HAM: Alat Propaganda dan Penjajahan Barat

Oleh Zahra Kamila
LensaMediaNews.com, Opini_ Tanggal 10 Desember 2025 lalu, sebagaimana diketahui, untuk kesekian kalinya kita peringati sebagai Hari Hak Asasi Manusia ( HAM) se-Dunia. Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se-Dunia yang jatuh setiap 10 Desember adalah momen global untuk meningkatkan kesadaran dan mempromosikan penghormatan terhadap hak-hak dasar manusia serta memperingati adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) oleh PBB tahun 1948.
Beberapa negara seperti Indonesia memperingatinya dengan tema nasional untuk refleksi dan aksi. Secara umum, peringatan ini di berbagai negara bertujuan menegaskan kembali hak untuk hidup, kebebasan, kesetaraan di mata hukum, pendidikan, kesehatan, dan partisipasi publik, sebagai standar universal.
Hak Asasi Manusia (HAM) yang selama ini digembar-gemborkan kalangan sekuler sesungguhnya bagian dari ide demokrasi yang dipropagandakan Barat sekaligus dijajakan ke negeri-negeri Islam. Termasuk demokrasi sendiri didasarkan pada paham kebebasan. Ide HAM yang didasarkan pada liberalisme (kebebasan) ini berbahaya dalam beberapa aspek.
Kebebasan beragama (freedom of religion) misalnya, bukanlah semata-mata ketidakbolehan memaksa seseorang untuk memeluk agama tertentu, tetapi kebebasan untuk murtad dari Islam, bahkan untuk tidak beragama sama sekali. Atas dasar kebebasan juga, keyakinan dan praktik yang menyimpang dari Islam dibiarkan.
Pada bidang sosial, dengan alasan kebebasan berperilaku sebagai ekspresi kebebasan individu, HAM melegalkan praktik yang menyimpang dari Islam seperti seks bebas, homoseksual, lesbian serta pornografi dan pornoaksi. Akibatnya, kemaksiatan pun meluas di tengah-tengah masyarakat. Banyaknya anak muda tidak perawan lagi, hamil di luar nikah, dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, jumlah pengidap penyakit HIV/AIDS pun terus meningkat akibat perilaku tersebut.
Pada bidang politik ide HAM juga digunakan sebagai political hammer (palu politik) untuk menyerang perjuangan penegakan syariah Islam yang merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Tidak hanya itu, HAM juga mengancam stabilitas dan kesatuan politik negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia.
Pada bidang ekonomi, liberalisasi ekonomi telah menjadi jalan perampokan terhadap kekayaan negeri-negeri Islam atas nama kebebasan kepemilikan. Tambang minyak, emas, perak, batubara yang sebenarnya merupakan milik rakyat (al-milkiyah al- amah), di rampok atas nama kebebasan investasi dan perdagangan bebas.
Selain menyesatkan, HAM sesungguhnya menjadi salah satu alat ampuh penjajahan Barat atas negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia. Dengan kata lain, penerapan HAM tidak terlepas dari kepentingan politis, ekonomis dan ideologis dari negara-negara yang punya kekuatan besar.
Meski gagasan dan propaganda HAM berasal dari Barat, sejarah justru menunjukkan bahwa Barat adalah bangsa kolonialis-imperialis yang sangat tidak menghormati dan menghargai HAM. Kenyataannya, penjajahan yang mereka lakukan telah mendatangkan bencana dan penderitaan yang sangat berat atas berbagai bangsa di dunia.
Hanya Islam yang memuliakan manusia. Nilai HAM yang nisbi, yang sarat dengan masuknya kepentingan semestinya menyadarkan kita untuk kembali ke nilai-nilai yang paripurna, yaitu nilai-nilai ilahiah. Itulah nilai-nilai Islam. Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan dan kemuliaan manusia.
Atas kemuliaan itulah Islam melindungi jiwa manusia dari ancaman sesamanya. Perlindungan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan dan memelihara eksistensi manusia. Karena itu, pembunuhan atas satu jiwa manusia pada hakikatnya sama seperti membunuh semua manusia.
Hak-hak lainnya seperti hak memiliki dan mengusahakan harta (ekonomi), hak berpolitik, hak edukasi, dan hak primer yang lain dijamin pemenuhannya oleh Islam melalui tanggung jawab negara dalam merealisasikan kehidupan Islam.
Dengan demikian semestinya kita kembali pada prinsip-prinsip yang bersumber dari sang Pencipta yaitu Allah SWT. Dengan keyakinan yang penuh dan keikhlasan untuk taat terhadap risalah-Nya, penegakan dan perlindungan atas hak-hak asasi manusia hanya akan terwujud manakala Islam memegang tampuk kekuasaan, dan dunia berada dalam kendali kepemimpinannya. Itulah Daulah Islam.
Wallahu ‘alam bisshawab.
