Ibu dan Pemuda Sebagai Pelopor Perubahan

Oleh Nina Marlina, A.Md
Aktivis Muslimah
LenSaMediaNews.Com–Kondisi pemuda saat ini kian memprihatinkan. Di dunia nyata, mereka terjerumus dalam pergaulan bebas, kekerasan, miras dan narkoba. Sementara di dunia digital, mereka ikut terseret dalam arus sekulerisasi seperti judol, pinjol, cybercrime, cyberbullying dan sebagainya. Akibatnya, generasi kehilangan jati dirinya sebagai muslim dan pelopor perubahan.
Tak hanya kaum muda, kondisi kaum ibu pun tak kalah memprihatinkan. Mereka telah menjadi korban Sistem Kapitalisme. Terlihat dari degradasi peran mereka sebagai ummu wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga) serta pendidik generasi. Kemuliaan mereka terkikis oleh kehidupan sekuleristik.
Peran Pemuda dan Ibu dalam Islam
Generasi muda adalah generasi yang istimewa. Mereka memiliki segudang potensi dan kelebihan. Namun, akibat sekulerisasi dan digitalisasi tanpa arah, akhirnya mereka menjadi generasi yang lemah. Digitalisasi yang berada di bawah hegemoni kapitalisme saat ini, tak hanya bertujuan ekonomi tetapi juga menyebarkan ideologi batil yang menjauhkan umat dari pemikiran Islam. Akibatnya, banyak tren tidak bermanfaat yang beredar di media sosial. Bahkan seringkali berisi hal-hal yang merusak nilai moral, mengikis iman, dan menjerumuskan ke dalam dosa.
Negara sekuler memang memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial. Mereka dimanfaatkan oleh para kapitalis untuk meraih keuntungan. Banjirnya produk-produk bagus dan murah di media online telah menciptakan gaya hidup konsumtif. Selain itu, kaum sekuler menjauhkan dua generasi ini dari pembekalan Islam kafah.
Maka sejatinya, akar persoalan yang terjadi sekarang adalah terletak pada adopsi sekulerisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara, sehingga peran agama dibatasi hanya pada ranah privat saja. Dengan dibatasi dan dijauhkannya agama, umat makin kehilangan arah dalam menyelesaikan setiap problematika hidup.
Tak ada yang menampik bahwa pemuda adalah aset peradaban. Mereka memiliki potensi sebagai agen perubahan dan penerus bangsa. Karena begitu besarnya potensi pemuda tersebut, maka haruslah diarahkan. Pasalnya, mengarahkan potensi pemuda, akan sangat menentukan posisi mereka.
Meski hal ini tidak mudah, namun jangan lelah dan putus asa. Dalam Islam, pengarahan pemuda adalah tanggung jawab bersama. Ada 3 pihak yang berperan yaitu, negara, orang tua, dan lingkungan. Merekalah yang akan menjadi penggerak peradaban dan peraih kegemilangan Islam.
Sementara itu, ibu adalah sosok yang berperan besar dalam melahirkan pemuda pelopor perubahan dan pejuang peradaban. Seorang ibu harus senantiasa membersamai anaknya dalam tumbuh kembangnya sekaligus menjadi sahabat takwa bagi mereka.
Hal ini bertujuan agar anak terjaga dari paparan kehidupan sekulerisme-kapitalistik yang dapat menggerus keimanan mereka kapan saja. Ibu juga harus mendukung dan membersamai pergerakan generasi pelopor perubahan. Mereka harus mau dibina, membina dan menempa diri dengan pembinaan Islam kafah. Dengan ini, maka akan tertanam spirit perjuangan untuk mengubah sistem rusak ke penegakkan sistem sahih, yakni Sistem Islam. Sesungguhnya ibu dan pemuda adalah penerus risalah agama yang agung ini.
Urgensi Jamaah Dakwah Islam Ideologis
Namun untuk memperkuat peran ibu generasi ini butuh pemahaman mabda ( ideologi) Islam. Selain itu, perlu mencari circle perjuangan dan partai yang menjadi wadah pembinaan serta pengembangan potensi diri serta ibu generasi. Di tengah penerapan Sistem Kapitalisme, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam.
Adapun, landasan kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik yaitu firman Allah SWT. yang artinya, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung“. (TQS Ali Imran:104).
Hal ini sebagaimana yang diteladankan Rasulullah Saw., yang membentuk sebuah kutlah (kelompok dakwah) bernama Hizbur-Rasul. Jamaah dakwah ini membina umat, termasuk ibu dan generasi muda, dengan Islam ideologis. Selain itu, menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban yang membela dan mengemban Islam kafah.
Ada 3 tahapan dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat kala itu di fase Makkah. Pertama, tatsqif (pembinaan). Rasulullah saw. membina para sahabat dalam sebuah kelompok dengan pembinaan Islam. Kedua, tafa’ul (berinteraksi) dengan umat. Ketiga, tatbiq (penerapan) hukum Islam yang sebelumnya telah dilakukan istilamul hukmi (penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan).
Untuk itu, sudah saatnya para ibu dan pemuda bersinergi dalam dakwah. Insya Allah, dengan dakwah akan memperoleh kebaikan dan kemuliaan. Dengannya pula, perubahan menuju tegaknya Islam bisa terwujud. Allahu Akbar! Wallahu a’lam bishawab. [LM/ry].
