Nyaah ka Indung: Cinta yang Terbingkai Wahyu

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Opini_ Di setiap jengkal langkah kita, ada cinta yang tak pernah letih memayungi. Ibu atau indung, adalah sosok yang mengajarkan makna kesabaran, kelembutan, dan pengorbanan; manajer hebat yang bukan lulusan perguruan tinggi; pendidik yang bukan lulusan sekolah guru.
Maka, ketika Pemerintah Daerah Jawa Barat menggulirkan program “Nyaah ka Indung“, banyak hati yang tersentuh. Ada kerinduan kolektif untuk kembali memuliakan ibu, merawat para lansia, dan mengembalikan budaya hormat yang mungkin mulai memudar. Namun lebih dari itu, ada pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan: dari mana semestinya cinta itu bersumber?
Cinta kepada ibu bukan hanya tradisi lokal. Ia adalah fitrah manusia, yang dijaga dan ditumbuhkan oleh wahyu dari Allah. Dalam Islam, ibu dimuliakan sedemikian rupa hingga disebut tiga kali lebih utama untuk dipatuhi dibanding ayah.
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR Al-Bukhari)
Perintah berbuat baik kepada orang tua bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari penghambaan kepada Allah. Salah satu firman-Nya tentang berbuat baik kepada kedua orangtua adalah Qur’an surat Al-Isra ayat 24:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
Artinya: Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”
Maka, ketika cinta kepada ibu dijadikan kebijakan publik, semestinya kita bertanya: ada apa denga sistem kehidupan kita saat ini? Apakah ada wahyu sebagai porosnya?
Bayangkan bila cinta kepada ibu bukan sekadar program tahunan atau jargon pembangunan, tapi menjadi bagian dari struktur hidup yang lahir dari iman. Dalam tatanan yang demikian, anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa berbakti kepada ibu adalah bagian dari jalan menuju surga. Masyarakat menjaga para lansia bukan karena program atau belas kasihan, tapi karena dorongan keimanan, rasa tanggungjawab menjalani hidup sesuai tujuan penciptaan.
Negara pun hadir bukan sekadar sebagai penyelenggara anggaran, tetapi sebagai pelindung kemuliaan umat. Ia menciptakan sistem jaminan hidup bagi lansia yang tak lagi punya keluarga, tanpa menyingkirkan mereka ke sudut sunyi bernama panti. Jika wahyu menjadi sebuah sistem hidup, maka lansia akan berada dalam kemuliaan.
Sistem Kapitalistik: Ketika Lansia Menjadi Angka
Sayangnya, kita hidup dalam sistem yang tidak berangkat dari wahyu, melainkan dari nilai-nilai kapitalistik. Segalanya dinilai dari manfaat ekonomi, efisiensi anggaran, dan pertumbuhan produk domestik. Maka meski program-program untuk lansia tampak populis dan meriah, akar masalahnya tidak pernah benar-benar tersentuh.
Lansia dilihat sebagai beban anggaran, jauh dari gambaran pintu surga dunia. Rumah jompo makin penuh, kesepian menjadi epidemi, dan di banyak tempat, kematian dalam sunyi menjadi penutup usia mereka. Bukan karena anak tak sayang, tetapi karena sistem tidak mendidik mereka untuk hidup dengan nilai birrul walidain.
Ini bukan soal menyalahkan siapa pun. Para pengelola program mungkin telah bekerja keras. Para anak pun belum tentu durhaka. Tapi jika sistem yang menopang kehidupan tidak dibangun di atas wahyu, maka hasilnya pun tidak akan mampu memuliakan manusia sebagaimana Allah kehendaki.
Sistem Islam: Saat Ibu dan Lansia Dijaga oleh Negara dan Masyarakat
Sejarah mencatat, dalam sistem Islam, para lansia yang tidak mampu dibiayai keluarganya akan dijamin kebutuhannya oleh baitul mal. Khalifah Umar ra. berkeliling memastikan tidak ada yang kelaparan, termasuk para orang tua. Umar bin Abdul Aziz menyiapkan tunjangan rutin untuk janda dan manula. Masyarakat diajari untuk memuliakan ibu dan ayah bukan hanya karena adat, tapi karena itu bagian dari iman. Dalam Islam, Nyaah ka Indung bukan sekadar program daerah, tapi bagian dari sistem hidup yang terintegrasi yang membuat surga benar-benar terasa di telapak kaki ibu.
Saatnya kita bertanya, sistem hidup apa yang kita inginkan? Hari ini kita menyaksikan begitu banyak ibu terlantar, lansia kesepian, dan cinta yang memudar، maka bukan cukup hanya mengulang slogan “sayangi ibu”. Kita harus bertanya lebih dalam:
“Apakah sistem hidup yang kita jalani benar-benar menjaga ibu, atau hanya menjadikannya tema seremonial?”
“Apakah kita siap kembali kepada sistem yang menjadikan wahyu sebagai dasar kehidupan, agar cinta kepada ibu bukan hanya kata-kata, tapi sistem yang nyata?”
Nyaah ka Indung bukan hanya slogan yang indah. Ia bisa menjadi awal kebangkitan, jika kita bersedia menyelami akarnya. Dan akar cinta sejati, adalah ketaatan kepada Allah, dan sistem yang dibangun di atas petunjuk-Nya. Jika kita ingin dimuliakan di usia senja nanti, mari mulai dari hari ini, membenahi sistem yang memuliakan ibu bukan hanya karena cinta, tapi karena iman.
