Murka Alam Sumatra

Oleh : Nurjihaan
Aktivis Muslimah
LenSaMediaNews.Com–Pepatah Minang mengatakan “Alam takambang jadi guru”, bermakna bahwa peristiwa di alam ini merupakan suatu pelajaran bagi manusia. Dari alamlah ilmu-ilmu dapat berkembang melalui penelitian. Hutan, laut, pegunungan, sungai menjadi penyeimbang kehidupan makhluk hidup di muka bumi.
Seiring berkembangnya zaman, teknologi semakin canggih, namun tidak menjadikan manusia itu semakin cerdas, melainkan kebodohan yang lahir akibat hawa nafsu yang tak tertahankan. Demi kekayaan segelintir orang, negara rela membabat habis hutannya, mencemari sungainya, merusak alamnya tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
Seperti yang telah kita ketahui saat ini, telah terjadi banjir bandang di 3 provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Curah hujan yang tinggi tidak mampu lagi diresap oleh hutan yang ada. Tentunya hal ini menjadi sorotan masyarakat, terlebih banyaknya gelondongan kayu yang ikut hanyut oleh banjir bandang.
Gus Irawan, Bupati Tapanuli Selatan membongkar adanya izin penebangan hutan sebulan sebelum kejadian banjir. Gus Irawan juga mempertanyakan alasan Ditjen Pengelolaan Hutan Lestari kembali memberi izin operasi penebangan hutan.” Berapa PNBP yang diterima, sehingga kemudian perusahaan ini kembali diberi izin operasi? Ada apa ini?”, ucap Gus Irawan kesal.
Warga juga mengatakan bahwa asal kayu gelondongan banjir bandang Batangtoru diduga dari sebuah desa di Tapanuli Tengah. Ada aktivitas penebangan hutan di sana. Kayu-kayu yang layak akan diambil, sedangkan yang tidak sengaja dibiarkan (tribunnews.com, 2-12-2025).
Hal ini membuktikan bahwa bencana banjir bandang tidak hanya terjadi karna faktor hujan, tetapi juga daya tampung wilayah yang telah dirusak oleh orang-orang yang maruk. Banyak lahan yang digunduli demi menanam kelapa sawit yang tidak mampu meresap air hujan.
Walaupun kelapa sawit juga sebuah pohon, tentunya berbeda dengan pohon-pohon yang ada di hutan, yang sudah puluhan tahun berdiri menyerap air hujan. Alhasil hewan-hewan kehilangan habitatnya, bahkan sekarang manusia juga ikut merasakan akibatnya.
Dikutip dari cnnindonesia.com tanggal 1 Desember 2025, data korban bencana Sumatera yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), hingga Sumatera Barat (Sumbar) per pukul 17.00 WIB, Senin (1/12): Korban jiwa 604 orang, korban hilang 464 orang, korban luka 2.600 orang, warga terdampak 1,5 juta orang, jumlah pengungsi 570 ribu orang.
Data BNPB juga menyampaikan sebanyak 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rumah rusak sedang, 20.500 rumah rusak ringan. Kemudian, 271 jembatan rusak hingga 282 fasilitas pendidikan rusak.
Setelah apa yang terjadi, pemerintah masih belum menetapkan status bencana ini menjadi bencana nasional. Sudah 3 provinsi yang terdampak, jumlah korban jiwa terus bertambah, dan banyak juga daerah yang terisolasi hingga kelaparan.
Padahal bencana ini terjadi tidak lepas dari campur tangan sang penguasa. Merekalah yang membuat kebijakan seperti pemberian hak konsesi lahan, izin perusahaan sawit, izin tambang terbuka, tambang untuk ormas, pembukaan hutan besar-besaran yang digantikan dengan kebun sawit dan lainnya.
Penguasa dan pengusaha bahu-membahu memupuk kekayaan masing-masing, menikmati hasil hutannya. Sedangkan hewan-hewan dan rakyatlah yang menanggung bencananya. Seolah-olah alam telah menunjukkan murkanya. Menjadi sebuah peringatan bagi manusia yang masih punya akal sehat.
Hal ini juga harus menjadi muhasabah diri, bahwa ketika hukum Allah tidak digunakan dalam pengelolaan lingkungan, maka yang ada hanya kezaliman. Seperti firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 45, yang artinya “Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
Berbeda dengan sistem Islam, negara akan menjadikan Al-Quran sebagai undang-undangnya. Sehingga penguasa sadar betul akan perintah Allah dalam Surat Al-Qasas ayat 77 yang artinya,“…Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“.
Sebagai wujud keimanan, pemimpin akan menjaga lingkungan dan melestarikannya dengan pengelolaan yang benar. Mitigasi bencana akan dilakukan semaksimal mungkin. Jika terjadi bencana pun, pemimpin dalam sistem Islam akan bergerak cepat menangani becana. Karena ia memikul beban berat di hari penghisaban nanti. Surga nerakanya sangat ditentukan oleh kesejahteraan rakyatnya.
Seperti kisah Sang khalifah Umar bin Khattab yang menangis ketika seekor keledai terjatuh di jalan berlubang di Baghdad. Ia takut kelak akan menjadi urusan yang akan ditanyai Allah di akhirat kelak.
Betapa rindunya umat dengan sosok pemimpin dalam sistem Islam yang akan menjaga rakyatnya dan memerhatikan seluruh makhluk hidup yang tinggal di negaranya. Sehingga bencana alampun tidak lagi memakan banyak korban jiwa. Wallahu a’lam bisshowab. [LM/ry].
