Tahun Baru dan Empati yang Seharusnya

Lensamedianews.com, Surat Pembaca— Memasuki penghujung tahun 2025 lalu, masyarakat Indonesia menerima imbauan untuk merayakan Tahun Baru secara sederhana. Sebagaimana dilansir dari Liputan6.com, imbauan ini disampaikan sebagai bentuk belasungkawa atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra. Pemerintah dengan tegas melarang perayaan besar-besaran sebagai wujud empati terhadap para korban bencana. Namun, jika alasan pembatasan perayaan semata-mata demi menghormati korban, semestinya energi, anggaran, dan sumber daya negara difokuskan sepenuhnya pada percepatan penanganan bencana serta distribusi bantuan yang hingga kini masih dilaporkan belum maksimal.
Dalam pandangan Islam, bencana tidak dipahami sekadar sebagai fenomena alam. Bagi orang beriman, bencana merupakan ujian kesabaran sekaligus sarana peningkatan derajat, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 155. Di sisi lain, bencana juga berfungsi sebagai peringatan agar manusia kembali kepada jalan yang benar, karena kerusakan di muka bumi sering kali disebabkan oleh ulah tangan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Selain itu, bagi mereka yang tertimpa musibah dan bersabar, bencana menjadi wasilah penghapus dosa. Namun demikian, Islam tidak mengajarkan umatnya berhenti pada dimensi spiritual semata, melainkan juga menuntut adanya tanggung jawab nyata negara dalam mengurus dan melindungi rakyatnya.
Dalam konsep Islam, pemimpin adalah pengurus urusan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah kepemimpinannya. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang imam (pemimpin) adalah pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, empati tidak cukup diwujudkan melalui imbauan kesederhanaan atau larangan perayaan semata, tetapi harus dibuktikan dengan langkah konkret dalam penyelamatan korban dan pemulihan pascabencana. Dalam sistem Islam yang kaffah, manajemen bencana ditangani secara terencana melalui Baitul Mal sebagai kas negara untuk kondisi darurat demi kemaslahatan umat. Hanya dengan kepemimpinan yang amanah dan penerapan aturan Sang Pencipta secara total, empati tidak berhenti sebagai simbol, tetapi hadir sebagai solusi nyata bagi rakyat yang tertimpa musibah. [LM/Ah]
Nuroh Fauziah
(Aktivis Dakwah Remaja)
