Mengawal Akal Bangsa di Tengah Ledakan Video Pendek

Mengawal akal bangsa_20260111_220322_0000

Perkembangan video pendek seperti TikTok dan Reels telah menjelma menjadi konsumsi utama masyarakat lintas usia. Tayangan berdurasi singkat, cepat, dan berulang ini bukan sekadar hiburan, melainkan fenomena serius yang menyentuh kualitas akal generasi bangsa. Pola konsumsi semacam ini mendorong penurunan fokus, lemahnya daya tahan konsentrasi, serta kemalasan berpikir mendalam, yang populer disebut sebagai brain rot. Dampaknya paling nyata dirasakan oleh anak dan remaja, meskipun orang dewasa tidak sepenuhnya kebal.

Dokter spesialis bedah saraf, dr. Dimas Rahman Setiawan, Sp.BS, menjelaskan bahwa anak lebih rentan mengalami gangguan fokus karena kemampuan pengendalian atensi belum berkembang secara sempurna. Kondisi ini menjadi alarm bagi negara, sebab generasi muda merupakan fondasi masa depan kepemimpinan dan keberlanjutan peradaban (detikNews, Jumat, 12 Desember 2025).

Berbagai kajian menunjukkan adanya penurunan kemampuan berpikir kritis generasi muda seiring meningkatnya paparan konten instan. Jika dibiarkan, negara berisiko menghadapi generasi yang reaktif, mudah teralihkan, dan miskin kedalaman nalar. Persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari cara kerja algoritma media sosial yang mengejar durasi tontonan dan keuntungan ekonomi. Dalam sistem kapitalisme sekuler, kecepatan dan sensasi kerap lebih diutamakan daripada nilai kebenaran dan kualitas ilmu. Akibatnya, generasi muda cenderung diposisikan sebagai pasar, bukan sebagai subjek pembangun peradaban. Dalam situasi ini, negara tidak boleh bersikap netral.

Langkah negara harus melampaui sekadar imbauan moral. Regulasi digital perlu diarahkan untuk melindungi fungsi kognitif masyarakat, khususnya anak, melalui pembatasan konten adiktif dan penegasan tanggung jawab platform. Selain itu, sistem pendidikan wajib menanamkan literasi digital kritis, bukan sekadar kecakapan teknis. Anak perlu dibimbing agar mampu berpikir mendalam, sabar, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

Menurut pandangan Islam dalam naungan syariah dan khilafah, teknologi bukanlah ancaman, melainkan sarana yang harus diarahkan sesuai tuntunan syariat. Negara memiliki peran strategis untuk memastikan pembinaan tsaqafah Islam berjalan secara terpadu di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pembinaan ideologis yang benar akan melahirkan generasi yang mampu mengendalikan teknologi. Negara juga perlu bersinergi dengan masyarakat dan lembaga dakwah untuk membangun ekosistem konten yang mencerdaskan.

Pembiaran hanya akan mempercepat kerusakan akal dan krisis kepemimpinan berpikir. Kebangkitan generasi digital tidak lahir dari viralitas sesaat, melainkan dari arah ideologis yang jelas. Di sinilah peran negara menjadi penentu dalam menjaga akal bangsa sebagai aset strategis peradaban dan masa depan umat. Tanpa langkah tegas hari ini, kerugian jangka panjang tidak terelakkan.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

 

Isnawati

(Muslimah Penulis Peradaban)

 

 

[LM/nr]