Banjir Rob Kampung Dolar Muara Gembong

Mangrove

Oleh Lulu Nugroho

 

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Banjir rob terjadi di enam titik lokasi Kecamatan Muaragembong. Sebuah wilayah yang pernah dijuluki sebagai Kampung Dolar. Posisinya di pesisir Timur Teluk Jakarta, rentan terkena dampak banjir rob. Akibatnya kehidupan masyarakat terganggu, aktivitas ekonomi pun lumpuh, dan terjadi kerusakan infrastruktur.

 

Warga telah mengubah area mangrove di belakang rumahnya, menjadi area tambak yang langsung ke laut. Tambak-tambak itu merupakan bagian dari program pemerintah untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Inilah yang mendatangkan cuan di wilayah ini, sekaligus banjir (Kompas.com, 6/12/2025)

 

Muaragembong adalah sebuah kecamatan di paling ujung Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di sini terdapat hutan mangrove yang ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung. Mangrove Muara Gembong juga berpotensi sebagai penyangga untuk mengurangi potensi dampak pemanasan global, abrasi, banjir rob, dan penurunan tanah.

 

Mangrove pun dapat diolah menjadi beragam makanan dan minuman seperti: sirup, dodol, selai, tepung (untuk kue dan roti), keripik, bahkan kopi. Sementara pemerintah melihat mangrove sebagai ekowisata, pendidikan atau riset, termasuk budidaya ikan dan rumput laut.

 

Mangrove atau biasa kita sebut bakau, adalah tanaman khas pesisir yang hidup di air payau. Ia stabil di kondisi lumpur, menjadi habitat biota laut dan sumber daya ekonomi seperti kayu, serta obat-obatan. Salah satu hutan mangrove terbesar di dunia, terdapat di Kaimana Papua Barat.

 

Meski telah menjadi hutan mangrove, tetapi kecamatan Muara Gembong ini termasuk langganan banjir. Alih fungsi mangrove menjadi tambak dan pemukiman, bisa jadi merupakan penyebab banjir. Sebagaimana pendapat pakar yang menyatakan bahwa tidak semua pengikisan tanah pesisir diakibatkan oleh abrasi semata, seperti hantaman ombak dan arus laut. Melainkan terjadi fenomena inundasi, yaitu akibat genangan air atau rob karena naiknya permukaan air laut atau penurunan tanah.

 

Maka untuk mengatasi banjir, perlu dilakukan aktivitas mengurangi eksploitasi air tanah, baik untuk tambak atau pemukiman. Tapi bila sudah selalu menjadi langganan banjir, maka perlu tanggul penahan ombak atau relokasi warga.

Nampak betapa industri telah merambah masyarakat pesisir. Mangrove yang semula mampu menangkal banjir, akhirnya tak berdaya di tangan kapital.

 

Solusi Islam

Bekasi adalah wilayah urban yang paling dekat dengan ibukota. Masyarakat pun banyak yang menuju ke sana. Karenanya perlu kesungguhan penataan lingkungan, agar masyarakat sejahtera, terpelihara hajat hidupnya, dan lingkungan tetap lestari.
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bersabda.
Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)

 

Kepemimpinan dalam Islam akan melindungi alam, menjaga lingkungan, manusia dan makhluk Allah SWT lainnya. Pemanfaatan alam yang wajar, sesuai dengan tuntunan Allah SWT, tentu akan menghasilkan kemaslahatan umat. Namun merusak alam, mengambil potensinya dan mengabaikan pemeliharaannya, akan mengakibatkan kerusakan alam dan bencana bagi manusia.

 

Sejatinya pasang air dan tingginya curah hujan adalah hal yang alami. Tidak akan terjadi banjir jika manusia murah hati terhadap alam.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al-A’raf [7]: 96,Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

 

Maka perlu pembatasan dan pemetaan, menakar daya tampung kawasan untuk pemukiman maupun perekonomian. Pemanfaatan alam menggunakan aturan Allah, akan mendatangkan kebaikan. Bahkan pesisir timur Teluk Jakarta, seperti halnya wilayah pesisir di Nusantara pada umumnya, dapat dioptimalkan sebagai lokasi strategis penyebaran dakwah. Saat manusia berinteraksi menggunakan jalur laut, di sanalah akan berlangsung aktivitas dakwah. Sebagaimana dahulu pernah memegang peran sentral dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Allahumma ahyanaa bil Islam.