Potret Pendidikan Sistem Kapitalisme, Ancam Kualitas Generasi 

PotretPendidikan-LenSaMediaNews

Oleh: Cokorda Dewi

 

LenSaMediaNews.com– Berita yang dilansir di berbagai media sosial tentang polemik harga seragam sekolah yang mahal, memicu reaksi keluhan dari orang tua murid, apalagi beban ekonomi yang makin mengimpit.

 

Ibu Nur Febri Susanti (38) menyimpan kegundahan akan masa depan kedua anaknya yang terancam putus sekolah, hanya karena seragam. Harapannya anak-anak bisa memulai tahun ajaran baru penuh semangat, namun kenyataannya biaya seragam yang tak terjangkau. Suaminya berprofesi sebagai tukang parkir, dan biaya seragam sebesar Rp2,2 juta untuk kedua anaknya bukanlah nominal kecil.

 

Bahkan status sekolah anaknya belum jelas, pihak kepala sekolah mengatakan jika kedua anaknya tidak diterima karena alasan administrasi, dan dimintamencari sekolah lainnya. Padahal sudah memegang surat penerimaan kedua anaknya tertanggal 11 Juli 2025. Ibu Nur hanya berkeinginan anaknya bisa sekolah, tanpa khawatir kedua anaknya merasa berbeda, hanya karena tidak mampu membeli seragam baru (kompas.com, 17-07-2025).

 

Orang tua seorang siswa SMP negeri di wilayah Semarang, keberatan untuk membayar seragam senilai Rp 1.470.000 untuk lima stel. Satu stel baju olahraga sudah jadi dan empat stel, terdiri dari pramuka, merah-putih, seragam khas, masih dalam bentuk kain, dan harus dijahit dahulu (kompas.com, 25-06-2026).

 

Fakta yang beredar merupakan sebagian kecil dari potret keresahan orang tua. Pada kenyataannya sangat banyak orang tua mengeluhkan mahalnya biaya masuk sekolah, sekalipun itu sekolah negeri. Adanya keluhan pada sistem zonasi, menandakan kualitas pendidikan tidak merata di seluruh sekolah.

 

Mahalnya syarat diterima masuk sekolah, membuat para orang tua tidak punya pilihan. Ada yang tetap berusaha agar anaknya bisa bersekolah, dengan harapan mendapatkan pendidikan yang baik. Ada yang pasrah, dan anak menjadi terancam putus sekolah. Jangankan berharap bisa menyekolahkan anaknya hingga universitas dengan biaya UKT yang sangat mahal. Untuk masuk SD, SMP, dan SMA saja, mereka sudah mengalami kesulitan dalam pemenuhan tuntutan biaya seragam sekolah.

 

Pendidikan dalam sistem kapitalisme merupakan komoditas, bukan menjadi hak setiap rakyatnya. Sehingga menjadi suatu hal yang sah saja diperjualbelikan, dan negara menyerahkan segala permasalahan biaya yang timbul pada rakyatnya. Meskipun sudah ada regulasi pelarangan sekolah negeri melakukan aktivitas jual beli, tetap saja terjadi pelanggaran.

 

Pelanggaran terhadap regulasi ini pun, sanksinya tidak memberikan efek jera bagi pelaku. Sehingga terjadi pengulangan pelanggaran, meskipun pelaku, tempat, dan di waktu yang berbeda. Negara dalam sistem kapitalisme berperan sebagai regulator, tanpa memikirkan bagaimana nasib keberlangsungan negaranya di masa depan. Negara tidak akan mampu mewujudkan pendidikan gratis bagi rakyatnya, karena pos pembiayaan pendidikan seharusnya berasal dari sumber daya alam. Sementara pengelolaan sumber daya alamnya justru diserahkan pada pihak asing.

 

Pendidikan merupakan hak utama bagi setiap generasi atau rakyat. Sebab keberlangsungan sebuah negara, peradaban dan masa depan sebuah negara, bergantung pada kualitas generasi penerusnya. Dibutuhkan generasi penerus yang cerdas, berkemampuan, dan dedikasi tinggi, untuk dapat mengelola teknologi dan kekayaan alam negaranya dengan baik demi kemajuan negaranya. Jika banyak generasi penerusnya putus sekolah, tidak mendapatkan pendidikan yang memadai, maka akan mengancam kualitas generasi, serta keberlangsungan masa depan negara.

 

Dalam sistem Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap individu. Islam mengharamkan negara melepas tanggung jawab dalam mengurusi urusan rakyatnya, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan. Negara sebagai raa’in dan junnah berkewajiban untuk memenuhi pendidikan setiap individu warganya, secara gratis, berkualitas, dan merata. Biaya pendidikan diambil dari Baitulmal, pos dana kepemilikan umum, yaitu bersumber dari pengelolaan sumber daya alam dan kepemilikan umum. Sehingga negara dapat mewujudkan pendidikan gratis bagi seluruh warganya.

 

Solusi Islam dalam mencetak generasi yang berkualitas tinggi, tidak hanya cerdas, berkemampuan, dan memiliki dedikasi tinggi, akan tetapi juga bertakwa, sadar akan dirinya sebagai hamba Allah yang wajib mewujudkan peradaban yang gemilang sesuai dengan syariat Islam atau aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Wallahu a’lam bishshowab. [LM/ry].