Gen Z di Persimpangan Iman

GenZ-LenSaMediaNews

Oleh: Annisa Lailia

 

LenSaMediaNews.Com–Gen Z ialah generasi yang lahir dengan kompas digital di tangan. Ironisnya, mereka pun generasi yang paling sering bertanya: “Untuk apa hidup ini?”

 

Kelompok yang lahir setelah Generasi Milenial dan sebelum Generasi Alpha, Gen Z adalah generasi yang sepenuhnya tenggelam dalam ekosistem digital sejak masa kanak-kanak. Generasi yang sangat terbiasa dengan teknologi, media sosial dan informasi instan.

 

Alih-alih menjadi generasi emas, Gen Z justru dijuluki “Anxious Generation” (Generasi Cemas). Masalah mental health, krisis identitas sampai standar kebahagiaan yang belum terpetakan sering menjadi isu utama pada Gen Z.

 

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, mengatakan bahwa kemajuan teknologi membuat generasi muda jauh lebih kritis, lebih cepat menyerap informasi dan acap kali menjadikan media digital sebagai referensi dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sayangnya penggunaan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) ibarat “pedang bermata dua” yang bisa membantu pembelajaraan dan memudahkan penerimaan informasi lainnya, tetapi juga berpotensi menguasai pola pikir generasi muda apabila tidak digunakan dengan bijak. (Pikiran Rakyat Koran,  9-12-2025).

 

Masalah Gen Z bukan sekadar teknologi. Kekosongan spiritual dan hampa makna hidup yang dirasakan Gen Z sesungguhnya adalah konsekuensi logis dari adopsi ideologi yang bertentangan dengan fitrah manusia, yaitu pemikiran kufur yang menyebar masif.

 

Di era kebebasan informasi, Gen Z kini berada di persimpangan iman. Mereka dipaksa memilih antara membangun peradaban berdasarkan cahaya akidah atau tenggelam dalam arus sekulerisme yang menawarkan kebahagiaan semu dan berujung pada kerusakan.

 

Jika krisis identitas dan mental health adalah gejala, maka pemikiran kufur adalah penyakitnya. Gen Z dengan akses tanpa batas ke lautan informasi digital, seringnya menelan mentah-mentah ideologi asing yang bertentangan dengan fitrah dan akidah Islam. Hal ini membuat mereka terlena, meninggalkan kewajiban dan perintah pencipta.

 

Islam mengajarkan bahwa makna hidup adalah beribadah kepada Allah. Ketika pemikiran ini dibuang, Gen Z hanya melihat hidup sebagai serangkaian kegiatan acak yang harus diisi dengan kesenangan instan. Inilah yang melahirkan depresi dan kecemasan. Mereka memiliki segalanya secara materi dan informasi, tetapi tidak memiliki kompas spiritual. Hal ini menyebabkan kelelahan batin (burnout) karena mengejar kebahagiaan yang fana dan tanpa definisi yang jelas.

 

Sekulerisme hadir bukan dengan menolak Tuhan sepenuhnya, tetapi hadir untuk memisahkan Tuhan dari rangkaian kehidupan. Sekulerisme menanamkan bahwa Tuhan hanya ada dalam lingkup ibadah. Sedangkan sisanya seperti lingkup sosial, pribadi dan sebagainya hanya didasarkan pada akal manusia semata.

 

Pemahaman ini menciptakan jarak antara Gen Z dengan syariat. Mereka memandang perintah dan larangan agama, seperti menutup aurat atau menjaga interaksi dengan lawan jenis sebagai opsional yang cukup diterapkan di waktu tertentu atau kadang dianggap sebagai belenggu yang mengikat kebebasan. Sekulerisme mendorong individualisme ketat seperti “selflove” yang kebablasan, yang membuat penganutnya tak lagi peduli dengan kondisi umat di sekitarnya.

 

Gen Z menjadi sasaran empuk untuk korban perang ideologi. Mereka berdiri di persimpangan jalan peradaban. Sebagai calon penerus peradaban, Gen Z tidak ditakdirkan untuk tenggelam dalam pusaran sekulerisme. Persimpangan yang mereka hadapi, bukanlah jalan buntu melainkan gerbang menuju kebangkitan. Mencari jalan pulang, yaitu kembali pada fitrah Islam.

 

Islam bukanlah sekedar agama. Islam adalah sebuah ideologi yang memiliki fikrah (pemikiran) yang khas dan thariqah (metode) yang jelas. Memberikan identitas yang kokoh yang menghilangkan kegelisahan (anxiety). Gen Z akan memiliki kebahagiaan internal karena standar hidup mereka jelas: rida Allah, bukan validasi dari media sosial. Islam juga menjawab pertanyaan, “Untuk apa hidup ini?” secara final dan tuntas. Islam akan membina individu dengan akidahnya, yang mengajarkan bahwa hidup memiliki tujuan tertinggi, yaitu beribadah kepada Allah swt.

 

Di sisi lain, memperbaiki Gen Z tidak cukup hanya dengan upaya individu dan keluarga, ia membutuhkan peran negara yang ideologis. Jika Gen Z rusak karena banjir ideologi kufur di media, maka negara wajib bertindak sebagai perisai dan filter.

 

Negara yang mengemban akidah Islam akan memiliki andil besar untuk memfilter internet, media sosial, dan seluruh konten digital. Negara harus menerapkan sensor ketat terhadap propaganda sekularisme, dan segala bentuk pemikiran kufur yang merusak akidah dan moral generasi muda.

 

Negara juga bertanggung jawab menyediakan lingkungan pendidikan yang berbasis akidah Islam. Dengan inilah, Gen Z dapat tumbuh dalam lingkungan yang melindungi fitrah mereka dan memfasilitasi peran mereka sebagai pemimpin peradaban, bukan sebagai konsumen ideologi asing. Wallahualam bissawab. [LM/ry].