Nasib Palestina, Siapa yang Peduli?

Lensamedianews.com, Surat Pembaca —Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan rentetan serangan Isra3l di wilayah Palestina pada hari Kamis (8/1) waktu setempat menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk lima anak-anak. Serangan terbaru ini terjadi di tengah gencatan senjata yang telah menghentikan sebagian besar pertempuran.
Penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Isra3l tetap eksis. Gencatan senjata pernah memberikan sedikit harapan dan kegembiraan kepada rakyat Palestina dan kaum muslimin secara keseluruhan. Ternyata, kegembiraan tersebut hanyalah semu.
Isra3l kembali membuat ulah dan melanggar perjanjian. Ini bukan pelanggaran yang pertama dilakukan Isra3l. Isra3l melakukan pengusiran, pembantaian, atau penawanan warga sipil. Hal ini sudah dilakukan berpuluh tahun lamanya dan disaksikan oleh seluruh dunia. Dunia menyaksikan kejahatan mereka, tetapi sampai detik ini belum ada solusi tuntas dan sanksi tegas kepada Israel agar menghentikan serangannya.
Membiarkan Isra3l tetap eksis sama saja dengan membiarkan penderitaan rakyat Palestina selamanya. Apa yang terjadi di Palestina bukan sekadar ancaman dan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan biasa. Mengutuk dan memohon kebaikan Israel untuk membuka bantuan kemanusiaan tentu saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan permasalahan Palestina. Kita tidak bisa mengharapkan belas kasihan Israel karena pengalaman telah membuktikan kejahatan yang mereka lakukan.
Mengharapkan belas kasihan Isra3l untuk menyelesaikan permasalahan Palestina tentu bukan solusi bagi Palestina. Sungguh suatu pengkhianatan bagi saudara kita di Palestina jika penguasa negeri-negeri kaum Muslimin terus membiarkan kondisi ini terjadi. Solusi satu-satunya untuk Palestina adalah pembebasan negeri mereka dari cengkeraman Zionis Isra3l. Hal ini hanya akan terlaksana dengan kesadaran kaum muslimin untuk bangkit dan bersatu dalam sebuah kekuatan besar sehingga mampu menyelamatkan dan membebaskan Palestina.
Dengan jumlah kaum muslimin yang banyak dan kekuatan yang tidak bisa diremehkan, seharusnya kita memiliki lebih dari sekadar kata-kata untuk menolong atau membebaskan mereka. Namun, hal itu tidak akan terjadi ketika kaum muslimin masih terbelenggu dalam sistem kapitalisme dan sekularisme. Kapitalisme menjadikan dasar perbuatan pada untung dan rugi, bukan bersandar kepada keimanan dan perintah Allah Swt..
Wallahu ‘alam bishshawab. [LM/Ah]
Sarmiwati, S.Pd.
