Edaran Ayah Ambil Rapor: Alarm Pengasuhan Terabaikan

AyahRapor-LenSaMediaNews

Oleh : Riska Kencana

 

LenSaMediaNews.Com–Edaran ayah ambil rapor disambut dengan gegap gempita oleh sebagian pihak. Layaknya oase di tengah gurun, ia memberi harapan baru. Sebuah harapan besar agar anak Indonesia tak lagi mengalami fatherless. Agar ayah terlibat penuh dalam pengasuhan yang selama ini sering terlupakan.

 

Namun di tengah euforia itu terdapat sebuah ironi, bagaimana bisa peran ayah yang begitu krusial harus diingatkan lewat selembar surat edaran. Apakah selama ini ayah benar-benar abai, ataukah sistemnya yang meminggirkan peran ayah dalam pengasuhan?

 

Di era modern, pengasuhan sering dibebankan kepada ibu. Sedangkan ayah dikontruksikan hanya sebagai pencari nafkah. Dari kontruksi inilah kemudian muncul sebuah paradigma di dalam masyarakat semua urusan anak adalah urusan ibu, sedangkan ayah hanya sebagai provider.

 

Maka tak jarang ayah hanya ada sebagai simbol. Ia ada tapi tak hadir. Beban kerja yang berat, jam kerja yang panjang, cuti terbatas, mempersempit ruang keterlibatan mereka dalam pengasuhan.

 

Jika kita berbicara pengasuhan, ia tak sekedar urusan domestik. Pengasuhan tidak berhenti pada urusan hamil, melahirkan, menyusui, memandikan anak, memberi makan, menemani bermain.

 

Pengasuhan tidak hanya bekerja di ranah fisik tapi juga psikis. Di sinilah peran ayah yang paling krusial : memberi arah, menentukan batas, menanamkan makna hidup. Ayah mengajari anak memahami tanggung jawab, menghadapi masalah, membentuk qawwamah yang mungkin tak selalu tampak kerjanya, tetapi justru ia sedang membentuk pondasi di masa mendatang.

 

Kehadiran ayah pada pengasuhan tidak hanya pada usia balita hingga sekolah menengah. Sepatutnya ayah hadir di tiap fase perkembangan mereka. Pada fase anak-anak awal (0-7 tahun), ayah hadir sebagai sumber rasa aman dan cinta. Kehadiran ayah diwujudkan dalam bentuk sentuhan, permainan dan kelembutan.

 

Sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi SAW kepada anak-anak : menggendong, bersenda gurau, hingga memperpanjang sujudnya agar cucunya bisa bermain di pundaknya. Jika ayah hadir di fase ini, insyaallah fondasi kepercayaan diri dan kestabilan emosi anak akan terbentuk.

 

Masuk ke fase mumayyiz (7-sebelum baligh), di sini anak mulai bisa membedakan benar dan salah. Ayah berperan sebagai pembimbing dan juga berperan untuk mendisiplinkan anak. Sebagai contoh, perintah salat di usia 7 tahun merupakan salah satu bentuk membimbing dan pembiasaan, kemudian usia 10 tahun jika tidak mau salat, maka boleh dipukul, ini bentuk pendisiplinan. Di fase ini, ayah harus banyak berdialog dengan anak, menjelaskan tentang aturan, sebab-akibat, dan membangun nalar moral.

 

Saat anak masuk masa baligh, peran ayah kembali bergeser. Ia hadir sebagai mentor. Baligh adalah masa krusial, di mana anak mulai matang secara akal dan fisik. Mereka mulai dibenani dengan hukum syariat. Maka di sinilah kehadiran ayah sebagai mentor yang membimbing dengan teladan, dialog, mengarahkan tanpa menggurui.

 

Sayangnya, di Sistem Kapitalisme sekuler, peran ayah bukan hanya direduksi sebagai pencari nafkah, tetapi dipaksa secara sistemik untuk senantiasa sibuk hingga melupakan perannya. Sistem ini menilai manusia dari produktivitas ekonomi. Ayah yang baik dinilai dari seberapa keras ia bekerja dan seberapa besar ia memberikan nafkah, bukan dari kualitas kehadirannya dalam keluarga. Ikut terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak dianggap sebagai optional saja, bukan kewajiban. Akibatnya, ayah dipisahkan secara struktural dari rumahnya sendiri.

 

Sedangkan dalam pandangan islam, ayah diposisikan sebagai qawwam. Ia bukan Cuma mesin pencetak uang. Lebih dari itu, ia menjadi penanggung jawab penuh atas keluarga, baik secara ekonomi, pendidikan maupun moral. Dan karena itulah, Islam tidak memisahkan antara kewajiban bekerja dengan kewajiban pengasuhan. Keduanya bisa berjalan beriringan tanpa saling melemahkan.

 

Di sinilah Sistem Islam dibutuhkan, yang akan menjamin para ayah menjalankan kewajiban dan perannya. Negara akan menjamin kebutuhan dasar rakyat, sistem kerja dan upah yang manusiawi dan memastikan kurikulum pendidikan sejalan dan bersinergi dengan nilai yang ditanamkan di keluarga. Dengan demikian, ayah tidak harus dipaksa memilih antara bekerja atau mengasuh, karena keduanya ada di posisi yang sama, yakni amanah dari Allah.

 

Maka, edaran ayah ambil rapor seharusnya tidak berhenti hanya sebatas imbauan. Ia mestinya menjadi pengingat bahwa persoalan fatherless bukanlah masalah individu tapi permasalahan sistemik. Selama masalah pengasuhan diserahkan kepada mekanisme kapitalis, selama itu pulalah keterlibatan ayah hanyalah tambal sulam, tidak mencerabut masalah hingga ke akar.

 

Islam datang menawarkan solusi yang mendasar, memgembalikan peran ayah kepada porosnya. Bukan dengan edaran, bukan juga dengan imbauan. Namun dengan mengubah sistem yang saling mendukung. Sistem yang menjadikan rida Allah sebagai tujuan, yang menjadikan keluarga sebagai pencetak peradaban. Wallahualam bissawab. [LM/ry].