Marak Siswa Hina Guru : Imbas Pendidikan Sekuler

Oleh : Punky Purboyowati, S. S
LenSaMediaNews.com–Pendidikan hari ini kian meresahkan. Betapa tidak, marak perilaku siswa berani hina guru. Seringkali guru menegur, siswa siap-siap pasang badan untuk melawan. Guru pun tak kuasa menahan amarah. Satu sisi tindakan guru dianggap benar namun di sisi lain guru dianggap kurang memberi teladan. Sungguh ironis, namun inilah yang terjadi dalam dunia pendidikan hari ini.
Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi bernama Agus Saputra mengalami adu jotos dengan siswanya. Berawal dari teguran siswa yang tidak sopan saat guru mengajar. Sementara menurut siswa, Agus sering berbicara kasar dan menghina siswa dan orang tuanya dengan ucapan bodoh dan miskin. Belakangan diketahui perkataan Agus menyulut amarah sejumlah siswa hingga adu jotos terjadi (detik.com, 17-01-2026).
Buah Sekularisme
Kasus antar guru dan murid tak kunjung reda. Ada saja penyebab kemunculannya bahkan pada perkara sepele yang berujung balas dendam. Hal ini memicu ketegangan dan rasa takut manakala mengajar. Tak ada ruang yang aman bagi guru dan murid. Semua mengalami dilema yang tak berujung meskipun kasus di tempat lain telah reda namun memungkinkan terjadi kembali di sekolah lainnya.
Kenyataan, tak ada gading yang tak retak. Guru tak ada yang sempurna. Namun miris, hari ini posisi guru seperti buruh, gaji minim, sementara beban tugas menuntut sempurna, tekanan dan bahkan ancaman pemindahan kerja. Mengalami kebijakan tak manusiawi.
Sementara itu murid dikejar sempurna mendapatkan nilai ujian, peringkat bahkan kelulusan dan tuntutan dunia kerja menjadi target. Namun sayangnya pembentukan karakter dan adab hanya sebatas slogan yang tak sesuai dengan arah pendidikan.Semua itu imbas dari akidah sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang menjadi dasar tegaknya sistem pendidikan hari ini.
Pendidikan dikomersilkan sementara adab tak menjadi bagian serius. Pembayaran pendidikan menjadi layanan nomor satu, istilah ingin pendidikan bagus harus dengan biaya mahal. Sebaliknya jika tidak menggunakan biaya, pendidikan ala kadarnya. Alhasil sekolah dan siswa seperti jual beli jasa. Tidak jelasnya visi misi pendidikan mengakibatkan guru kehilangan wibawa moral dan murid kehilangan rasa hormat.
Sistem seperti ini jelas tak manusiawi. Pendidikan sekadar capaian materi yang mengakibatkan hilangnya empati dan rasa hormat pada guru. Kasus konflik kekerasan antar guru dan murid bukanlah sekadar persoalan individu, emosi sesaat, atau lemahnya pengawasan sekolah. Namun problem serius yang mencerminkan buramnya dunia pendidikan yang berasaskan Sekulerisme. Dunia Pendidikan telah kehilangan spirit, rasa hormat dan sifat keteladanan. Sekularisme mejauhkan dari nilai-nilai agama.
Selamatkan Dengan Akidah Islam
Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw. bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dalam hal pendidikan Beliau menanamkan akidah sebagai landasan berfikir dan pelaksanaan tujuan hidup. Islam menempatkan adab sebagai bagian terpenting dalam membangun pondasi pendidikan.
Perkataan Imam Malik “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu”. Hal itu bukan sekedar nasehat moral namun menjadi prinsip pendidikan Islam. Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan dan kerusakan. Ungkapan Imam Malik menjadi cermin dalam dunia pendidikan. Namun sayangnya dalam sistem pendidikan sekuler hari ini, ungkapan tersebut hanya teori, tak mampu dipraktekkan.
Betapa mulianya amanah sebagai guru sehingga jasanya tetap dikenang dan pahala ilmunya terus mengalir sampai akhir hayat. Seorang guru tidak diperkenankan mendidik atau mendisiplinkan murid dengan cara kekerasan fisik dengan alasan apapun. Sebab hal itu akan mencederai profesi dan amanah yang dipikulnya. Murid dididik untuk memuliakan guru sementara guru wajib mendidik dengan kasih sayang bukan hinaan.
Guru harus memiliki syakhsiyah Islam (kepribadian Islam) yang tinggi disamping menguasai karakter siswa. Keberhasilannya dilihat dari kemampuan membentuk siswa yang bersyakhsyah Islam. Guru merupakan orang tua kedua sekaligus figur teladan bukan sekadar pengajar atau transfer ilmu semata. Lebih dari itu, harapan bagi terbentuknya generasi masa depan yang mampu berkontribusi bagi umat dan agamanya.
Oleh karena itu dibutuhkan peran penguasa (Khalifah) untuk hadir dan memastikan kurikulum berbasis akidah Islam. Berkewajiban memenuhi kebutuhan sistem pendidikan khususnya menyeleksi guru yang mumpuni di bidangnya dan memiliki syakhsiyah Islam yang tinggi. Negara pun wajib memenuhi kebutuhan dasar guru sehingga mereka lebih fokus mengajar, tidak terburu oleh pemenuhan ekonomi keluarganya. Hal itu akan mampu dijalani oleh negara yang serius mengurus dan mensejahterakan rakyatnya dengan aturan Islam kaffah. Wallahu a’lam bisshowab. [LM/ry].
