Palestina Tercekik, Negara Dunia Kehilangan Nurani

palestina tercekik,negara dunia kehilangan nurani

Lensamedianews.com, Surat Pembaca — Penderitaan rakyat Palestina kembali dipertontonkan ke hadapan dunia. Israel secara sepihak melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Gaza mulai 2026. Kebijakan ini kian memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung puluhan tahun akibat agresi militer, blokade, dan penjajahan sistematis.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, bersama para menteri luar negeri negara Muslim dan Timur Tengah mendesak Israel agar tetap mengizinkan PBB serta lembaga kemanusiaan internasional bekerja tanpa hambatan. Pernyataan ini disampaikan melalui akun resmi Kementerian Luar Negeri RI pada 2 Januari 2026 (Antara News).

Namun, jika dilihat dari sudut pandang kenegaraan—terlebih menurut Islam—sikap tersebut masih bersifat reaktif dan normatif. Kecaman, desakan, dan seruan kemanusiaan memang penting, tetapi faktanya tidak pernah menghentikan agresi Israel. Di lapangan, serangan terus berlangsung, korban jiwa terus bertambah, dan wilayah Palestina kian menyempit akibat pencaplokan ilegal (Antara News, 2026).

Akar masalah Palestina bukan semata krisis kemanusiaan, melainkan keberadaan negara penjajah yang sejak awal dibangun di atas perampasan tanah dan darah rakyat Palestina. Selama Israel tetap eksis dan terus dilindungi oleh kekuatan besar dunia, penderitaan Palestina akan terus berulang.

Berbagai solusi yang ditawarkan, mulai dari gencatan senjata hingga diplomasi internasional yang dimediasi Amerika Serikat, justru sering berujung pada penguatan posisi Israel dan pelemahan Palestina (Republika, 2026).

Dalam Islam, negara wajib berfungsi sebagai junnah (pelindung). Negara tidak boleh sekadar menjadi penonton atau penyampai kecaman. Palestina adalah bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dijaga. Oleh karena itu, pembelaan terhadap Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan kewajiban politik dan syar’i yang melekat pada negara.

Solusi mendasar atas penderitaan Palestina menuntut persatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan yang kuat, berdaulat, dan independen, yang menjadikan syariat Islam sebagai landasan kebijakan dalam dan luar negeri. Sejarah membuktikan bahwa penjajahan hanya dapat dihentikan oleh negara yang berani, mandiri, dan berpihak penuh pada keadilan.

Sudah saatnya umat disadarkan bahwa membiarkan Israel terus eksis berarti membiarkan penderitaan Palestina berlangsung tanpa akhir.

Negara-negara muslim harus keluar dari politik kompromi dan ketundukan pada kepentingan global, lalu bersatu dalam sistem yang benar-benar melindungi umat. Dengan itulah perjuangan (jihad) membela Palestina dapat dijalankan secara terarah di bawah kepemimpinan Islam yang sah, yaitu Khilafah, hingga Palestina benar-benar merdeka dan kemanusiaan kembali memiliki makna.

Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.[LM/Ah]

Isnawati
Muslimah Penulis Peradaban