Aktivisme Pemuda di Era Digital

aktivisme pemuda di era digital

Lensamedianews.com, Surat Pembaca — Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra pada 25 November lalu memperlihatkan wajah aktivisme digital yang khas. Lebih dari 50 warga Lorong 4 Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, terjebak di tengah hutan selama dua hari dua malam. Salah satu korban merekam video permintaan tolong kepada bupati sebelum jaringan internet terputus. Video itu viral dan menggugah empati publik luas (BBC News Indonesia, 12 Desember 2025).

Fenomena ini mencerminkan pola aktivisme pemuda di era digital yang cenderung reaktif. Kepedulian muncul kuat saat peristiwa menjadi viral, namun cepat mereda setelah perhatian publik berpindah. Aktivisme bergerak spontan, emosional, dan sesaat, tanpa kesinambungan agenda perubahan yang jelas. Akibatnya, energi kritis pemuda sering berhenti pada desakan jangka pendek, bukan solusi struktural.

Ruang digital turut membentuk pola tersebut. Algoritma media sosial mendorong konten singkat, sensasional, dan personal. Narasi mendalam dan pemikiran sistemik kurang mendapat ruang. Aktivisme pun mudah dibelokkan oleh kepentingan politik pragmatis dan ekonomi digital. Figur populer dan influencer sering menjadi pusat gerakan, sementara arah perjuangan menjadi kabur dan bergantung pada popularitas, bukan visi perubahan.

Kondisi ini berkaitan dengan krisis kepercayaan terhadap sistem yang berjalan. Namun, kekecewaan tersebut belum disertai tawaran alternatif yang utuh. Tanpa fondasi ideologis, kritik berputar pada gejala, bukan akar persoalan. Pemuda bergerak tanpa peta jalan yang jelas, sehingga perubahan hanya berhenti pada simbol dan jargon.

Perubahan sosial tidak dapat bertumpu pada pendekatan tambal sulam. Negara membutuhkan partisipasi pemuda yang memiliki kesadaran politik ideologis agar aktivisme terarah, konsisten, dan berkelanjutan. Ideologi berfungsi sebagai kerangka nilai untuk menilai kebijakan, menjaga orientasi gerakan, dan memastikan perubahan berjalan sistemik.

Dalam konteks ini, partai Islam ideologis berperan sebagai teladan perjuangan. Dengan visi perubahan berbasis nilai dan sistem, partai ideologis mampu mengarahkan energi pemuda dari reaksi sesaat menuju transformasi hakiki yang terukur dan damai. Perubahan sejati menuntut kesadaran ideologis, yaitu pemahaman penerapan syariat dan Khilafah sebagai solusi menyeluruh bagi problem bangsa, bahkan problem seluruh dunia.

Wallāhu a‘lam bishshawāb. [LM/Ah]

Isnawati
Muslimah Penulis Peradaban