Tantangan Mental Generasi Muda di Era Digital

TantanganDigital-LenSaMediaNews

LenSaMediaNews.Com–Masalah kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia kini telah memasuki tahap serius. Fenomena ini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan pribadi semata, melainkan telah menjadi problem struktural yang berkaitan langsung dengan arah pembangunan manusia. Negara tidak boleh bersikap pasif, sebab masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan mental, keteguhan moral, serta kejelasan tujuan hidup generasi mudanya.

 

Peringatan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) terkait meningkatnya kecemasan, tekanan emosi, hingga hilangnya makna hidup pada generasi muda semestinya menjadi alarm keras bagi negara (Kemenkes.go.id, 26-11-2025).

 

Fakta ini menunjukkan bahwa sistem yang berjalan belum mampu menciptakan lingkungan sehat bagi tumbuh kembang jiwa anak dan remaja. Persoalan ini bukan kesalahan individu, melainkan dampak dari kebijakan dan sistem kehidupan yang abai terhadap kesehatan mental masyarakat.

 

Selama ini, pembangunan masih dipahami secara sempit dengan menitikberatkan pada aspek ekonomi dan fisik. Padahal, pembangunan sumber daya manusia menuntut perhatian serius pada dimensi mental, moral, dan arah hidup. Tanpa fondasi tersebut, kemajuan material justru melahirkan kegelisahan dan kehampaan batin.

 

Derasnya arus digital tanpa kendali nilai menjadi salah satu penyebab rapuhnya mental generasi muda. Media sosial dibiarkan tunduk pada logika pasar. Konten diproduksi demi keuntungan, bukan demi kebaikan. Anak dan remaja pun terpapar gaya hidup semu, standar kebahagiaan palsu, serta krisis identitas yang berujung tekanan psikologis.

 

Negara tidak boleh menyerahkan ruang digital sepenuhnya kepada mekanisme kapital. Regulasi teknis tanpa landasan nilai tidak akan menyelesaikan persoalan. Ketika negara absen mengarahkan tujuan ruang publik digital, generasi muda menjadi korban eksploitasi sistem.

 

Di sisi lain, sikap kritis generasi muda terhadap ketidakadilan patut diapresiasi. Namun, tanpa arah ideologis yang jelas, semangat ini mudah berubah menjadi kemarahan tanpa solusi dan kelelahan kolektif.

 

Islam menawarkan solusi menyeluruh. Kesehatan mental tidak dipisahkan dari keimanan dan tujuan hidup. Ketenangan lahir dari keyakinan yang benar. Karena itu, negara semestinya hadir sebagai pengarah nilai. Penerapan syariah Islam secara kafah dalam naungan Khilafah menjadi solusi hakiki melahirkan generasi sehat mental, kuat iman, dan siap memimpin peradaban.

 

Jika negara gagal menjalankan peran ini, generasi muda bukan menjadi bonus demografi, melainkan beban sejarah. Wallahualam bissawab. Isnawati, Muslimah Penulis Peradaban. [LM/ry].