Aktivasi Generasi Digital untuk Kebangkitan Islam

PeranIbu-LenSaMediaNews

Oleh : Tita Rahayu Sulaeman

Aktivis RAGB Bandung

 

 

 

LenSaMediaNews.Com–Di era perkembangan teknologi yang pesat seperti saat ini, peran orang tua bertambah berat. Orang tua dituntut untuk memahami dunia anak yang dekat dengan teknologi. Survei APJII mengungkap bahwa Generasi Z adalah kelompok paling dominan dalam penggunaan internet dengan kontribusi 25,54 persen dari total pengguna. Disusul Generasi Milenial dengan 25,17 persen (cloudcomputing.id,12-08-2025).

 

 

Perkembangan teknologi dirasakan memberikan manfaat. Sayangnya platform digital ini lahir dari para kapital global yang memiliki ideologi kapitalisme. Konten-konten di dalamnya sarat nuansa sekuler dan liberal. Mereka membuat aturan dengan sebutan “standar komunitas”. Nyatanya, masih banyak ditemui konten-konten bermuatan kekerasan, pronografi dan pronoaksi.

 

 

Aplikasi judi online dan pinjaman online pun masih merajalela padahal telah jelas-jelas memberikan dampak yang buruk di masyarakat. Perkembangan teknologi tidak lagi hadir sebagai alat yang mempermudah kehidupan, tapi merupakan alat para kapital global untuk menguasai generasi dan menjadikan generasi sebagai pangsa pasar.

 

 

Beratnya Menjadi Ibu di Sistem Kapitalis–Sekular

 

 

Menjalani peran sebagai seorang ibu dalam kehidupan sekular saat ini amatlah berat. Ajaran Islam yang ditanamkan kepada anak-anak di rumah, bisa luntur ketika berinteraksi dengan masyarakat yang belum bertakwa. Kemaksiatan dilakukan secara terang-terangan. Masyarakat bertakwa semestinya hadir, dengan melaksanakan amar makruf nahi mungkar untuk menjaga ketakwaan individu. Kehadiran negara juga dibutuhkan untuk menerapkan aturan-aturan dari Allah swt. sebagai pencipta manusia, untuk menjaga ketakwaan individu yang telah terbentuk di rumah.

 

 

Sistem Kapitalisme semakin memberatkan ibu dalam menjalani perannya. Para ibu dituntut untuk membantu perekonomian keluarga karena biaya hidup tinggi. Padahal dalam pandangan Islam, tidak ada kewajiban pada perempuan untuk melakukan semua hal itu.

 

 

Peran Ibu Dalam Mengembalikan Kehidupan Islam

 

 

Peran ibu sebagai pendidik (madrasatul ula) dibutuhkan. Ibu tidak hanya dituntut untuk menguasai menggunakan gadget sebagaimana anak-anaknya mahir menggunakan gadget. Namun ibu juga harus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya, hakikat teknologi yang saat ini ada dalam genggaman anak-anak mereka. Sehingga anak-anak mampu menggunakan teknologi, bukan dikuasai oleh teknologi.

 

 

Setidaknya, ibu harus memberikan pemahaman tentang tiga hal ini kepada anak-anaknya. Pertama, bahwa kita semua adalah makhluk Allah swt. yang memiliki misi untuk beribadah (QS Adz dzariat : 56). Dengan memiliki pemahaman ini, maka akan mendorong kita untuk memilih aktifitas mana saja yang bernilai ibadah di hadapan Allah swt. dan meninggalkan segala bentuk aktifitas yang melalaikan dan menjauhkannya dari misi hidupnya. Pemahaman liberal yang mendorong manusia untuk bebas menjalani hidup sesuai kehendaknya adalah bertentangan sengan ajaran Islam. Karena Allah swt. telah menentukan tujuan hidup manusia.

 

 

Kedua, Kita adalah umat terbaik (QS Ali Imran : 110). Umat Islam pernah memimpin peradaban, menjadi khairu ummah ketika Islam hadir mengatur kehidupan secara menyeluruh dengan keberadaan negara yang menerapkannya. Saat ini umat Islam sebagai kharu ummah belum terwujud karena umat Islam meninggalkan syariat Islam dalam hidupnya. Pemahaman sekuler tidak akan menjadikan kita menjadi umat terbaik. Karena hanya dengan Islamlah, manusia menjadi umat terbaik.

 

 

Ketiga, Kita adalah Khalifah fil Ardh (QS Al-Baqarah : 30). Manusia telah Allah tetapkan sebagai pemimpin di bumi. Manusia dituntut untuk mewujudkan ibadah pada Allah semata, berhukum dengan syariatNya, mengerjakan perintahNya, dan mencegah apa yang dilarangNya di muka bumi. Inilah apa yang diupayakan para Nabi, para Rasul, ulama yang shalih, dan hamba yang bertakwa.

 

 

Inilah pemahaman yang harus ada dalam diri seorang muslim. Tidak memandang ia tua maupun muda. Ia generasi Baby Boomer, Millennial, maupun Gen z. Dengan kesamaan pemahaman ini, maka teknologi tidak akan menjadi jurang pemisah bagi orang tua dengan anak. Tidak akan ada kesenjangan pandangan, nilai, dan tujuan hidup karena orang tua dan anak sama-sama menjadikan Islam sebagai standar pemahaman dan perilakunya.

 

 

Ibu, juga adalah seorang hamba Allah yang memiliki kewajiban dakwah kepada umat. Maka jadilah teladan bagi anak-anak dalam hal membekali diri dengan ilmu dan melaksanakan dakwah untuk mewujudkan peradaban Islam. Tugas Ibu, tidak hanya mendidik anak-anaknya di rumah, namun juga melaksanakan dakwah di tengah-tengah umat untuk mengembalikan kehidupan pada Islam.

 

Dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 104, Allah swt. menghendaki adanya sekelompok manusia yang aktivitasnya mengajak pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dakwah bukan hanya tugas orang tua, guru dan para ustaz atau ustazah, namun kewajiban bagi setiap muslimin. Wallahua’lam bishowab. [LM/ry].

.