Sekolah Libur, MBG Jalan Demi Perbaiki Gizi?

MBG-LenSaMediaNews

Oleh: Iliyyun Novifana

 

LenSaMediaNews.Com–Liburan semester ganjil Desember 2025 telah diterapkan oleh sejumlah sekolah di Indonesia. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan bahwa meski libur sekolah, program MBG tetap berjalan sebagaimana mestinya.

 

Dengan menyiapkan berbagai alternatif bagi siswa untuk mendapatkan MBG demi perbaikan gizi anak, diantaranya adalah  siswa ambil MBG ke sekolah atau ke SPPG, dan bisa juga dengan pilihan delivery ke rumah siswa. Sementara kategori 3B yaitu MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita tetap berlangsung seperti biasa.

 

Adapun untuk menu MBG selama liburan sekolah, Kepala BGN mengatakan yaitu menu siap santap seperti telur, buah, susu, abon, atau dendeng, sedangkan menurut Waka BGN Nanik selama libur menu MBG bisa menyesuaikan dengan bahan kering seperti buah, roti, susu, dan telur asin (detik.com, 22 -12-2025).

 

Menyoroti pernyataan dari pejabat negara bahwa program MBG ini adalah untuk perbaikan gizi anak-anak di Indonesia, dalam pelaksanaannya selama setahun perjalanan ini, faktanya, program MBG tak lepas dari kritik berbagai pihak.

 

Mulai dari kasus keracunan makanan, ompreng yang mengandung babi, SPPG yang tidak sesuai standar, hingga anggaran yang besar yang berdampak pada pengurangan anggaran di bidang lain. Bahkan keberadaan MBG ini tidak menyelesaikan ancaman stunting. Hal ini menunjukkan bahwa program MBG adalah program populis kapitalistik, yang penting program terlaksana tanpa melihat dari sisi apakah membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

 

Program MBG yang tetap dijalankan meskipun banyak persoalan yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa program ini bukan untuk kepentingan rakyat, tapi kepentingan penguasa dan pengusaha yang mengelola dapur SPPG yang kebanyakan adalah kroni penguasa.

 

Dilihat dari sisi anggarannya pun menunjukkan bahwa penguasa tidak amanah terhadap anggaran negara yang strategis. Demikianlah yang terjadi, mau ganti orang berapa pun yang memimpin negeri ini namun dengan sistem yang sama yaitu kapitalisme, maka gebrakan baru yang dilahirkan tak lepas dari mencari cuan untuk penguasa, pengusaha, dan kawanannya.

 

Rakyat hanya sebagai alat untuk meraih cuan tersebut. Ibarat berada di dalam sebuah kendaraan yang sudah rusak di berbagai bagian, sama saja, mau sopirnya handal apalagi yang tidak handal yang mengemudikan, maka penumpang di dalam kendaraan itu pasti akan was-was jikalau tiba-tiba rem blong dan masuk jurang.

 

Adapun dalam Sistem Islam, setiap kebijakan penguasa adalah untuk kepentingan rakyat, untuk kemaslahatan rakyat. Bukan untuk cari keuntungan pribadi. Bahkan seorang penguasa dalam Sistem Islam digambarkan sebagai pelayan umat yang tugasnya adalah untuk melayani umat agar terpenuhi seluruh kebutuhan umat termasuk dalam hal pemenuhan gizi.

 

Kebutuhan gizi rakyat dipenuhi dengan melibatkan berbagai pihak secara integral. Sistem pendidikannya mengedukasi tentang gizi, sistem ekonominya memenuhi kebutuhan dasar rakyat,  negara menyediakan lapangan pekerjaan untuk para kepala keluarga sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarganya.

 

Serta ada jaminan dari negara terhadap ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau sehingga makanan bergizi mudah diakses rakyat. Kondisi negeri semacam ini hanya akan terwujud jika Islam diterapkan di setiap lini kehidupan. Tidak diambil secara prasmanan ataupun sekuler. Wallahua’lam bishshowab. [LM/ry].