihisab sebab menjadi pembeda iman dan kafir. Salat akan melahirkan sifat jujur, amanah, dan adil terutama bagi pemimpin Islam dalam menegakkan aturan.
Begitu besarnya keutamaan salat sehingga berpengaruh pada kehidupan sehari – hari termasuk berpolitik. Politik (siyasah) dalam Islam adalah mengurusi urusan umat. Tanpa ketakwaan dan keimanan, politik tak akan mampu dijalankan hingga shalat benar- benar ditegakkan.
Rasulullah saw sebagai kunci teladan nyata dalam hal kepemimpinan. Nabi saw. dibaiat pada Baiat Aqobah ke II dengan menegakkan Negara Islam kala beliau hijrah ke Madinah. Hal itu sebagai tanda adanya perubahan politik ideologis yang beliau pimpin. Dicetuskan piagam Madinah yang berisikan tentang pengaturan hubungan sosial dan politik di bawah kepemimpinan beliau.
Pesan Ideologis
Kini kondisi umat Islam telah jauh berbeda. Pasca runtuhnya Khilafah selama 105 tahun umat Islam tak lagi menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kafah di seluruh penjuru bumi. Padahal tidak diterapkannya hukum dari langit termasuk penentangan terhadap hukum Allah SWT. Kenyataan bahwa Sistem Demokrasi sekuler yang diterapkan hingga kini mengakibatkan umat jauh dari hukum Allah. Umat tidak menyadari bahwa ditinggalkannya hukum Allah mendatangkan bencana baik politik, ekonomi, sosial, dan berbagai musibah alam.
Terlebih lagi dengan runtuhnya Khilafah selama 105 tahun yang lalu merupakan bencana besar bagi umat. Setelah itu sistem pemerintahan tergantikan Demokrasi dan dunia mengalami penderitaan dibawah kepemimpinan kapitalisme global. Sayangnya umat masih belum menyadari bahwa penderitaan umat saat ini oleh karena Al-Quran tak dijadikan pedoman hidup. Shalat hanya sekedar ukhrawi semata namun tidak menghubungkannya dengan urusan duniawi yang dapat mencegah korupsi, riba, dan kemaksiatan lainnya.
Maka hal ini menjadi pesan ideologis bahwa Isra Mikraj adalah momen penerapan hukum Allah secara kafah. Tanpa hukum Allah, Islam menjadi bahan bullying orang kafir sebagaimana di negeri Palestina. Palestina merupakan tempat perjalanan Isra Mikraj yang harusnyq dibebaskan.
Pun negeri muslim yang terpecah dalam lingkaran nasionalisme harus disatukan. Kezaliman penguasa kafir pada muslim Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina, Afrika, dan lainnya harus dihentikan agar tidak dijadikan santapan orang kafir.
Untuk menghentikannya harus ada langkah nyata yaitu menyerukan pada para penguasa muslim serta tentaranya membebaskan Palestina dan menegakkan negara yang dapat membebaskannya yaitu Khilafah Islamiyah.
Sebab tegaknya Khilafah Islamiyah akan mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia sebagaimana umat Islam pada masa Sholahudin Al Ayubi, cucu Al Fatih, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, yang telah mengorbankan nyawa mengembalikan kemuliaan Islam.
Disamping keharusan sebuah kelompok partai Islam ideologis yang berjuang menegakkan Khilafah, memimpin dan membimbing umat agar dapat melanjutkan kehidupan Islam secara kafah. Membebaskan dari segala bentuk penjajahan ideologi kufur. Sehingga umat mampu menjalankan kehidupannya sesuai pedoman Al-Quran dan sunnah Rasul-Nya. Isra Mikraj akan bermakna baik secara spiritual maupun politik. Wallahu a’lam bisshowab. [LM/ry].
