Zero Post: Fenomena Detoks Digital yang Merugikan Kesadaran Publik

Oleh : Sari Yuliyanti,
Pemerhati Isu Pendidikan, Generasi dan Keluarga
LensaMediaNews.com, Rubrik Remaja_ Ada fenomena yang menarik di dunia media sosial belakangan ini. Banyak anak muda khususnya Gen Z memilih untuk mengosongkan feed mereka tanpa foto, tanpa video, tanpa cerita kehidupan apapun. Fenomena ini disebut zero post yaitu upaya seseorang untuk melakukan detoks digital dalam rangka meredakan tekanan dari dunia online yang tak henti memaksa siapapun tampil sempurna di dalamnya.
Data global mendukung perubahan ini. Survey tahun 2025 mencatat bahwa 94% Gen Z menggunakan media sosial setiap hari (sqmagazine.co.uk, 02-10-2025). Tetapi secara bersamaan, terdapat studi yang diterbitkan oleh The Financial Times bahwa penggunaan media sosial turun sekitar 10% yang dipelopori oleh anak muda (amp.kompas.com, 08-12-2025).
Sebagian pakar menyebut tren ini sebagai silent withdrawal yaitu penarikan diri perlahan dari ruang publik. Karena meskipun feed kosong, data menunjukkan konsumsi media sosial Gen Z meningkat hingga rata-rata 5,1 jam/hari di platform online ini (tvtechnology.com, 02-12-2025). Mereka berhenti posting namun tetap menatap layar untuk aktivitas scroll. Berkirim pesan privat menjadi pilihan mereka daripada posting tentang kehidupan pribadi di feed.
Salah satu penyebab paling kuat munculnya fenomena ini adalah tekanan psikologis. Selama bertahun-tahun, algoritma membentuk persepsi bahwa eksistensi seseorang harus diukur melalui jumlah likes, views, dan komentar. Tidak heran apabila 75% Gen Z mengaku kesehatan mentalnya menurun akibat media sosial. Mereka lelah harus terus menampilkan versi terbaik dirinya untuk dinilai publik.
Dalam konteks ini, tren zero post memiliki sisi baik yang tidak bisa diabaikan. Ini adalah wujud dari kesadaran diri bahwa hidup bukanlah konten yang harus dinilai, dilihat, atau diakurasi untuk konsumsi publik. Mereka ingin merebut kembali kendali atas identitas digital mereka sehingga mereka tidak lagi dijadikan bahan bakar bagi mesin kapitalisme data saat ini. Di titik ini, zero post adalah bentuk kedewasaan Gen Z dalam mengambil keputusan hidupnya.
Namun ada pertanyaan ideologis atas maraknya fenomena ini, yaitu jika generasi terbaik ini memilih diam, lalu siapa yang akan berbicara untuk kebenaran?
Tren Zero Post ini memang bisa menjadi solusi atas kesehatan mental Gen Z tapi jangan sampai malah membungkam generasi yang seharusnya menjadi benteng kebenaran di dunia digital. Karena tren ini juga jika dicermati akan berdampak pada konsekuensi sosial yang serius terutama terkait budaya berbicara di ruang publik dan tradisi speak up terhadap kebenaran.
Dalam pandangan Islam, amar ma’ruf nahiy munkar adalah kewajiban yang harus selalu dilakukan oleh kaum muslim meskipun di dunia maya sekalipun. Maka, tetap menyuarakan kebenaran dengan lantang di sosial media akan terus menjadi amanah bagi para pemuda muslim sampai kapanpun juga.
Al-Qur’an menegaskan kewajiban untuk lantang bersuara menyuarakan kebenaran agar umat ini menjadi umat terbaik,
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran: 110).
Zero post itu adalah napas, namun ketika napas itu membuat generasi muda menjadi bisu di situlah masalah besar akan muncul. Ingatlah, ketidakadilan hanya butuh kepada satu hal untuk menang yaitu diamnya generasi terbaik di satu zaman.
