Menyelami Makna Toleransi di Hari Natal

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Opini_ Manusia diciptakan Allah dalam keadaan fitrah. Fitrah itu membawa kebutuhan paling dasar dalam diri manusia: butuh beribadah, butuh terhubung dengan Sang Maha Mencipta. Karena kebutuhan ini bersifat fitri, setiap manusia akan berusaha memenuhinya. Ada yang menempuhnya melalui Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, Islam, atau keyakinan lainnya.
Pada saat yang sama, manusia juga memiliki kebutuhan lain yang tidak kalah kuat: butuh diakui dan dihormati pilihannya. Ia ingin merasa aman dengan keyakinan yang dipeluknya, tanpa paksaan dan tanpa cemooh. Karena itulah Allah ﷻ, Sang Maha Pencipta yang paling memahami fitrah ciptaan-Nya, menegaskan prinsip besar dalam beragama:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama
(QS al-Baqarah [2]: 256)
Ayat ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada manusia. Bahwa iman tidak lahir dari tekanan, melainkan dari kesadaran.
Namun pada saat yang sama, Allah juga dengan jujur menyampaikan kebenaran hakiki:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam
(QS Ali ‘Imran [3]: 19)
Dua ayat ini tidak bertentangan. Justru saling melengkapi. Allah memberi kebebasan memilih, sekaligus menjelaskan mana yang benar. Dan setelah manusia memilih, Islam mengajarkan satu sikap penting: kejujuran dalam beragama.
Karena itu Allah mengingatkan:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ
Janganlah kalian mencampuradukkan yang haq dengan yang batil
(QS al-Baqarah [2]: 42)
Di sinilah persoalan perayaan hari besar agama lain perlu diletakkan secara jernih. Ketika seorang Muslim ikut merayakan ibadah agama lain atas nama toleransi, yang terjadi bukanlah toleransi, melainkan pencampuran keyakinan.
Islam tidak melarang manusia memilih. Namun Islam mengajarkan: jika sudah memilih, bersikaplah konsekuen. Beribadahlah dengan jujur sesuai keyakinan, tanpa mencampurkannya demi rasa aman sosial atau keinginan mencari “jalan tengah”. Justru pencampuran inilah yang perlahan melahirkan kegamangan: ragu pada pilihan iman, ragu pada kebenaran, lalu sibuk mencari pembenaran agar semua terasa aman.
Konsep toleransi seperti ini lahir dari pengalaman pahit Eropa Kristen, konflik berdarah yang memaksa agama dipisahkan dari kehidupan. Dari trauma itulah muncul gagasan bahwa kebenaran dianggap relatif dan semua agama harus dilebur dalam ruang sosial.
Namun Islam tidak lahir dari trauma sejarah.
Islam datang sebagai wahyu, bukan kompromi konflik. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi mengelolanya dengan kejelasan akidah dan keadilan sosial. Toleransi dalam Islam bukan mencampuradukkan ibadah, melainkan hidup berdampingan dengan saling menghormati, sambil menjaga kemurnian keyakinan masing-masing. Di sinilah keindahan Islam tampak:
tegas dalam iman, lembut dalam interaksi;
jelas dalam akidah, adil dalam muamalah.
Namun keindahan ini tidak cukup dijaga oleh kesadaran individu semata. Manusia juga memiliki kebutuhan fitri lain yaitu rasa aman: aman menjalani keyakinan, aman dari tekanan, aman dari kaburnya batas halal dan haram.
Karena itu Islam mengenalkan peran kepemimpinan. Rasulullah ﷺ menjelaskan fungsinya dengan sangat indah. Beliau menyebut pemimpin sebagai junnah perisai, pelindung. Artinya, pemimpin dalam Islam bukan sekadar pengelola kekuasaan, tetapi pelindung akidah umat, penjaga batas halal dan haram, serta pengayom seluruh rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim.
Tanpa perisai ini, nilai-nilai Islam mudah tergerus. Toleransi bergeser makna. Penghormatan terhadap perbedaan berubah menjadi tuntutan untuk meleburkan keyakinan. Dan umat perlahan merasa “tidak enak” jika bersikap tegas dengan imannya sendiri.
Padahal Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Siapa saja yang mati sementara di lehernya tidak ada baiat (kepada pemimpin), maka ia mati dalam keadaan seperti mati jahiliyah.
(HR. Muslim)
Hadits ini bukan ancaman, melainkan peringatan penuh kasih: bahwa keteraturan hidup beragama dan bermasyarakat membutuhkan kepemimpinan yang amanah. Dan Islam hadir untuk menjaga manusia agar bisa beragama secara utuh:
menghormati orang lain tanpa kehilangan jati diri, hidup berdampingan tanpa mencairkan keyakinan. Menjaga akidah bukan berarti menutup diri.
Bersikap tegas bukan berarti memusuhi.
Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk beribadah sesuai fitrah, memberi keberanian untuk konsisten dengan iman, dan menghadirkan kepemimpinan yang menjadi junnah, perisai bagi agama dan kemanusiaan. Karena toleransi sejati bukanlah toleransi yang mencampur, melainkan toleransi yang memuliakan manusia tanpa mengorbankan kebenaran.
Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.
