Palestina dan Fajar Kebangkitan Umat di Depan Mata

Free Palestine,

Oleh: Bunda Erma E

Aktivis Bela Palestina

 

LenSaMediaNews.com–Sudah 20 bulan penderitaan dan ancaman genosida terus membayangi penduduk Gaza yang kian lemah dan tak berdaya. Per 26 Juni 2025 jumlah warga Gaza yang tewas sejak 7 Oktober 2023 sudah mencapai lebih dari 56.156 jiwa dan lebih dari 132.239 orang terluka (Aljazeera.com, 26-06-2025).

 

Wartawan, petugas kesehatan, relawan sekarang juga menjadi sasaran Zionis, meski korban mayoritas adalah anak-anak, perempuan, dan warga sipil. Lebih dari 92 persen rumah serta infrastruktur publik pun hancur, rata dengan tanah.

 

Situasi Gaza makin memprihatinkan di tengah pengkhianatan para penguasa muslim. Mereka menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) yang merupakan tuan bagi Zionis. Bahkan para penguasa Arab justru terang-terangan menuruti perintah AS dengan menandatangani Abraham Accords yang tidak lain merupakan pengakuan kedaulatan Zionis dan normalisasi hubungan dengan entitas penjajah itu.

 

Mereka mengikuti apa pun rencana dan keputusan yang AS buat, bahkan rela menanamkan investasi triliunan dolar pada AS, padahal Trump hendak merelokasi penduduk Gaza dan menjadikan tanah mikraj itu tempat maksiat.

 

Perang Iran melawan Israel justru makin menunjukkan tidak satupun penguasa muslim yang benar-benar serius menolong Gaza. Serangan yang dilakukan Iran kepada Israel sejatinya tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dan menghapus Zionis di muka bumi, tetapi sebagai upaya menyelamatkan harga diri semata. Karena Iran melakukan serangan balasan kepada Zionis setelah Teheran diserang.

 

Selain para penguasa Arab, dorongan sebagian penguasa muslim termasuk Indonesia untuk menekan Zionis menerima two state solution (solusi dua negara) adalah solusi untuk membodoh-bodohi umat dan sangat absurd. Pasalnya, seruan solusi dua negara dibuat oleh Barat melalui tangan PBB bukan oleh Israel.

 

Sehingga Zionis dan AS sampai kapan pun tidak akan menerima Palestina merdeka dengan kemerdekaan penuh. Begitu pun warga Palestina, mereka selamanya tidak mungkin menerima ada sejengkal pun tanah kaum muslimin diberikan kepada penjajah. Mereka tidak mungkin mau menyerahkan tanah kharajiyah, tanah milik umat Islam kepada Zionis, sebab hal itu jelas mengkhianati perjanjian Umariyah dan pengorbanan para syuhada yang sudah mempertahankan tanah Palestina dengan nyawa mereka.

 

Apa yang terjadi di Gaza menjadikan semua mata masyarakat dunia tertuju ke Gaza. Gelombang aksi Global March to Gaza pada tanggal 15 Juni 2025 menjadi bukti yang tak terbantahkan, meski dengan alasan kemanusiaan. Wajar, karena peserta yang hadir mayoritas adalah non-muslim yang diikuti sekitar 20 ribu peserta dari 50 lebih negara.

 

Hanya saja umat Islam harus memahami, bahwa akar persoalan Palestina adalah penjajahan, bukan sekedar masalah kemanusiaan. Sehingga umat Islam harus paham, sejatinya membebaskan Palestina itu adalah karena dorongan akidah semata. Dalam fikih yang berakar pada paradigma Islam, konsep membebaskan penjajahan adalah dengan jihad. Inilah satu-satunya solusi untuk bisa membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis sebagaimana yang dulu dilakukan oleh pendahulunya.

 

Berdasarkan hal ini, seluruh penguasa muslim hukumnya fardu untuk mengirimkan militer ke Palestina memerangi Zionis Yahudi dan membersihkan bumi Palestina dari penjajahan mereka. Kefarduan itu baru gugur ketika Palestina merdeka dan entitas Zionis Yahudi hilang, sehingga kaum muslim di sana bisa hidup normal kembali tanpa dominasi penjajah.

 

Namun, karena belenggu Nasionalisme, tidak ada seorang penguasa negeri muslim pun yang berani mengirimkan bantuan militer untuk membebaskan Palestina, meski Fatwa Ulama dunia telah menyerukan jihad.

 

Ribuan peserta konvoi global hanya bisa menyampaikan seruan atas nama kemanusiaan, tetapi tidak bisa menyelenggarakan jihad. Sebab jihad hanya bisa dikerahkan oleh negara yang akan mengerahkan kekuatan militer yang besar. Aktivitas jihad seperti ini pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar r.a dan Shalahudin Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds dari pasukan Salib.

 

Oleh karena itu, umat Islam harus fokus dan percaya bahwa solusi hakiki masalah Gaza dan Palestina adalah kehadiran Khilafah yang akan mengomando jihad. Pembantaian di Gaza harusnya menjadi momen bangkitnya kesadaran umat bahwa berharap pada solusi Barat justru menjauhkan pada solusi hakiki. Solusi hakiki adalah menghadirkan Khilafah sebagai warisan nabi yang terbukti telah menjadi penjaga umat dan telah membawa umat kepada kebangkitan hakiki.

 

Umat harus mendukung dan segera terjun bergerak dalam perjuangan menegakkan Khilafah bersama kelompok dakwah ideologis. Ini adalah bukti keseriusan kita menolong Gaza-Palestina, dan juga mengangkat umat yang lainnya dari kehinaan akibat hidup dalam naungan sistem sekuler Kapitalisme. Wallahualam bissawab. [LM/ry].