Sistem Islam Atasi Jebakan Game Online

Sistem Islam Atasi Game Online

Lensamedianews.com, Surat Pembaca— Fakta yang berkembang saat ini menunjukkan bahwa unsur kekerasan dalam game online bisa memengaruhi pola pikir dan emosi anak. Adrenalin meningkat sehingga anak lupa waktu. Ada juga game yang menyebabkan penggunaan uang tidak terkendali, sekadar untuk membeli item atau karakter langka. Bahkan, memicu anak untuk bermain game online setiap hari hanya demi mendapatkan daily login reward. Ada game yang menyebabkan anak menghindar dari realitas kehidupan karena sibuk dengan dunia game online. Anak akan mudah berinteraksi dengan orang tak dikenal, berpotensi menjadi korban predator online yang hanya memikirkan keuntungan pribadi semata. Judi online yang dikemas dalam bentuk game memicu anak untuk menghabiskan uang tanpa berpikir panjang. (detik.com, 22-02-2026).

Terindikasi dua anak di wilayah Kalimantan Tengah terpapar paham radikal. Melalui grup WA game online, kemudian disampaikan ajaran radikal, seperti membunuh dan bentuk tindakan berbasis kebencian lainnya. (kompas.com, 05-01-2026).

Dan banyak lagi kasus-kasus paparan negatif game online tersebar di berbagai media sosial. Hal ini menandakan bahwa informasi terkait hal-hal yang meracuni pola pikir generasi muda dikemas dalam bentuk game online beserta reward yang menarik, sehingga memicu anak penasaran untuk memainkan game tersebut secara terus-menerus.

Tanpa disadari, hal ini menggiring anak masuk ke dalam jebakan game online yang cenderung membuat terlena, memacu adrenalin, sehingga lupa akan realitas kehidupan dan menumpulkan kemampuan berpikir generasi muda. Sementara platform digital yang didesain berlandaskan pada asas manfaat dan dikuasai oleh kapitalis global tentu saja tidak peduli dengan efek negatif yang ditimbulkan dari adanya game online tersebut.

Hal ini jika dibiarkan saja tanpa solusi yang tepat, maka akan merusak moral generasi muda. Dibutuhkan adanya kolaborasi antara individu, keluarga, masyarakat, lingkungan, dan negara untuk menjaga serta melindungi moral generasi muda. Upaya perlindungan generasi muda tidak cukup hanya melalui batasan usia pengguna, tetapi dibutuhkan adanya sistem yang mampu mengambil alih kekuatan kedaulatan di ruang digital.

Kekuatan kedaulatan di ruang digital bisa melalui jalur ketakwaan individu, adanya kontrol keluarga dan masyarakat, serta perlindungan dari negara. Sistem yang digunakan untuk menghimpun kekuatan kedaulatan di ruang digital haruslah yang sahih. Hanya dengan sistem Islam dapat melawan kekuatan kapitalis global serta mencegah kerusakan moral generasi muda dari jebakan game online yang sesat. Sebab, sistem Islam adalah sistem sempurna paripurna, berasal dari Al-Khaliq (Sang Pencipta), yang memahami makhluk-Nya.
Wallahu a‘lam bishshawab. [LM/Ah]

Cokorda Dewi