Ketika Anak Dibatasi, Tapi Sistem Dibiarkan

Oleh: Noviya Dwi
LenSaMediaNews.Com–Dunia tengah gelisah. Anak-anak dan remaja kian tenggelam dalam ruang digital yang tidak ramah bagi fitrah mereka. Negara-negara seperti Australia, Malaysia, hingga sejumlah negara Eropa mulai membatasi akses media sosial bagi anak.
Indonesia pun mengikuti dengan menerbitkan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak. Sekilas, kebijakan ini tampak progresif. Namun pertanyaan mendasarnya, benarkah pembatasan media sosial mampu melindungi generasi, atau justru menutupi masalah yang jauh lebih mendasar?
Anak Terpapar, Negara Bereaksi
Fakta menunjukkan bahwa anak dan remaja hari ini adalah pengguna aktif media sosial. Waktu layar yang panjang berkorelasi dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, krisis kepercayaan diri, hingga kecanduan digital. Negara kemudian merespons dengan pembatasan usia, verifikasi akun, dan sanksi bagi platform digital. Rendahnya literasi digital dan budaya membaca dijadikan alasan utama kebijakan ini.
Namun reaksi negara lebih bersifat reaktif dan teknis. Anak dibatasi, tetapi sistem yang melahirkan kerusakan dibiarkan tetap berjalan. Media sosial dijadikan kambing hitam, seolah ia satu-satunya penyebab kerusakan generasi (kompas.com/13-12-2025).
Media Sosial Bukan Akar Masalah
Generasi muda hari ini bukan sekadar pengguna media digital, melainkan telah diposisikan sebagai pasar paling potensial bagi industri teknologi dan kapital global. Dengan waktu layar yang panjang dan ketergantungan tinggi pada gawai, kaum muda menjadi sasaran empuk berbagai produk digital, termasuk narasi ideologis yang disisipkan secara sistematis.
Ruang digital tidak lagi netral. Konten yang dikonsumsi menjadi tabungan informasi yang membentuk cara berpikir, menentukan standar benar-salah, bahkan mengarahkan pandangan hidup. Algoritma bekerja senyap, menyajikan apa yang disukai, bukan apa yang benar. Kontrol terjadi tanpa paksaan dan tanpa disadari.
Di media sosial, ide-ide sekuler dan liberal mengalir deras: kebebasan tanpa batas, relativisme nilai, dan glorifikasi gaya hidup individualistik. Dalam kondisi ini, pembatasan teknis jelas tidak cukup. Generasi muda membutuhkan benteng ideologis.
Sayangnya, banyak anak muda muslim yang rindu perubahan, namun masih mengambil solusi parsial. Mereka aktif dan vokal, tetapi tanpa fondasi cara pandang hidup yang sahih. Akibatnya, lahir aktivisme prematur yang mudah lelah, mudah kecewa, dan mudah tergiur jabatan.
Tanpa sadar, sebagian justru meniru pola aktivis liberal. Meski muslim, perannya hanya menjadi penyangga sistem kapitalisme, bukan pengubah arah peradaban. Masalah utamanya bukan pada semangat, melainkan pada fondasi berpikir.
Islam Membangun Benteng Ideologis Generasi
Islam memandang generasi muda sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi naluri, kebutuhan jasmani, dan akal. Potensi ini tidak boleh dibiarkan tumbuh liar dalam sistem yang rusak. Ia harus diarahkan melalui cara pandang hidup yang sahih, bersumber dari Sang Khalik.
Islam bukan sekadar mengatur ibadah ritual, tetapi menghadirkan mabda’ (ideologi) yang menjelaskan tujuan hidup serta standar baik dan buruk. Ketika Islam diambil secara utuh, generasi muda tidak mudah goyah oleh tren, tidak silau jabatan, dan tidak terjebak solusi setengah jalan.
Namun pembinaan ideologis tidak cukup dibebankan pada individu. Islam menuntut hadirnya (jawwil iman) lingkungan iman yang lahir dari sinergi keluarga, masyarakat, dan negara. Di sinilah peran strategis partai politik Islam ideologis sebagai tulang punggung pembinaan umat: mencerdaskan umat, meningkatkan taraf berpikir, membina generasi muda, serta menjalankan muhasabah lil hukam agar kekuasaan tidak melenceng.
Negara pun memegang peran kunci. Dalam sistem Islam Kafah, negara bertanggung jawab menciptakan ekosistem yang menjaga iman generasi melalui pendidikan berbasis akidah, media yang tunduk pada syariat, serta hukum yang melindungi akal dan moral. Dengan sistem ini, generasi tidak mudah dikendalikan oleh pasar dan ideologi asing.
Inilah solusi Islam. Bukan tambal sulam, tetapi perubahan arah. Bukan sekadar membatasi anak, tetapi membenahi sistem.Wallahu a’lam bishshawab. [LM/ry].
