Potensi Generasi Muda dalam Kungkung Algoritma

Oleh: Sunarti
Opini _LenSa Media News _ “Sungguh pemuda itu distandarisasi dari kualitas ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya, ia tidak disebut layak pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan (syubbanul yaum rijalul ghod)..” ( Imam Syafi’i ).
Sungguh pesan mendalam dari seorang ulama mutabar. Harapan kepada generasi muda sangat besar. Sebagai penerus peradaban dunia.
Saat ini peradaban dunia dikuasai oleh sistem kapitalis-sekular yang telah mebelokkan arah kepribadian generasi muda. Pemerintah berencana membatasi pengguna media sosial untuk anak usia 13 hingga 16 tahun tergantung dari risiko masing-masing, sebagaimana disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (Kompas.com, 12-13-2025).
Harus disadari bahwa pasar potensial bagi produk-produk digital adalah generasi muda. Karena mereka memiliki potensi tanggap terhadap digital. Sayangnya kehidupan mereka akhirnya bisa dikendalikan oleh seluruh konten digital. Mereka lebih mudah menentukan standar, tren dan opini orang lain. Serta akan memicu gangguan tidur sehingga muncullah stres, gangguan kecemasan hingga depresi. Konten yang faedah maupun unfaedah akan menjadi tabungan informasi dan dapat mengendalikan cara berpikir mereka, termasuk arah memandang kehidupan.
Dampak selanjutnya yakni efek negatif dari ide-ide sekuler dan liberal yang menempati posisi teratas di media sosial yang begitu banyak. Di titik ini mereka membutuhkan benteng yang kuat. Benteng generasi penerus yang pertama yaitu cara memandang sahih yang bersumber dari Sang Khalik. Sementara sumber-sumber yang lain harus ditangkis karena bisa menyebabkan kemudharataan (kerusakan).
Ketika generasi menginginkan perubahan maka bukan perubahan parsial yang dilakukan. Namun perubahan yang mendasar yaitu dari sikap mengambil arah memandang hidup menurut ideologi yang sahih yaitu ideologi Islam. Jangan sampai menjadi aktivis yang prematur dan midah tergiur jabatan.
Dampak generasi yang menduplikasi aktivisme liberal akan bermunculan jika tidak kembali pada ideologi Islam. Meskipun demikian, meskipun umat Islam tetaplah mereka menjadi penghambat kapitalisme.
Sepatunya generasi muda yang telah Allah berikan potensi yang luar biasa, yaitu sebagai makhluk yang memiliki gharizah (naluri), hajatul udhawiyah (kebutuhan hajat) dan akal.
Untuk melahirkan/mencetak generasi yang tangguh yang membutuhkan lingkungan yang kondusif dan kental dengan jawil iman (suasana keimanan) serta kolaborasi komprehensif dan sistemis. Perlu sinergi semua elemen, keluarga, masyarakat, partai ideologi dan negara.
Ideologi Partai Politik Islam sebagai tulang punggung pembinaan seluruh komponen umat, termasuk generasi muda. Karena partai politik Islam Ideologis akan berperan dalam rangka muhasabah lil hukam (koreksi untuk penguasa), memberi ruang bagi suara kritis kaum muda, serta mencerdaskan dan meningkatkan taraf berpikir umat. Dengan demikian akan terwujud generasi muda yang unggul dan berkepribadian Islam.
Waallahu alam bisawab
( LM/Sn )
