Tahun Baru: Perayaan atau Peringatan?

Lensamedianews.com, Surat Pembaca— Setiap akhir Desember, masyarakat senantiasa disuguhkan pemandangan yang sama: pesta kembang api, bunyi terompet, keramaian kota, dan euforia menyambut Tahun Baru. Sayangnya, kemeriahan ini sering kali berlangsung tanpa makna, bahkan cenderung menjauhkan manusia dari kesadaran akan hakikat hidupnya. Ironisnya, banyak orang menyambut Tahun Baru dengan pemborosan waktu dan harta, begadang tanpa tujuan, bahkan melakukan aktivitas yang membuka berbagai pintu kemaksiatan. Padahal, sebagai seorang muslim, setiap detik kehidupan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Dan perayaan Tahun Baru Masehi bukan berasal dari Islam.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih). Hadis ini menegaskan bahwa waktu bukanlah sesuatu yang layak dihambur-hamburkan, melainkan amanah besar yang harus diisi dengan ketaatan dan amal saleh.
Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa Islam mengajarkan pemaknaan waktu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Pergantian hari, bulan, maupun tahun seharusnya menjadi momentum muhasabah—sudah sejauh mana ketaatan kita kepada Allah SWT, seberapa besar kontribusi kita dalam memperbaiki diri dan umat, serta dosa-dosa apa yang harus segera ditinggalkan. Inilah makna perubahan sejati dalam pandangan Islam.
Di sisi lain, umat Islam sejatinya telah memiliki kalender Hijriah yang sarat makna perjuangan dan perubahan, yang berlandaskan peristiwa hijrah Rasulullah saw.. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan tidak dirayakan dengan pesta dan euforia, melainkan diwujudkan melalui kesungguhan iman, amal saleh, dan komitmen ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sudah saatnya kaum muslim berhenti memaknai Tahun Baru sebagai ajang perayaan semu. Tahun Baru hendaknya menjadi peringatan, bukan perayaan, peringatan bahwa hidup ini terbatas dan setiap waktu pasti akan dimintai hisab. Semoga kita termasuk orang-orang yang bijak dalam memanfaatkan waktu, bukan golongan yang lalai karenanya. [LM/Ah]
Amiroh Lutfiah, S.Kom.
(Aktivis Dakwah Remaja)
