Momentum Bersejarah Perdamaian Dunia ala Penjajah

Oleh: Iky Damayanti, ST.
LenSaMediaNews.com–Pada Kamis, 22 Januari 2026, Presiden Indonesia Prabowo resmi menandatangani bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang diketuai langsung oleh Donald Trump.
Prabowo mengatakan ini adalah momentum bersejarah, kesempatan emas untuk berkontribusi pada perdamaian Gaza. Menurutnya, penderitaan Gaza mulai berkurang, uluran kemanusiaan telah deras masuk ke Gaza perkembangan semakin positif untuk Gaza (setkab.go.id, 22-01-2026).
Salah satu syarat bergabung dalam BoP adalah membayar US$ 1 miliar atau hampir Rp17 Triliun, angka yang fantastis ini akan dikeluarkan dari APBN, begitu kata Menteri keuangan Purbaya. Sedangkan Menteri Luar Negeri, Sugiono, mengatakan iuran tersebut diperuntukkan rekonstruksi Gaza (CNBC Indonesia.com, 29-01-2026).
Pembentukan BoP menuai banyak pro-kontra, bahkan Malaysia dan sebagian negara Eropa enggan bergabung. Banyak dari mereka menilai pembentukan BoP akan mengkerdilkan keamanan PBB. Penolakan tegas juga datang dari negara Prancis, Inggris, Spanyol hingga Jerman, mereka mengkritik BoP dianggap merusak tatanan multilateralisme menjadi unilateral dimana kekuasaan tunggal hak veto pada AS saja (netizen.harianaceh.co.id, 07-02-2026).
Sayangnya, di tengah keraguan negera besar Eropa, Indonesia beserta 16 ormas Islam dalam negeri justru mendukung penuh Perdamaian Gaza versi Trump. Padahal MUI awalnya menolak bergabungnya Indonesia dalam BoP, namun setelah pertemuan yang diselenggarakan Prabowo seluruh organisasi Islam yang hadir menyetujui keputusan presiden (sindonews.com, 07-02-2026).
Sungguh miris! ulama hadir menyokong penderitaan Gaza. Padahal sudah sangat nyata BoP sejak awal tidak hadir untuk mendamaikan Gaza. Dari mulai keikutsertaan PM Israel Netanyahu kedalam BoP, sampai “New Gaza” yang memboyong para kapitalis untuk membangun Real estate ala Trump di Gaza. Maka bisa kita pahami arah perubahan Gaza untuk bisnis AS, bukan bagi Gaza atau rakyat Palestina.
Ditambah BoP yang bersifat unilateral, hanya bermaksud menjadikan kekuasaan tunggal AS atas seluruh dunia. Pergeseran arah rules based order (tatanan berbasis aturan), pada power based order (tatanan berbasis kekuatan). Kita bisa lihat sebelum ada BoP saja AS sering mengancam dunia dengan kenaikan tarif yang sesuka hatinya. Juga kekuatan militer yang digunakan bukan untuk mendamaikan namun untuk mengintervensi negeri yang tidak ingin tunduk pada aturannya.
Bisa dibayangkan setelah kekuasaan penuh di tangan AS dan otomatis menjadi wasit global, cengkraman hegemoninya pada dunia akan semakin kuat. Dan korban jiwa terbesar adalah negeri kaum muslimin terutama Gaza. New Gaza akan mengusir penduduk asli dan menjadikan Trump dan para kapitalis menguasai penuh tanah kharajiyah. Ini jelas bukan mendamaikan justru mendukung kolonialisme gaya baru.
Sudah tampak jelas adidaya sekuler kapitalis tidak akan pernah mengizinkan negeri yang dibawah kekuasaannya merdeka secara utuh. Bendera negerinya boleh berkibar, tetapi kebijakannya diawasi, pemerintahan dan militernya di intervensi, tidak ada kedaulatan pada negerinya. Maka tidak akan mungkin terwujud perdamaian negeri-negeri kaum muslimin ini.
Sungguh, sebagai kaum muslimin kita harus cerdas membaca geopolitik dunia. Ulama seharusnya menjadi rujukan bagi umat, bukan pembenaran bagi penguasa khianat Setiap hari darah kaum muslimin tumpah, penderitaan umat juga semakin menyeluruh. BoP justru ditujukan untuk menghancurkan Palestina. Keberadaan negara-negara muslim (termasuk Indonesia) hanya menjadi pelengkap legitimasi.
Menyerahkan kekuasaan tunggal pada Sistem Sahih.
Kaum muslimin terkhusus Palestina tidak butuh BoP, namun butuh kemerdekaan hakiki dimana Israel hengkang dari tanah Khairiyah itu. Dan seperti yang kita pahami mereka hanya bisa diusir dengan bahasa Jihad fi Sabilillah dalam komando Khalifah. Kepemimpinan Islam memang bersifat tunggal namun sistem yang digunakan adalah rules based order. Dimana rules berasal dari Sang Mudabbir Allah SWT.
Negeri-negeri Islam tidak boleh bergabung pada setiap agenda penjajah AS dan Zionis israel. Kekuatan adidaya AS hanya bisa dihadapi dengan kekuatan besar negara Islam. Sebagaimana sejarah mencatat Rasulullah tidak pernah menempuh jalan damai pada Kafir harbi fi’lan. Jihad jalan satu-satunya memerdekakan umat dari penguasa kufur. Sebagaimana Daulah Islam melumpuhkan Persia dan Romawi.
Sebagaimana firman Allah yang artinya,”.. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.” (TQS. Al-Baqarah : 191).
Sistem Islam pernah berada di fase golden age pada tahun 700 M, ketika syariat Islam diterapkan secara utuh. Maka yang tercipta adalah tatanan dunia yang Rahmatan Lil ‘alamin. Asas pembangunan negara Islam adalah kemaslahatan umat bukan bisnis kapital. Kebangkitan ekonomi juga keniscayaan karena pengolahan Sumber daya oleh negara secara mandiri. Umat Islam hanya butuh Daulah Khilafah Islamiyyah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
