Bullying, Hasil Sistem Pendidikan Kapitalisme Sekuler

Oleh: Ummu Tabib
Aktivis Dakwah Pasuruan
LenSaMediaNews.Com–Masa puber sering dilabelkan kepada remaja. Menurut dunia psikologi, remaja puber ditandai dengan pencarian jati diri, emosi yang tidak stabil, labil, dan penuh dengan keinginan ‘coba-coba’.
Miris rasanya melihat negeri ini, setiap kali menteri diganti, diganti pula sistem pendidikannya, mulai dari K13, merdeka belajar, kurikulum berbasis cinta dan entah apalagi nanti yang akan muncul. Sepertinya negeri ini suka ‘coba-coba’ seperti anak puber. Hal ini juga memerlihatkan ketidakkonsistennya negeri ini dalam memandang arti sebuah pendidikan.
Kurikulum yang sering berubah pun membuat pusing para orangtua. Mulai dari masalah buku pelajaran yang harus beli lagi karena buku milik kakaknya sudah tidak bisa dipakai akibat tidak sesuai dengan kurikulum baru, tugas baru, penyesuaian lagi dan biaya lagi. Karena hal ini juga, mereka mengeluh dan merasa kesulitan membimbing anak-anaknya dalam belajar.
Fakta tersebut membuat orang tua berbondong-bondong memasukkan anaknya ke bimbingan belajar yang harus diikuti sepulang sekolah. Bahkan privat agar anak mampu mengikuti materi-materi sekolah. Akhirnya, anak disibukkan sementara pendalaman agama terlupakan. Padahal, ilmu agama adalah bekal kita bisa hidup bahagia dunia dan akhirat.
Sayangnya, pembelajaran agama di sekolah umum pun hanya diberi porsi 2 jam dalam seminggu. Maka, sangat wajar jika hari ini kepribadian siswa cenderung labil. Buntutnya, banyak siswa yang suka merundung temannya.
Korban bullying pun sulit dikendalikan dan emosi mereka tidak stabil. Ujung-ujungnya, terjadi pelampiasan yang tidak tepat dalam menyelesaikannya, mulai dari pengeboman sekolah, bunuh diri, dan sebagainya. Maka, wajar jika kasus bullying bertambah besar. Data dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan, 51 persen kasus bullying di Indonesia terjadi di tingkat SD, SMP dan SMA.
Akar masalah
Kasus bullying marak karena sistem pendidikan negeri ini memakai Sistem Kapitalisme-sekuler. Adanya tingkatan sekolah dengan tarif berbeda menunjukkan bahwa negeri ini adalah negeri kapitalis, artinya secara sederhana ada uang ada sayang, ada uang ada layanan. Nggak ada uang, maaf maaf saja. Yang miskin dilarang sekolah, yang nggak punya uang dilarang mengenyam pendidikan berkualitas, cukup menikmati pendidikan ala kadarnya saja.
Sekuler bermakna memisahkan agama dari kehidupan. Pemisahan sekolah agama dan sekolah umum adalah salah satu bukti bahwa negeri kita adalah negara sekuler. Kebebasan bertingkah laku pada pelajar juga adalah hasil dari penanaman Sekularisme di kurikulum pendidikan.
Sekularisme menjunjung tinggi 4 aspek kebebasan; kebebasan beragama, berpendapat, bertingkah laku, dan kepemilikan. Akibatnya, para pelajar bertingkah laku seenaknya dan cenderung sulit ketika harus diatur dengan Islam yang merupakan agama yang sempurna dan terlengkap mengatur kehidupan dunia akhirat. Pelajar juga dijauhkan dari pendidikan agama. Hal ini dibuktikan dengan minimnya jam pelajaran agama di sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa sekularisme membuat manusia bebas berkehendak tanpa aturan Allah SWT.
Padahal, Allah SWT. Yang Maha Segalanya tahu kondisi hamba yang diciptakanNya dan apa yang terbaik baginya, sehingga hidup kita dilengkapi seperangkat aturan yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati. Al-Quran dan Sunnah ada untuk menjawab berbagai macam problematika manusia termasuk pelajar dan yang pasti untuk pelajar anti galau dan anti ‘mewek’ untuk hal yang tidak penting.
Penyelesaian
Islam dengan seperangkat aturannya juga menyelesaikan persoalan pendidikan. Karena melalui pendidikan, generasi akan mengetahui arah dan tujuan hidup. Kurikulum pendidikan yang diampu oleh Khilafah adalah kurikulum yang dibangun berdasarkan akidah Islam. Tujuannya mewujudkan peserta didik yang berkepribadian Islam, yakni berpola fikir dan sikap sesuai syariat Islam. Materi dan metode pendidikan didesain sedemikian rupa sehingga peserta didik memahami dan meyakini eksistensi Allah SWT.
Kesadaran dalam beriman diwujudkan dengan memandang rida Allah SWT. sebagai kebahagiaan tertinggi dan keterikatan kepada syariat-Nya adalah hal yang mutlak. Alhasil, peserta didik memandang Islam sebagai sistem kehidupan satu-satunya yang layak bagi manusia. Akhlak mulia akan benar-benar menghiasi segenap aktifitas pelajar dan Islam menjadi standar dalam mengambil keputusan dalam setiap tingkah lakunya. Disaat yang bersamaan, mempersiapkan potensi intelektual dan kejiwaan peserta didik menjadi para pakar diberbagai bidang keilmuan dan keahlian.
Saatnya kita berlari untuk berubah dengan sistem yang sahih, yaitu Islam yang kamilan. Sekaligus meninggalkan sistem kufur Kapitalisme-sekuler. Allahu akbar! Wallahu A’lam bishowab. [LM/ry].
