Raja Ampat Menangis: Ketika Surga Dunia Diserang Tambang Nikel

Raja ampat menangis

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah-Aqliyah_

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS Ar-Rum: 41)

 

Ayat ini seolah menggambarkan apa yang terjadi di ujung timur Nusantara. Itu adalah Raja Ampat, wilayah yang telah Allah bentangkan hamparan keindahan yang tak terlukiskan. Di sana gugusan pulau dan laut biru jernih yang menjadi rumah bagi lebih dari 75% spesies karang dunia. Tak heran jika dunia menjulukinya sebagai “surga bawah laut.”

 

Namun hari ini, surga itu menangis.
Tanah-tanahnya terbelah oleh alat berat. Lautnya keruh oleh endapan lumpur tambang. Anak-anak adat batuk karena debu tambang, dan nelayan harus melaut lebih jauh untuk sekadar membawa pulang makan malam. Di balik janji pembangunan, tersembunyi luka yang dalam, yang berasal dari keserakahan sistem. Sistem yang menjadikan bumi sekadar objek eksploitasi bukan amanah.

 

Ekspansi yang Merusak

Studi Auriga Nusantara mencatat, sejak 2020–2024 area tambang nikel di Raja Ampat meluas 494 hektar, tiga kali lipat dibanding periode sebelumnya [business-humanrights.org]. Pulau Kawe, Pulau Gag, Manuran, hingga Batan Pelei bermunculan lubang-lubang yang menganga, tak tertutup, demi usaha penambangan. Kehancuran dibiarkan, seolah hanya tanah tak bermakna, bukan bagian dari ciptaan Allah. Kondisi ini terasa tepat dengan apa yang Allah jelaskan dalam QS Al-Baqarah: 11–12
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ( 11)
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ ( 12)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ketahuilah, mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”

 

Perbaikan yang mereka klaim sebagai pembangunan, justru menjadi munculnya perusakan alam dan kehidupan penduduk setempat. Apa yang disebut “kemajuan” bagi pemilik modal, justru menjadi mimpi buruk bagi warga lokal dan lingkungan hidup.

 

Terjadi sedimentasi dan pencemaran laut. Pembukaan lahan besar-besaran untuk tambang memicu deforestasi dan sedimentasi ekstrem. Lumpur mengalir dari bukit ke laut, menutupi terumbu karang, menghalangi sinar matahari, dan membunuh ekosistem yang tumbuh ratusan tahun [mcpr.komitmen.org].
Limbah tambang juga mencemari mangrove dan padang lamun, dua ekosistem penting penyerap karbon. Air laut berubah menjadi racun yang merusak rantai makanan, dan pada akhirnya masuk ke tubuh manusia. Jika air telah tercemar, kehidupan pun perlahan mati. Allah telah memberikan petunjuk kepada kita dalam ayat di bawah.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.”
(QS Al-Anbiya: 30). Saat air tercemar maka kehidupan pun rusak.

 

Begitu pula halnya terdapat kerusakan biota dan masyarakat. Nelayan di Pulau Kawe dan Pulau Batan Pelei mengeluhkan hasil tangkapan ikan menurun drastis. Mereka kini harus melaut lebih jauh, menghabiskan lebih banyak bahan bakar, dengan hasil tak sepadan. Di sisi lain, debu tambang beterbangan hingga ke permukiman, menyebabkan gangguan pernapasan pada anak-anak [jagaindonesia.com].
Suku Kawei memasang baliho besar bertuliskan:
“Kami menolak tambang, bukan anti pembangunan.”
Suara masyarakat adat yang kian nyaring menunjukkan satu hal: mereka sadar sedang dizalimi. Terkait hal ini Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya, yang artinya:
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…”
(QS Al-Baqarah: 188)

Pembangunan yang memiskinkan warga, merampas tanah adat, dan mengorbankan kesehatan generasi, bukan pembangunan, tapi perampasan. Dan ini dilarang oleh Allah.

 

Kapitalisme dan Kesenjangan 

Dalam sistem kapitalisme, alam hanyalah angka dalam laporan untung-rugi. Siapa yang punya izin, dia yang menang. Sumber daya menjadi ladang eksploitasi, bukan amanah yang harus dijaga.
Investor menambang, negara memberi restu, dan rakyat menanggung limbah serta kehilangan ruang hidup. Anak-anak adat tumbuh di tengah kerusakan, dan generasi berikutnya mewarisi tanah yang gersang dan laut yang tercemar.
Inilah hakikat kapitalisme: standar ganda, hanya memihak pada yang kuat, dan meninggalkan keadilan di tepi jalan.

 

Solusi Islam: Hima, Ra’in, dan Amanah

Islam tak membiarkan bumi dieksploitasi sembarangan. Nabi ﷺ bersabda:
Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api (energi).”
(HR. Abu Dawud)

Dalam Islam, alam bukan milik pribadi atau korporasi, tapi milik umum (milkiyah ‘ammah). Negara sebagai ra’in (pengurus rakyat), wajib mengelola sumber daya alam bukan untuk korporasi, tapi untuk kesejahteraan semua.
Konsep hima dalam sejarah Islam adalah kawasan lindung, tempat ekosistem dijaga dan dilarang untuk dieksploitasi sembarangan. Di era Rasulullah ﷺ dan para khalifah, hima dikelola negara untuk melindungi padang rumput, sumber air, dan hewan langka dari kerusakan akibat keserakahan.

 

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyampaikan Islam sebagai sebuah sistem hidup, bahwa Islam adalah mabda’ (ideologi) yang menyeluruh, bukan hanya ritual, tapi sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan dari politik, ekonomi, hingga lingkungan.
“Negara Islam wajib mengelola harta milik umum dan menyampaikan hasilnya kepada seluruh rakyat, bukan kepada segelintir elit. Tanah, air, dan api bukan komoditas; ia amanah yang harus dijaga.”
(Syaikh Taqiyuddin, Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam)

 

Beliau menolak gagasan neoliberalisme dan kapitalisme, serta menyebut bahwa kerusakan global termasuk krisis ekologi, yang merupakan konsekuensi langsung dari sistem kufur yang berbasis manfaat, bukan berbasis wahyu.

 

Raja Ampat bukan sekadar gugusan pulau—ia adalah simbol keindahan alam yang dilukis langsung oleh Sang Pencipta. Namun kini, kita menyaksikan bagaimana “surga” itu terkoyak oleh kerakusan manusia yang menjadikan bumi sebagai objek eksploitasi. Surat Ar-Rum ayat 41 di atas bukan sekadar peringatan, tapi cermin bagi peradaban. Apakah kita akan terus mengukur keberhasilan dari seberapa besar kita membangun, tanpa peduli seberapa banyak yang kita hancurkan?

Maka pertanyaan besar untuk kita semua sistem apa yang kita anut hari ini? Sebab kerusakan di Raja Ampat adalah realitas. Tapi akar masalahnya bukan hanya pada tambang, melainkan sistem yang melingkupi izin, kebijakan, dan orientasi hidup.

Apakah sistem ini berpihak pada manusia dan alam?
Atau ia tunduk pada logika modal dan laba?
Kapitalisme tak mampu menyelamatkan bumi. Ia justru menjadi dalang utama kerusakan global.

 

Saatnya Kembali pada Islam

Islam tidak sekadar menawarkan solusi lingkungan. Ia menghadirkan cara pandang bahwa kekuasaan adalah amanah, bahwa sumber daya adalah milik umat, dan bahwa keseimbangan adalah bagian dari tauhid.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS Al-A’raf: 56)

 

Islam mengajak kita membangun peradaban, bukan hanya membangun gedung. Membangun manusia dan sistem yang adil, dan membangun masa depan tanpa mengorbankan bumi yang kita pijak hari ini.